ITB memang patut diacungi jempol, sebab alumninya banyak menjadi pelopor revolusi dan reformasi. Bung Karno sudah dikenal seluruh dunia dengan gagasan kemerdekaan Indonesia dan gagasan menentang NEKOLIM dengan poros Asia Afrika. Kemudian muncul alumni ITB yang lain , yang juga patut diacungi jempol, yaitu Ir. Darmawan yang mengajak mengusir Islam dari bumi Nusantara demi menyelamatkan Indonesia dari kegelapan pikiran dan timbulnya pencerahan pemikiran bangsa. Video Darmawan berjudul “Buang Islam segera dari Indonesia”, di https://www.youtube.com/watch?v=DeF2Vyit9UE dan
Perlu dimengerti bahwa dunia sedang mengalami benturan antar
peradaban, khususnya Budaya Pemikiran Dunia Barat melawan Budaya Pemikiran
Timur Tengah, atau singkatnya Barat lawan Islam. Dalam tulisannya tentang The
Clash Of Civilizations (), Huntington mengajukan tesis dalam kalimat sangat
tegas: ”Menurut Hipotesis saya,,. “sumber utama konflik dunia baru tidak lagi
ideologi atau ekonomi, tetapi budaya”.
Perang Dunia Digital , akal sehat dunia saat ini (2021) sedang
memerangi Islam, bukan melawan Muslim. Baik Muslim yang baik, yang setengah
baik, yang kurang baik dan yang radikal mempunyai sumber bacaan yang sama yaitu
Al Qouran, nabi yang sama yaitu Muhammad, Tuhan yang sama yaitu Allah, dan
bahasa yang sama untuk dibumi dan disurga yaitu bahasa Arab, yang semuanya ini
khas/unik Arab – tidak universal (Islam adalah Cult bukan agama). Dunia
menyayangi Muslim sebagai saudara sesama manusia namun dunia tidak ingin
saudaranya (Muslim) terperangkap dalam kegelapan Islam, maka operasi
penyelamatan Muslim besar-besaran lewat internet yang sedang berlangsung perlu
digalakan dan ditingkatkan sampai Dajal dikalahkan dan Muslim yang baik diselamatkan.
Muslim yang baik adalah Muslim yang tidak paham isi Al Qouran yang sebenarnya
karena tidak kritis dan tidak menguasai bahasa Arab. Menyelamatkan Muslim dari
Dajal juga berarti menyelamatkan Indonesia dari kegelapan, maka semua warga non
Islam (yang dkafirkan dan dinajiskan) dihimbau ikut berpartisipasi secara
aktif! Himbauan secara tegas dinyatakan insinyur Mesin alumni ITB, Darmawan,
dengan video berjudul “Buang Islam segera dari Indonesia”, di https://www.youtube.com/watch?v=DeF2Vyit9UE
Muncul Hipothesa: Islam
merupakan beban berat bangsa Indonesia karena banyak menghabiskan resources
negara seperti: waktu, tenaga, biaya, dan pikiran. Hipothesa ini muncul akibat
adanya fakta sebagai berikut:
A)
Keamanan Negara: Islam
senantiasa mengancam perpecahan bangsa, sejak jaman prabu Brawijaya, Piagam
Jakarta, Kahar Muzakar, DI, TII, NII, G30S (pembantaian jutaan manusia tak
bersalah), Tragedi Mei 1998 (anti Tionghoa), HTI, FPI, ISIS, Piagam Jakarta,
Bom Borobudur, Tragedi Poso, Tragedi Ambon, berbagai tragedi bom di gereja2,
rangkaian teroris seperti Nurdin Top – Ashari - Bom Bali – dst (Lihat
Wikipedia: cita2 Khilafah), Basyir, FPI, Riziq, Gerakan 212, KAMI, dst. Dan
kedepan masih banyak lagi yang akan terjadi.
B)
Mengakibatkan rasisme:
Kost Muslim, Makam Muslim, Rumah Sakit Muslim, dst. iii) Islam juga
mengakibatkan melemahnya budi pekerti dan budaya sopan santun, serta mendorong
munculnya budaya kekerasan, misalnya: Suara hingar bingar masjid, terutama jam
4 pagi (saat manusia tidur nyenyak) dan jam 6 sore saat belajar anak2; Memberi
salam keagamaan Islam Arab “Asalam ….” kepada siapapun tanpa pandang bulu agama
orang yang disapa. Tayangan perilaku kekerasan, kekejaman, dan kerusuhan ala
FPI, FPR, Hisbollah, dst. iv) Organisasi ILO melarang anak dibawah umur (TK,
sekolah dasar dan SMP) untuk bekerja mencari uang, karena usia & jasmani
belum memungkinkan (kerja paksa phisik), namun anak2 di sekolah Islam
dipaksakan untuk kerja paksa “otak” menghafal ribuan ayat Al Quran dalam bahasa
Arab selama 10 th semasa SD sampai dengan SMP (di Pondok/Madrasah), apakah ini
juga tidak melanggar hak azasi kanak2? Anak2 sudah diajarkan SARA dan
mengkafirkan non Islam sejak dini! Sungguh parah akal sehat para PENDIDIK
bergelar professor dan doktor Indonesia, kurikulum pendidikan yang berbau
negara Arab dan penuh Islamisasi dan Arabisasi direstui dan dibiayai (bantuan)
dengan APBN Indonesia! Dan sungguh memprihatinkan akal sehat banyak orang tua
Indonesia yang dengan sadar dan rela menitipkan anaknya di pondok
pesantren/madrasah untuk dicuci otak dengan materi Islamisasi dan Arabisasi
yang kolot dan ketinggalan jaman!
Musuh akal sehat dan nalar
dunia modern saat ini adalah pemikiran Muhammad yang dianggap sangat kolot,
tertinggal dan membebani dunia, jadi bukan memusuhi Muslim. Harap dibedakan
antara Muslim yang baik dan Islam. Muslim yang baik, setengah baik, kurang baik
dan Muslim radikal mempunyai sumber pengetahuan yang sama yaitu Al Qouran
beserta nabi Muhammad. Muslim yang baik adalah manusia yang berbudi pekerti
normal, tidak mengenal Islam secara benar dan detil karena keterbatasan
penguasaan bahasa Arab, kurang kritis, dan kemalasan belajar, serta tidak bersedia
mengikuti teladan Muhammad. Muslim radikal adalah Muslim yang menyontoh mentah-mentah apa yang
dilakukan Muhammad. Semoga tulisan ini menjadi bahan diskusi diseluruh
Indonesia dan dunia.
Sekian dulu, mohon tulisan ini disebar luaskan agar masyarakat waspada
terhadap virus Mekah, harap laporkan segera pada SATGAS COVID MEKAH bila
tetangga anda mempunyai gejala terkena virus seperti diatas. Semoga para
begawan Kejawen dan tokoh Religius Non Islam dapat menemukan obat Virus Mekah
ini dengan segera, agar resesi akal sehat bangsa sgra berakhir. Rahayu.
Ki Sabdo Palon Yr, Kejawen (Tulisan ini tanggapan atas
tulisan/komentar ki Hajarsapunendro. Ditulis mulai tgl 30 September agar tidak
lupa tragedi terbesar kemanusiaan, tinta hitam pekat bagi Islam)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar