Sumber:
https://islamopoiki.wordpress.com/2010/01/03/kekuatan-di-belakang-muhammad/#more-11
Kepribadian
Muhamad merupakan teka-teki. Bahkan mereka yang tidak percaya dia utusan Tuhan
dan dapat membuktikan bahwa pribadi dan perbuatannya bukan perbuatan khas nabi,
mengakui bahwa Muhammad punya kepribadian yang sangat mempesona dan karismatik.
Ia mampu mempengaruhi, mempesona bahkan menyihir orang2 di sekelilingnya sampai
mereka bersedia untuk membunuh baginya.
Apa beda Muhamad dengan orang lain? Dia jenius atau monster?
Dia orang suci atau setan? Baik mereka yang pro maupun kontra Muhamad setuju
bahwa ia bukanlah orang rata2. Apa yang membuatnya berbeda? Bagaimana sampai
dia dapat membuat orang bertekad bulat baginya, bercita-cita sedemikian besar,
berpikir sedemikian muluk dan menjadi begitu kuat dalam waktu yang sangat
singkat?
Apa kekuatan di belakangnya?
Tiap hari dimanapun, ada saja
orang yang mengaku utusan Tuhan dan ada saja orang yang percaya. Orang2 seperti
ini mau saja disuruh membunuh orang2 tak berdosa seperti kasus di Jepang dengan
sekte Kebenaran Mutlak (Supreme Truth) atau mau melakukan bunuh diri massal di
kasus sekte Amerika yang bernama Gerbang Surga (Heaven’s Gate). Apa yang
membuat orang mengaku jadi utusan Tuhan ? Uang? Tentu saja tidak!
Apa yang diinginkan pemimpin2 palsu ini adalah rasa hormat,
kekaguman dan kekuasaan. Orang2 ini SAKIT JIWA. Mereka adalah narsisis (orang
yang amat mencintai diri sendiri sampai taraf tak wajar). Seorang narsisis
sangat membutuhkan pengakuan. Narsisis biasanya keras kepala, manipulatif dan
haus kekuasaan. Tapi mereka juga cerdas, licik dan punya banyak akal. Narsisis
yang paling terkenal adalah Jenghis Khan, Napoleon, Hitler, Stalin, Mussolini,
Polpot, Mao, Saddam Hussein dan Idi Amin. Narsisis adalah orang yang cerdas
tapi terganggu kejiwaannya. Mereka hanya melihat pengesahan kekuasaannya dan
untuk mencapainya ini, mereka akan melakukan apapun. Mereka bohong dengan cara
yang sangat meyakinkan. Mereka membangkitkan rasa percaya diri dan tampak amat
sangat percaya diri. Tapi ini semua merupakan tudung untuk menyembunyikan
perasaan tak tenteram dan ketakutan dalam diri sendiri.
Kelainan emosional ini terbentuk di masa kanak2. Hal serupa yang
dialami para diktator diatas adalah masa kecil yang sukar dan tanpa kasih
sayang. Muhamad adalah yatim piatu. Di jaman itu, anak yatim piatu tidak punya
banyak martabat. Kesadaran akan keadaan dirinya ini semestinya mengakibatkan
dia merasa tidak tenteram dan tidak berarti. Ketika Muhamad lahir, dia
diserahkan kepada wali ibunya yang bernama Thueiba (dari suku Bedouin) yang
mengurusnya selama beberapa bulan. (Katib al Waquidi hal. 20).
Ibu kandung Muhamad, Amina, seorang janda dan tidak punya anak
lain. Tidak diketahui alasan Amina menyerahkan anak satu2nya kepada Thueiba dan
tidak mau mengurus bayinya sendiri. Tidak masuk akal bagi seorang ibu yang
membujang untuk menyerahkan anaknya yang tunggal dan memilih hidup sebatang
kara. Tradisi tidak pernah lebih kuat daripada naluri keibuan. Jika Amina punya
banyak anak, ini baru masuk akal. Tapi Muhamad adalah anak satu2nya. Sukar
dimengerti mengapa dia tidak mau mengurus bayinya sendiri dan malah
menyerahkannya ke seorang wanita Bedouin untuk membesarkannya. Apakah Amina
benar2 mencintai Muhamad? Apakah dia percaya punya bayi mengurangi
kesempatannya untuk kawin lagi? Terlalu sedikit informasi yang kita dapat
tentang Amina untuk benar2 mengerti dia. Tapi satu hal sudah jelas adalah
Muhamad merasa sangat sakit hati pada ibunya. Ini bisa kita lihat nanti.
