Bangsa China pernah dikalahkan Bangsa Barat melalui strategi perang Candu, dimana bangsa China dibuat mendem/mabok candu. Jurus yang serupa yang dilakukan bangsa Arab untuk menikmati/menjajah Indonesia dengan cara membuat bangsa Indonesia mabok agama Islam dan mabok Budaya Arab.
1. Pengantar
Siapa tidak risau melihat kenyataan yang terjadi
di Indonesia. Ada berbagai agama besar dengan umatnya yang besar (terutama
Islam), namun kasih sayang, ketentraman, kesejahteraan, kebenaran dan keadilan
malah nyaris tidak ada. Atau justru sebaliknya, kekerasan, kerusuhan, pembunuhan,
ketidak adilan, kriminalitas, keterbelakangan, kemiskinan, ketidak jujuran,
kemunafikan, korupsi, kolusi, dan berbagai pelanggaran HAM justru marak terjadi
di Indonesia; dan barangkali mencapai index prestasi nomor wahid didunia. Kalau
begini, apanya yang salah? Berikut ini adalah butir-butir analisis yang
mendalam tentang masalah ini.
2. Agama
Penjara Dunia
Agama berbasis kitab suci. Dengan demikian, agama
mempunyai keterbatasan yang cukup mencolok seperti disebutkan dalam kitab-kitab
suci Al-Quran dan Injil. Misal dalam Al-Quran ditandaskan bahwa apabila semua
ajaran Allah SWT dituliskan, maka tinta sebanyak samudera rayapun tidak akan
mencukupi. Demikian pula dengan Injil yang menandaskan apabila semua ajaran Isa
Almasih dituliskan maka dunia beserta isinya pun tidak akan bisa memuat. Dengan
demikian, kedua agama terbesar didunia ini menandaskan bahwa Allah adalah Maha
Besar atau Maha Tak TERBATAS, jadi mana mungkin sesuatu yang Tak Terbatas
(Allah, milyaran tahun) cukup dijelaskan oleh satu orang saja yang sangat
terbatas (para nabi, yang umurnya mencpai k.l. 80 tahun)! Jika Allah itu dari
minus tak terhingga (alpha, tak tahu kapan awalnya) dan berakhir di plus
terhingga (omega, tak tahu kapan berakhirnya), maka seorang manusia yang hidup
di suatu range (daerah) umur yang sangat terbatas (katakan 80 tahun) adalah
tidak mungkin menjelaskan secara tuntas sesuatu yang tak terhingga (milyaran
tahun)! Bumi dan universe sudah milyaran tahun, dan masih milyaran tahun lagi,
maka seribu, sejuta atau bahkan semilyar nabi disertai ilmuwan tidak akan
pernah selesai mempelajari universe dan Tuhan! Jadi, benarlah ayat-ayat diatas,
ke "Mahabesaran Tuhan" tidak mungkin cukup diwadahi dalam buku
setebal/setipis kitab suci. Ke "Mahabesaran Tuhan" juga tercermin
pada luas dan dalamnya ilmu pengetahuan. Ilmuwan di negara modern sudah tidak
lagi mencari hanya agama yang terbatas, melainkan selalu terus mencari Tuhan
beserta rahasiaNya (ilmu pengetahuan) yang tak terbatas namun sangat indah
untuk terus menerus dieksplorasi. Manusia modern sepakat bahwa agama adalah
penjara bagi kemanusiaan di dunia, juga penjara bagi Tuhan.
3. Definisi
Mabok Agama
Definisi mabok atau mendem (Jawa) adalah keadaan
dimana seseorang mengkonsumsi/memahami tentang sesuatu/paham yang melebihi
batas normal/kewajaran; orang yang mendem menjadi seperti: tidak normal tingkah
lakunya, tidak wajar cara berpikirnya (bloon, tidak cerdas), dan sulit diajak
berdiskusi/berdialog. Contoh mabok adalah mabok minuman keras dan mendem gadung
(di Jawa). Analog definisi ini, maka mabok agama dapat didefinsikan sebagai
orang (atau kumpulan orang) yang mengkonsumsi/memahami agama secara berlebihan,
melupakan keterbatasan agama, melupakan penyalah gunaan agama yang lumrah
terjadi (terutama politisasi agama), dan menganggap bahwa semua persoalan dunia
dapat diatasi hanya dengan agama saja.
4. Bahaya Mabok Agama
Bahaya mabuk agama bisa menjadikan agama sebagai sebuah bencana dalam
bukunya Charles Kimbal yaitu WHEN RELIGION BECOME EVIL dijabarkan 6 tanda agama
bisa menjadi bahaya
1. Klaim kebenaran mutlak
2. Kepatuhan buta
3. Bercita - cita membangun zaman yang ideal
4. Tujuan menghalalkan segala cara
5. Menyerukan perang suci
6. Iman yang inklusif
Lebih jauh lagi berikut versi baru dari ciri-ciri beragama yang
dalam tanda kutip bisa dikategorikan sesat:
1. Mempercayai dan mengikuti kepercayaan tokoh agama kondang
secara membabi buta
3. Meyakini bahwa petunjuk Tuhan hanya terdapat di kitab suci
4. Mengingkari petunjuk Tuhan yg terkandung di alam semesta
5. Melakukan penafsiran yg tidak filosofis dan/atau tidak ilmiah
6. Mengingkari kedudukan filsafat & sains sebagai sumber
petunjuk Tuhan
7. Melecehkan dan/atau merendahkan orang2 yg berkepercayaan lain
8. Mengingkari terbukanya pintu surga bagi semua orang yg berakal
sehat dan ijtihad
9. Menetapkan cara ibadah tertentu seraya melarang cara ibadah
lain
10. Memandang sesat (kafir) sesama manusia yang
tidak sefaham
11. Dan yang lebih lagi: menganggap tidak hanya manusia yang
beragama, namun Tuhan juga beragama; kemudian mengakui bahwa agama Tuhan yg
paling benar adalah hanya agamanya sendiri, agama yg lain tidak ada yg benar.
4. Agama dan Budi Pekerti
Semua negara rupa-rupanya harus mengalami mabok
agama dulu. Negara modern seperti Eropa baru selesai mabok agama sekitar abad
19 (seratus tahun yl.). Ketika agama Kristen masih "tidur lelap",
namun mendominasi Eropa, maka Eropa mengalami jaman kegelapan dan kemunduran
keilmuan luar biasa, baru setelah terjadi revolusi dalam penalaran (demokrasi
dan logika, renaisance), Eropa bagaikan lahir kembali. Sekarang, kaum
cerdas-cendekia-ilmuwan Eropa sudah tidak tertarik lagi hanya pada agama saja,
namun mereka lebih tertarik untuk mengetahui rahasia Tuhan secara lebih
dalam-luas-tuntas melalui science, teknologi dan berbagai agama/kepercayaan
(jadi tidak terbatas pada satu agama saja). Mereka sudah pada tingkatan
kesadaran (kita belum) bahwa sungguh amat sangat bodoh dan berdosa bila
membatasi Tuhan yang Maha Takterbatas hanya pada satu buku tipis, satu nabi,
dan satu agama saja. Kesadaran di Eropa ini juga dialami oleh intelektual di
negara modern yang lain (Jepang, Korea, Taiwan, Singapore, Australia, Canada,
USA, Rusia, dst.). Saat ini, di negara modern, agama sudah tidak boleh lagi
diajarkan di sekolah negeri (dari SD sampai universitas), mengingat agama itu
bersifat sangat personal/privasi, sedangkan yang lebih penting untuk diajarkan
adalah budi pekerti. Agama dianggap hubungan vertikal antara manusia dengan
Tuhannya yang bersifat sangat privasi, sedangkan budi pekerti bersifat
horisontal antara manusia dengan: sesama manusia, alam, binatang, tumbuhan dan
iklim.
5. STRATEGI
ISLAM MENGUASAI INDONESIA DENGAN JURUS MABOK AGAMA
Henry Kisinger, mantan
Menteri Luar Negeri USA yang dijuluki si Kancil, mengatakan dalil kemenangan
dalam pertarungan politik:”Siapa yang menguasai informasi yang akan menang”.
Rupanya hal ini dipraktekan oleh para pemuja Kilafah pecinta negara Arab
(melebihi cintanya pada NKRI). Indonesia sebagai negara Islam terbesar di dunia
mempunyai nilai yang sangat istimewa bagi Negara Arab asal agama Islam, minimal
dari sisi sumber devisa yang besar sebagai hasil bisnisisasi agama dan Indonesia
dipakai sebagai contoh kemodernan negara Islam (mampu berdemokrasi). Untuk
melaksanakan strategi Henry Kisinger,
maka bangsa Indonesia agar tidak dapat lepas dari cengkeraman Islam,
maka cara terbaik adalah mengurung “akal sehat” bangsa Indonesia melalui
strategi Memabokan Bangsa Indonesia. Bangsa China pernah dikalahkan Bangsa
Barat melalui perang Candu, dimana bangsa China dibuat mendem/mabok candu.