Muhamad yang masih bayi diurus oleh Thueiba. Tidak diketahui
tepatnya berapa lama tapi mestinya beberapa bulan karena Muhamad selalu mengirim
hadiah2 padanya saat sudah menjadi kaya. Tapi entah kenapa Muhamad diambil dari
Thueiba dan diserahkan kepada Halima. Di bulan2 pertama dalam hidupnya, seorang
bayi tidak dapat membedakan identitas diri sendiri dengan identitas ibunya. Tentunya
Muhamad tadinya mengira bahwa Thueiba adalah ibu kandungnya. Perubahan “ibu”
dari Thueiba kepada Halima mestinya sangat mengagetkannya. Psykologi modern
mengerti akibat sebuah perubahan begitu besar pada kesehatan emosi anak kecil,
tapi orang2 Arab yang kurang berpengetahuan ini tidak tahu apa2 tentang hal
ini.
Lima tahun berlalu, Muhamad tumbuh dengan keluarga lain di tengah
padang pasir dan mengunjungi ibu kandungnya dua tahun sekali. Dia sadar bahwa
dia bukan anak kandung dalam keluarga tempat dia tinggal tapi dia tidak
mengerti kebiasaan orang2 dewasa dan heran mengapa ibunya menolaknya. Anak ini
tumbuh tanpa rasa kasih sayang dan menunjukkan tingkah laku aneh sampai2
pengasuhnya dan ibu kandungnya mengira dia kerasukan setan.
W.M. Watt menerjemahkan biografi Muhamad yang ditulis oleh Ibn
Ishaq (hal. 36). Dia mengutip kisah aneh yang diceritakan Muhamad yang membuat
orang bertanya2 tentang kewarasannya.
“…dua orang berbaju putih datang padaku membawa baskom emas penuh
salju. Mereka membawaku dan membelah tubuhku, lalu mereka mengambil jantungku
dan membelahnya dan mengeluarkan gumpalan darah hitam yang kemudian mereka
buang. Lalu mereka mencuci jantungku dan tubuhku dengan salju sampai bersih.”
Keadaan mental sang Nabi sudah jadi masalah sejak dia kecil, dan
ini sangat menggelisahkan pengasuhnya yang mengembalikannya kepada ibu
kandungnya. Ini adalah kisah yang diceritakan oleh Halima, yang berhubungan
dengan terjemahan Guillaume atas tulisan Ibn Ishaq, hal. 72:
“Ayah teman Muhamad berkata padaku, “Aku khawatir anak ini
menderita serangan jantung, maka kembalikan dia pada keluarganya sebelum
terjadi apa2. … Ibu Muhamad bertanya padaku apa yang terjadi dan terus tanya
sampai aku menjawab. Waktu dia bertanya apakah aku khawatir dia (Muhamad)
kerasukan setan, maka kujawab iya.”
Wajar kalau anak2 berkhayal melihat monster di bawah tempat tidur
mereka, dan berkhayal punya teman gaib, tapi kasus Muhamad tampaknya sangat
mengkhawatirkan dan sangat aneh sehingga menakutkan ibunya sampai2 dia
menyangka anaknya kemasukan setan.
Kenyataan bahwa pengasuhnya juga mengira hal yang sama merupakan bukti bahwa
dia tidak stabil kondisi jiwanya sejak masih anak2.
Bagi masyarakat primitif, orang2 yang sakit jiwa dikatakan
“kerasukan setan”. Di jaman sekarang kebanyakan kasus “kerasukan setan” dirawat
dan disembuhkan dengan obat2an. Bukannya tidak mungkin jika Prozac (obat anti
depresi) ditemukan 1.400 tahun yang lalu, mungkin dunia tidak harus berurusan
dengan Islam dan jutaan nyawa tidak perlu dikorbankan di mezbah Allah.
Sekali lagi Muhamad dipisahkan dari satu2nya keluarga yang dia
kenal dan di usia lima tahun dia dikembalikan ke ibu kandungnya. Pada saat dia
mulai terbiasa dengan ibunya, ibunya kemudian meninggal dunia. Muhamad tidak
pernah memaafkan ibunya yang menyerahkannya pada saat dia masih bayi dan
meninggalkannya seorang diri pada saat dia masih sangat membutuhkan kasih
sayang ibu. Mungkin juga rasa pahit dalam hatinya akan ibunya adalah karena dia
tidak merasa dicintai olehnya.
Dalam perjalanannya dari Medina ke Hodeibia, setelah dia
menaklukkan Mekah, dia mengunjungi kuburan ibunya, dan menangis di situ.
Pengikut2nya juga ikut menangis. Mereka bertanya padanya dan dia menjawab, …
“Ini kuburan ibuku: Tuhan mengijinkanku berziarah ke sini. Dan aku minta ijin
untuk berdoa baginya, tapi permintaanku ditolak. Maka aku memanggil ibuku untuk
mengingatnya, dan teringat kenangan lembut akan dia, dan aku menangis.” [Katib
Al Waquidi, hal. 21].
Mengapa Tuhan tidak mengijinkan Muhamad berdoa bagi ibunya? Jelas
tampak bahwa orang ini tidak dapat memaafkan ibunya, bahkan setelah setengah
abad ibunya meninggal. Dia punya luka sakit hati yang dalam yang tidak pernah
sembuh.
Setelah Amina meninggal dunia, Muhamad diasuh oleh kakeknya, Abdul
Muttalib, yang mencurahkan segala kasih sayangnya karena Muhamad adalah
satu2nya yang sisa dari anaknya yang sudah meninggal, Abdullah. Tapi dua tahun
kemudian, sang kakek, Abdul Muttalib juga meninggal dunia.
Anak yatim piatu ini merasa sangat getir dengan kepergian kakeknya
yang tercinta; sewaktu dia mengikuti rombongan jenazah di perkuburan Hajun, dia
tampak menangis, dan ketika dia tumbuh besar, dia menyimpan kenangan kematian
kakeknya.
Muhamad lalu diurus oleh pamannya, Abu Talib yang tidak begitu
kaya. Abu Talib dengan setia melaksanakan tugasnya. “Kasih sayangnya pada anak
muda ini sama besarnya dengan kasih sayang Abdul Muttalib”, tulis Muir.
“Dia mempersilakan Muhamad tidur di ranjangnya, makan di sisinya,
dan pergi bersamanya kapanpun dia pergi ke luar kota. Dan perlakuan lembut ini
terus dilakukannya sampai Muhamad muncul dari ketidakberdayaan di masa kecil.”
Kedekatan Muhamad pada pamannya ini menunjukkan bagaimana Muhamad
selalu takut kehilangan orang2 yang dikasihinya. Anak laki ini menderita
beberapa pukulan berat dalam masa kecilnya. Emosinya luka parah. Ini tampak di
kejadian kala dia berusia 12 tahun.
Pada saat itu Abu Talib hendak pergi ke Syria untuk keperluan
bisnis. Dia tidak berencana untuk membawa Muhamad serta. “Tapi ketika kafilah
siap berangkat, dan Abu Talib sudah mau naik untanya, keponakannya (Muhamad)
takut ditinggal sendiri lagi, dan dia merangkul pamannya erat2. Abu Talib
terharu dan dia membawa anak itu pergi dengannya.” (Muir p. 33)
Muhamad dengan lembut mengingat kesepiannya dan hari2nya sewaktu
jadi anak yatim. Di Surah 93:6 ditulis “Tidakkah Dia menemukan seorang anak
yatim dan memberinya persinggahan (dan pemeliharaan)?”
Keadaan psikologis Muhamad ini sangat menarik dan saya akan
menjabarkannya dalam buku saya yang akan terbit. Tapi sering terbukti bahwa
narsisis adalah orang2 yang sangat sukses. Mereka punya dorongan yang luar
biasa untuk memperoleh kekuasaan guna mengkompensasi rasa kesepian dan kurang
sayang itu.