Jurus membuat mabok agama Islam untuk mengerjain Indonesia antara lain adalah:
a.
Strategi
Brain Washing di Pendidikan Dasar dan Menengah: Islamisasi dan Arabisasi di
sekolah Islam (pondok & madrasah), dari TK hingga SMU (minimal 10 tahun),
ribuan ayat Al Qouran disuruh hafal, jutaan jam belajar dihamburkan untuk hal
yang non sense. Mana ada ortu di negara modern tega menitipkan dan melepas
anaknya untuk dididik seperti itu? Kurikulum pendidikan di Indonesia dibanyaki
muatan pendidikan agama dari TK hingga universitas. Child labor (kerja dibawah
umur) melanggar kemanusiaan (ILO), Child Brain Washing tentunya sama saja,
melanggar hak azasi manusia, yang satu: jasmani/pisik, yang lain otak/pikiran;
sama2 mengerikan. Joke dari para ahli pendidikan nasional (cucu Ki Hajar
Dewantoro): Bagaikan APBN untuk mendanai pendidikan berbasis kurikulum Arab
Saudi, dan secara perlahan mematikan pendidikan berbasis perjuangan nasional
seperti Taman Siswa. Pondok dan pesantren tumbuh dan berkembang bagaikan jamur
cendawan yang siap jadi parasit dan menelan Indonesia secara perlahan seperti
coup de tat merangkak ala kasus Prabu Brawijaya.
b. Islamisasi Pengetahuan: Hoax Ilmu pengetahuan juga
dimunculkan, seperti Borobudur, Diponegoro, Brawijaya, Astronut dengar azan,
Teori big bang, teori nuklir, dst. Rasanya, jurus taqiya meniadakan rasa malu
“memalsukan ilmu pengetahuan”. Kasus abad pencerahan era kegelapan gereja
seolah berulang kembali, kalau dulu ilmuwan2 penemu (Galileo, Darwin, dst)
dikucilkan gereja karena dianggap bertentangan dengan kitab suci Kristen, kini
dalam kasus Islam jurtru sebalikanya, ilmuwan didorong dan diminta menulis buku
atau paper ilmiah yang sumbernya adalah kitab suci Al Qouran. Dijaman kegelapan
Eropa, ketika agama mulai ditinggalkan oleh para cerdik-cendekia akibat
kebekuan dan kekakuannya, beberapa oknum pemuka agama mencoba mengkelabui
umatnya dengan menandaskan bahwa kitab suci itu serba bisa-serba pintar,
misalnya saja kitab suci bisa menjelaskan fisika, biologi, ekonomi,
perbintangan, nuklir, komputer, dst. Hal ini perlu direkayasa demi
menyelamatkan agama dari bahaya ditinggalkan oleh para penganutnya. Para
ilmuwan busuk lalu diminta mengarang buku-buku yang isinya, sebenarnya
mengada-ada serta mereka-reka, tentang keterkaitan fisika, biologi, ekonomi,
perbintangan, nuklir, komputer, dst., dengan kitab suci; jadi direkayasa bahwa
seolah-olah kitab suci itu maha bisa, maha kuasa, dan maha luar biasa (tanpa
pernah membahas keterbatasan kitab suci). Syukurlah masyarakat cerdik-cendekia
Eropa saat itu tidak terpancing. Mereka tetap menyadari bahwa kitab suci
ditulis untuk menjelaskan adanya kehidupan yang jauh lebih baik setelah mati
(surga) beserta cara untuk dapat sampai kesana (surga), jadi kitab suci ditulis
bukan untuk menjelaskan fisika, biologi, ekonomi, perbintangan, nuklir,
komputer, dst. Mereka juga belajar dari kebijaksanaan ilmuwan top para pemenang
hadiah Nobel, yang tidak pernah mengkaitkan kepakaran keilmuannya dengan kitab
suci! Mereka tidak terpancing dengan iklan kecap nomor 1 dari oknum pemuka
agama yang menyesatkan, membodohi serta membuat bodoh umat beragama! Saat ini,
di toko-toko buku di Indonesia, banyak dijumpai buku-buku semacam diatas yang
menggambarkan kitab suci itu serba bisa-serba pintar, misalnya saja kitab suci
bisa menjelaskan fisika, biologi, ekonomi, perbintangan, nuklir, komputer, dst.
Rupanya ada usaha Islamisasi ilmu pengetahuan. Pemimpin agama berkonspirasi
dengan ilmuwan untuk membodohi umatnya. Sungguh sangat menyesatkan nalar,
apabila ada siswa yang belajar ilmu fisika atau ekonomi dari kitab suci
Alqouran.
c.
Bombardir
Berita Hoax di Internet: Berbagai cerita, teori, iklan dan dakwah yang tidak
benar di buat dan diterbitkan di berbagai mass media, sehingga berita dan fakta
yang benar tertimbun sampah taqiya rekayasa para Muslim. Search di Google menjadi sulit karena
tumpukan hoax buatan Muslim, misalnya seseorang mencari di google dengan
keyword “Kesalahan Al Qouran”, maka hasilnya akan didapatkan pada halaman ke 20
setelah mengklik tombol next, next, next, dst. Itu kalau sabar, kalau tidak, ya
berhenti di timbunan berita hoax karya para Muslim berbasis taqiya, pencarian
gagal ditengah jalan.
d. Bombardir Iklan apapun yang diserempetkan dengan Agama Islam.
Setiap buka YouTube Kristen ditempeli iklan Islam.
e. Brain Washing Terselubung
-
Speaker
Masjid: suara speaker azan masjid dan ceramah ustadz yang tidak kenal waktu
yang memekakan telinga sampai sejauh k.l 0,5 km;
-
Inkulturasi
budaya: semua orang, apapun agamanya, disalami dgn paksa memakai bhs Arab
“asalam mulaikum”; kata2 Arab menggantikan bahasa Indonesia dan lokal,
misalnya: marwadah, sakinah, dulkidah; adanya serambi Mekah di Aceh dan Padang
dst.
-
Manipulasi
histori/cerita berbasis taqiya: Diponegoro kalifah Turki, Borobudur didirikan
nabi Islam, Astronaut dengar suara Azan, dst.
-
Orang non
Muslim “dipaksa” menghormati puasa, dan mengikuti aturan2 tertentu dalam Islam
(halal haram) dan cara berpakaian di sekolah dan kantor. Kejujuran kurang
dipentingkan karena bohong diperbolehkan (taqiya).
f.
Bombardir “ruang umum” seperti TV, Radio dan
surat kabar secara sengaja dan yang tidak kenal waktu. Demikian pula, mass
media seperti majalah, spanduk, pamlet, selebaran, dan koran dipenuhi oleh
berita/renungan keagamaan. Sinetron kita juga banyak yang bernuansa mistik
campur agamis. Lagu-lagu di televisi dan radio juga banyak mengandung pesan-pesan
agama. Yang sangat menyolok mata adalah cara mengkover hari raya Lebaran selama
hampir 40 hari, dimulai dari awal puasa, mudik hari H Min, saat Lebaran, mudik
hari H plus, dan usai lebaran untuk masuk kerja, sungguh luar biasa. Apakah
pemberitaan semacam ini bermanfaat? Apakah tidak menghambur-hamburkan waktu,
biaya, dan tenaga? Coba bayangkan bila cara mengcover berita pemberantasan KKN
semacam hari Lebaran (full selama 40 hari), dijamin Indonesia cepat bersih!
g. Kegiatan Spiritual di Masyarakat: upacara seremonial
keagamaan Islam bagaikan tidak pernah berhenti, ditingkat RT pun sedemikian
intens. Membuat masyarakat religion alcoholic dan mabok agama. Sebaliknya,
bangsa Jepang dan Korea Work Alcoholic!
h. Strategi Politik: Terus berjuang untuk menduduki jabatan
politik tertingi (RI 1) dan Gubernur serta Lembaga Tinggi lainnya dengan
menggunakan bendera dan azas Islam (jurus pengkafiran), contoh korban nyata
adalah : Gubernur DKI Ahok. Jaringan politik Islam berskala nasional dan
internasional terasa ada, hal ini dapat dengan mudah dilacak melalui aliran
dana di bank. Bagi yang berminat ingin tahu “Raksasa Finansial di belakang
layar” gerakan Islam sedunia, cukup ketikan di Google atau YouTube kata kunci:
who financing radical Islam around the world”.
i.
Menggunakan UU Penodaan Agama untuk merintangi
tulisan kritis terhadap agama Arab, dan menggunakan konsep Islam Pobhia untuk
melapor ke Google bagi tulisan yang kritis terhadap Islam agar tidak dimuat di
Google.
6. Work Alcoholic Vs Religion Alcoholic
Jika membandingkan dengan negara modern, hal
sebaliknyalah yang terjadi, keilmuan, politik,dan bisnis sangat mendominasi,
agama sangat minim karena agama dianggap urusan pribadi (privasi). Masyarakat
Jepang dikenal sebagai kecanduan kerja, tiada hari tanpa kerja, istilah
kerennya: work alcoholic; sedangkan bagi masyarakat Indonesia, tiada hari tanpa
dibumbui agama, mungkin istilah kerennya: religion alcoholic. Di negara modern
ada falsafah time is money, di kita agak lain: time is religion! Ada iklan Coca
Cola begini: Kapan saja, dimana saja, minumlah Coca Cola; di masyarakat kita
seolah-olah juga punya iklan yang mirip, yaitu: Kapan saja, dimana saja, laksanakan
ibadah dan upacara agama! Dari pengamatan kegiatan keseharian ini, dapat
disimpulkan bahwa bangsa Indonesia sedang mabok/mendem agama! Namun perlu
diketahui, bahwa semua negara yang telah berada ditingkatan modern dipastikan
pernah mengalami jaman kerajaan, diktator, semi demokratis, demokratis dan
pasti juga pernah mengalami mabok agama. Cuman sebaiknya kita dapat belajar
dari sejarah, agar mabok agama tidak berkepanjangan dan tidak mengulangi
kesalahan yang telah dibuat oleh mereka itu.
7. Penutup
Kedunguan manusia telah mengubah ajaran suci
Tuhan melalui para nabi justru menjadi belenggu/pembatas bagi Tuhan dan umat
beragama. Dan sejarah juga sering menjadi saksi bagaimana penguasa politik,
militer, birokrat, ilmuwan, ekonom maupun pemuka agama bahu-membahu mendungukan
manusia agar dapat dikuasai oleh ambisi-ambisi mereka. Pendunguan manusia ini
antara lain dapat dicapai dengan mengkondisikan agar masyarakatnya mabok agama.
Para oknum agamawan telah menjadikan Tuhan bersifat statis-kaku-beku;
sebaliknya para ilmuwan selalu ingin membebaskan sifat statis-kaku-beku tadi
menjadi dinamis-fleksibel-uptodate.
Pakar budaya dan agama Internasional menjuluki Islam
sebagai agama five in one (5 in 1) – islamisasi, Arabisasi, politisasi, bisnisisasi,
pembodohan & penjajahan budaya. Sebagai organisasi politik Islam akan
selalu dinamis untuk melakukan manuver yang mengerikan dan akan siap menelan
mangsanya dengan pelan2 seperti kasus Islam menelan Prabu Brawijaya.
Kita yakin bahwa dalang mabok agama ini ada pada
tingkatan lokal, regional, nasional, bahkan internasional. Mereka ini mempunyai
jaringan yang rapi sekali bagaikan jaringan multi-level-marketing (MLM), mereka
juga mempunyai dana yang besarnya trilyunan rupiah. Negara asing mempunyai
kepentingan untuk menjadi penikmat utama kekayaan alam Indonesia serta ingin
menjadikan Indonesia sebagai negara boneka. Mengingat semua fakta diatas,
diharapkan bangsa Indonesia slalu siap bertempur menghadapi ideologi asing
(dari Arab) yang ingin merobohkan negara NKRI dan menggantikannya dengan sistim
negara Kalifah berbasis Syariah yang berbudaya Arab yang sudah terbukti
ketinggalan jaman dan ditolak oleh banyak cendekiawan Arab melalui gerakan
nasional/internasional yang disebut Arab Spring. Semoga bangsa Indonesia segera
waras-wiris dan kembali berakal sehat.
Rahayu.
Ki Sambang Jalan, Kejawen, Anggota LSM CBD.
Pustaka berbagai tulisan kritis cerdas ada di CERDAS
BIJAKSANA BERKAT INTERNET, di https://bijaksana555.blogspot.com/
Tidak ada komentar:
Posting Komentar