Dr. Sam Vaknin adalah seorang psikolog dan ahli dalam bidang
narsisisme. Dia menulis:
Seorang yang narsisis sangatlah ahli dalam berpura-pura. Dia seorang yang
mempesona, aktor berbakat, tukang sulap, dan sutradara bagi dirinya sendiri dan
orang2 di sekitarnya. Sangatlah sukar untuk melihat keaslian dia pada waktu
pertama kali berjumpa.
Tapi ada beberapa tanda yang bisa dikenal:
1. menunjukkan sikap sombong
2. punya kecenderungan untuk mengejek, mengritik dan merendahkan
orang lain
3. punya kecenderungan untuk mem-besar2kan kebohongan yang kecil
dan tidak perlu
4. punya kecenderungan berkhayal untuk mencapai sukses yang tak
terbatas
5. membual tanpa akhir, tidak peduli dan tidak mau mendengar orang
lain
6. mengidealkan seseorang secara berlebihan
7. membuat janji2 yang tidak sepadan dengan keadaan atau tidak ada
kemampuan untuk memenuhinya.
8. tampil dengan gerak-gerik tubuh yang angkuh.
Di buku saya nanti, saya akan membahas secara detail semua
perilaku ini dalam diri Muhamad berdasarkan Hadis dan Sirat Rasul. Ada banyak
bukti yang menunjukkan bahwa sang Nabi adalah seorang narsisis. Misalnya,
pengabdiannya kepada wanita yang lebih tua darinya, Khadijah, yang kemudian
menjadi istri pertama dan ketidakmampuannya mengasihi wanita lain dengan taraf
yang sama. Juga kenyataan bahwa dalam usia lanjut dia berusaha mengisi
kekosongan hatinya dengan melakukan hubungan seks dengan begitu banyak wanita
muda, dan tidak bisa setia pada seorang pun dari mereka. Sikap ini menunjukkan
rasa tak aman dan takut di dalam hatinya.
Tentu saja terlalu gampang untuk percaya bahwa setiap orang yang
muncul dan mengaku sebagai nabi berbuat demikian untuk duit. Bukan begitu pada
kasus orang2 yang menderita narsisme. Uang hanyalah alat pembantu. Mereka
melakukan itu untuk dapat kekuasaan, pengakuan, hormat, dominasi. Orang2 ini
sakit dan butuh hormat dan perhatian. Hanya dengan cara menampilkan dirinya
sendiri sebagai utusan2 dari sesuatu yang maha penting, barulah mereka dapat
memenuhi kebutuhan narsistik melalui orang2 yang percaya pada mereka.
Maksud tujuan kemunculan mereka tidaklah penting. Maksud tujuan
ini hanya dijadikan alasan, hanya jadi alat untuk mendominasi. Bagi Stalin,
alasan yang dipakai adalah komunisme, bagi Mussolini adalah fasisme, bagi
Hitler adalah Nasionalisme Sosial (Nazi), dan bagi Muhamad alasannya adalah
agama dan monotheisme. Semakin hebat mereka menampakkan dewa2 (komunisme,
fasisme, nazi, agama, dll) mereka ini, semakin banyak kekuasaan yang mereka
dapat bagi diri mereka sendiri, karena mereka adalah satu2nya wakil2 dari dewa2
tersebut diantara seluruh umat manusia.
Sekali lagi seperti yang dikatakan Vaknin: “Narsisis menggunakan
apapun yang bisa disentuh tangan2 mereka guna memuaskan kebutuhan narsistik
mereka. Jika Tuhan, syahadat, gereja, iman, institusi agama dapat memenuhi
kebutuhan narsistik, maka mereka akan jadi soleh. Mereka akan meninggalkan
agama itu jika tidak mendapatkan kepuasan narsistik mereka.”
Contoh yang tepat bisa dilihat pada televangelis (evangelis yang
suka muncul di layar TV) Jimmy Swagart yang dengan kepribadian yang penuh
kharisma dan teatrikal mampu menggerakkan hati ratusan ribu penonton dan
membuat mereka menangis terharu dengan bicara mengenai Tuhan dan moralitas.
Nyatanya dia punya khayalan seksual yang kotor dengan para pelacur.
Allah hanyalah suatu maksud bagi Muhamad untuk mempengaruhi orang2
dan mendapatkan kepuasan dari kebutuhan narsistiknya. Allah adalah dirinya yang
kedua (ini sama seperti Clark Kent dan Superman). Dia dapat memegang kontrol
hidup dan mati orang dengan memberitahu mereka bahwa dialah satu2nya perantara
Tuhan dan umat manusia. Dia dapat memaksakan tingkahnya pada mereka dengan
memakai firman Tuhan.
Orang2 narsisis tidak mempromosikan dirinya secara langsung.
Mereka tahu kalau secara langsung, orang2 di sekitar tidak akan menerima
mereka. Mereka pintar dan manipulatif. Bukannya mempromosikan diri sendiri
secara langsung, tapi mereka berdiri di belakang dewa2, ideologi2, maksud2 atau
agama2 khayalan mereka dan secara bersamaan memunculkan diri mereka sendiri sebagai
wakil2 dari dewa2 ini, sebagai satu2nya otoritas yang bisa membawa umat manusia
ke tanah perjanjian, satu2nya orang yang dapat mewujudkan impian manusia.
Dr. Vaknin menjelaskan:
“Setiap orang adalah narsisis dengan ukuran yang berbeda. Narsisme adalah
kecenderungan yang sehat, yang menolong orang untuk bisa bertahan hidup.
Perbedaan antara narsisme yang sehat dan sakit adalah pada ukurannya. Narsisme
yang sakit dan dalam bentuk ekstrim disebut NPD (Narcissistic Pathological
Disorder) dan ini ditunjukkan dengan tidak adanya emphaty atau rasa pengertian,
kasih sayang, simpati bagi orang lain.
Penderita NPD menganggap dan memperlakukan orang2 lain sebagai
benda2 untuk dimanfaatkan. Dia menggunakan mereka untuk mencapai kepuasan akan
kebutuhan narsistiknya. Dia percaya bahwa dia berhak akan perlakuan khusus
karena dia punya khayalan amat megah tentang dirinya sendiri. Orang narsisis
TIDAK sadar akan keadaan dirinya sendiri. Pengertian dan emosinya terganggu.”
Penjelasan di atas cocok sekali untuk menggambarkan Muhamad.
Muhamad adalah orang yang sangat kejam tanpa perasaan manusiawi. Pertama-tama,
dia membentuk agamanya untuk mengambil hati orang2 Yahudi dan menarik mereka
jadi pengikutnya. Tapi ketika dia menyadari bahwa mereka tidak akan mau
menerima dia (sebagai Nabi) dan tidak mau dijadikan alat perwujudan impiannya
untuk mendominasi, maka dia membasmi mereka semua. Dia membantai semua pria
dari Bani Quraiza dan dari Kheibar dan mengusir semua orang Yahudi dan Kristen
lainnya dari Arabia. Kalau Tuhan memang mau menghabisi orang2 ini, Dia tidak
perlu bantuan dari utusanNya.
Sebenarnya saya, A SINA, tidak punya alasan untuk marah pada orang
yang sakit jiwa, apalagi yang sudah mati sejak lama sekali. Muhamad adalah
korban masyarakat yang berkebudayaan rendah. Dia adalah korban ketidakpedulian
ibunya. Muhamad adalah orang yang menderita luka batin yang dalam.
Dr. Vaknin berkata bahwa seorang narsisis “berbohong pada dirinya
sendiri dan pada orang lain, menampakkan diri sebagai seorang yang tidak
tersentuh, tidak terpengaruh secara emosional dan tidak terkalahkan … Bagi
seorang narsisis ‘semuanya serba berlebihan. Jika dia sopan, maka dia pun
agresif pula. Janji2nya tidak masuk akal, kritiknya kasar dan mengancam,
kedermawaannya tidak berarti.”
Bukankah ini gambaran yang ditampilkan Muhamad akan dirinya
sendiri?
Narsisis menderita kelainan jiwa tapi tidak gila. Mereka sadar
sekali rasa sakit yang mereka sebabkan pada orang lain dan mereka menikmati
nikmatnya punya kekuasaan. Oleh karena itu, mereka harus bertanggungjawab atas
perbuatan mereka. Jadi jika neraka yang dikatakan Muhamad itu benar2 ada, maka
sekarang mestinya dia berada di dasar neraka yang paling dalam dan tidak
seperti yang kau percayai, dia tidak sedang tertawa terbahak-bahak saat ini.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar