Agama berbasis kitab suci. Para pakar filsafat mengatakan bahwa Agama adalah man made (buatan manusia), dan agama yang berbasis sebah buku yang disebut Kitab Suci tentu mempunyai keterbatasan dan jauh lebih kecil dan sempit dibanding Tuhan yang Maha Besar. Hanya Muhammad yang mengatakan Allah menciptakan agama, nabi lain tidak ada! Definisi mabok atau mendem (Jawa) adalah keadaan dimana seseorang mengkonsumsi/memahami tentang sesuatu/paham yang melebihi batas normal/kewajaran; orang yang mendem menjadi seperti: tidak normal tingkah lakunya, tidak wajar cara berpikirnya (bloon, tidak cerdas), dan sulit diajak berdiskusi/berdialog; akal sehat tidak jalan. Contoh mabok adalah mabok minuman keras dan mendem gadung (di Jawa). Analog definisi ini, maka mabok agama dapat didefinsikan sebagai orang (atau kumpulan orang) yang mengkonsumsi/memahami agama secara berlebihan, melupakan keterbatasan agama, melupakan penyalah gunaan agama yang lumrah terjadi (terutama politisasi agama), dan menganggap bahwa semua persoalan dunia dapat diatasi hanya dengan agama saja. Manusia yang mabuk agama lupa bahwa kakinya masih menginjak bumi, pembicaraan dan pikirannya sudah di awang2, seolah olah sudah hidup di surga atau neraka – bukan dibumi, bicara bagaikan orang “nglindur” (bermimpi sambil berguman). Agama yang terbatas itu dibuat menjadi maha tak terbatas di tangan manusia yang mendem agama, menganggap bahwa semua persoalan dunia dapat diatasi hanya dengan agama saja, sampai-sampai ada Muslim yang bercita-cita melakukan Islamisasi ilmu pengetahuan, luar biasa sintingnya manusia ini! Membuat bulu kuduk ilmuwan sedunia berdiri! Beberapa ilmuwan Islam mencoba mengkelabui umatnya dengan menandaskan bahwa Al Qouran itu serba bisa-serba pintar, misalnya saja kitab suci bisa menjelaskan fisika, biologi, ekonomi, perbintangan, nuklir, komputer, dst. Para ilmuwan busuk ini lalu diminta mengarang dan menerbitkan buku-buku yang isinya sekedar mengada-ada serta mereka-reka saja, honor yang tinggi disediakan oleh lembaga agama tertentu.
Berbasis
fakta2 ini, maka tidak heran kalau pemenang Nobel dan penemuan baru kelas dunia
tidak mungkin berasal dari Arab, dan negara Arab akan jauh tertinggal untuk
dapat membuat mobil atau pergi ke bulan! Semua negara rupa-rupanya harus
mengalami mabok agama dulu. Negara modern seperti Eropa baru selesai mabok
agama sekitar abad 19 (seratus tahun yl.). Ketika agama Kristen masih
"tidur lelap", namun mendominasi Eropa, maka Eropa mengalami jaman
kegelapan dan kemunduran keilmuan luar biasa, ilmuwan genius seperti Gallileo,
Kopernikus dan Darwin dikucilkan gereja, baru setelah terjadi revolusi dalam
penalaran (demokrasi dan logika, disebut renaisance), Eropa bagaikan lahir
kembali. Sekarang, kaum cerdas-cendekia-ilmuwan Eropa sudah tidak tertarik lagi
hanya pada agama saja, namun mereka lebih tertarik untuk mengetahui rahasia
Tuhan secara lebih dalam-luas-tuntas melalui science, teknologi dan mempelajari
berbagai agama/kepercayaan (jadi tidak terbatas pada satu agama saja). Mereka
sudah pada tingkatan menghargai dan menghormati kebesaran Tuhan dengan kesadaran
mereka bahwa “Agama adalah penjara bagi Tuhan dan Manusia”. Manusia dianggap
sangat bodoh dan berdosa bila membatasi Tuhan yang Maha Besar dan Takterbatas
hanya cukup dimuat dalam satu buku tipis, satu nabi, dan satu agama saja; hal
ini masih banyak terjadi di negara berkembang. Kesadaran di Eropa ini juga
dialami oleh intelektual di negara modern yang lain (Jepang, Korea, Taiwan,
Singapore, Australia, Canada, USA, Rusia, dst.). Semua agama yang lahir ribuan
tahun yang lalu, yang pernah membuat dunia “gelap gulita”, sudah pernah
mengalami reformasi, tinggal agama Islam yang belum direformasi. Para pakar
filsafat skeptis apakah Islam dapat direformasi, bila tidak – diramalkan:
secara perlahan Islam akan ditinggalkan dan menjadi minoritas. Pakar budaya
Barat berpendapat bahwa dalang pembuat mabok agama ini ada pada tingkatan
lokal, regional, nasional, bahkan internasional. Mereka ini mempunyai jaringan
yang rapi sekali bagaikan jaringan multi-level-marketing (MLM), mereka juga
mempunyai dana yang besarnya trilyunan rupiah. Negara asing (Arab) mempunyai
kepentingan untuk menjadi penikmat utama kekayaan alam Indonesia serta ingin
menjadikan Indonesia sebagai negara boneka (pariwisata haji). Berikut ini
analisis cara dan penyebab mabuk agama Islam di Indonesia:
A. Masyarakat Indonesia
mudah sekali dipengaruhi lewat televisi-radio-media cetak, misalnya:
i. Dijaman Orde Baru, tiap
tahun di brainwash suruh nonton film G30S PKI plus peringtan hari kesaktian
Pancasila agar masyarakat Indonesia buta sejarah yang sebenarnya (sampai tahun
2020 ini, banyak sejarah Indonesia yang masih gelap).
ii. Dibombardir informasi
tanaman “daun gelombang cinta” atau “batu akik” selama sebulan saja, maka
seluruh Indonesia akan terjaring dan mabuk kepayang akan iklan itu.
iii. Sekitar tahun 2009,
berbagai media informasi Indonesia sempat berulang kali memberitakan dengan
gencar munculnya seorang anak yang bisa menyembuhkan orang sakit. Dia adalah
Ponari, bocah yang saat itu berusia 9 tahun dari Jombang. Dengan berbekal batu,
tiap harinya Ponari membantu pasien-pasien yang datang ke rumahnya dengan
metode yang terbilang sangat sederhana. Ia mencelupkan batu tersebut ke air
yang sudah disiapkan masing-masing pasien. Setidaknya kisah fenomenal Ponari
ini berhasil menarik atensi masyarakat Indonesia selama beberapa bulan.
iv. Di tahun 2020, media
informasi dapat membuat ketakutan dan membuat masyarakat sedunia patuh untuk
lockdown dirumah! Betapa powerfull media informasi itu!
B. Lalu bagaimana dengan
“iklan agama Islam” yang frekwensi bombardirnya hampir tiap jam - sepanjang
hari - sepanjang tahun tiada habisnya dan medianya berbagai cara (TV, Radio,
koran, termasuk azan masjid lewat speaker, ceramah ustadz, sekolahan, Ibu2 PKK,
kegiatan RT/RW/Kelurahan, dst.), tidak heran masyarakat Indonesia selalu mabok
agama tanpa habis2nya (dibanding mabok batu akik dan tanaman yang berlangsung
paling satu tahun)! Coba bandingkan “batu hitam Ponari” dengan “batu hitam
Kabah di Mekah”, yang satu menghilangkan penyakit, yang satu menghilangkan dosa
agar masuk surga, tentu saja iklan masuk surga dengan mudah jauh lebih kuat
dibanding mengobati penyakit; apalagi frekwensi bombardir iklan batu Kabah
(naik haji) sejuta kali lebih kuat daripada batu hitam Ponari, maka tidak heran
puluhan juta Muslim Indonesia saat ini sedang dan selalu mabuk cium batu hitam
Kabah alias naik haji, walaupun harus antri dan menunggu giliran sampai puluhan
tahun dengan biaya yang mahal untuk ukuran gaji rata2 manusia Indonesia!
C. Work Alcoholic vs
Religion Alcoholic.
Coba amati, undangan-undangan
kegiatan di rumah, lingkungan RT/RW/Kelurahan dan di kantor yang bersifat
keagamaan cukup banyak, misalnya dakwah, tahlilan, pengajian, ceramah,
istigozah, dan tabliq aqbar. Undangan keilmuan
kalah jauh dibanding undangan keagamaaan. Demikian pula, mass media seperti
televisi, radio, majalah, spanduk, pamlet, selebaran, masjid dengan speakernya
yang hingar-bingar, dan koran yang kesemuanya itu dipenuhi oleh berita/renungan
keagamaan. Sinetron kita juga banyak yang bernuansa mistik campur agamis.
Lagu-lagu di televisi dan radio juga banyak mengandung pesan-pesan agama. Dan yang
sangat menyolok mata adalah cara mengkover hari raya Lebaran selama hampir 40
hari, dimulai dari awal puasa, mudik hari H Min, saat Lebaran, mudik hari H
plus, dan usai lebaran untuk masuk kerja, sungguh brain washing agama yang
tersamar yang luar biasa cerdik. Apakah pemberitaan semacam ini bermanfaat?
Kegiatan naik Haji yang juga memakan waktu nyaris 40 hari, dari persiapan,
haji, lalu pulang, yang penuh seremonial? Apakah hal ini tidak
menghambur-hamburkan waktu, biaya, pikiran dan tenaga? Apakah hal ini tidak
membuat akal sehat bangsa menjadi “katak dalam tempurung” alias tiarap? Mendem
agama membuat bangsa Indonesia lupa bahwa masih hidup didunia nyata, namun akal
sehat dan pikirannya sudah ibarat hidup disurga. Kaki ditanah, pikiran me
layang2 di awan! Karl Marx dengan tepat mengistilahkan agama dapat menjadi
candu masyarakat. Di negara modern ada falsafah time is money, di kita agak
lain: time is religion! Mungkin masih ingat iklan Coca Cola begini: Kapan saja,
dimana saja, minumlah Coca Cola; di masyarakat Indonesia seolah-olah juga punya
iklan yang mirip, yaitu: Kapan saja, dimana saja, teguklah agama! Masyarakat
Jepang, Korea, dan RRC dikenal sebagai kecanduan kerja, tiada hari tanpa kerja,
istilah kerennya: work alcoholic; sedangkan bagi masyarakat Indonesia, tiada
hari tanpa dibumbui agama, mungkin istilah kerennya: religion alcoholic. Dari
pengamatan kegiatan keseharian ini, dapat disimpulkan bahwa bangsa Indonesia
sedang mabok/mendem agama! Sebaiknya kita dapat belajar dari sejarah, agar
mabok agama tidak berkepanjangan dan tidak mengulangi kesalahan yang telah
dibuat oleh negara lain yang pernah mendem agama dan negaranya menjadi jauh
tertinggal!
Tulisan ini diinspirasi dari
artikel berjudul “Clash of Civilizations - Mengapa Dunia Barat Melawan
Pemikiran Islam” (buah karya pakar2 Islam dunia yang tinggal di Jerman), dengan
alamat web di https://digitalmental.blogspot.com/ ; sebuah artikel yang sangat kritis,
menarik, mencerdaskan dan sangat berguna bagi masa depan Indonesia yang cerah
serta demi menyelamatkan kaum Muslim yang kita sayangi dari gendam Muhammad.
Rahayu.
(Hasil dari: Forum Diskusi
Jumat Legi Penganut Kejawen di Lereng gunung Merbabu, Magelang, yang merasa
KEJAWEN dipersulit Islam untuk diakui sejajar dengan agama dan kepercayaan lain
yang datang dari Luar Negeri; padahal Kejawen sangat fleksibel, non agamis,
local content, tinggalan sesepuh, dan mutiara suku Jawa yang indah dan
bijaksana. Harap bedakan Muslim dan Islam, Muslim kita sayangi, Islam kita
tolak. Tanamkan pada jiwa dan pikiran anda bahwa agama adalah ciptaan manusia,
bukan ciptaan Tuhan, dan agama dapat menjadi penjara bagi Tuhan beserta umatNya
yang akhirnya menyebabkan perpecahan manusia. Hanya nabi Muhammad yang
menciptakan agama, nabi lain tidak! Dapat disimpulkan dari berbagai fakta bahwa
Islam telah banyak menghabiskan waktu, tenaga, biaya, dan pikiran bangsa
Indonesia, artinya sangat merugikan. Muslim yang baik adalah manusia yang
melakukan norma2 umum kemanusian, bukan melaksanakan ajaran Muhammad yang keras
kejam bagi sesamanya. Sebaik-baiknya Muslim di dunia, lebih baik prestasi
bangsa Cina di RRC yang belum kenal Tuhan, mereka lebih adil dan lebih jujur;
1,6 Milyar orang dapat bebas korupsi maju modern dan makmur! Mereka bebas virus
Mekah yang dapat membunuh akal sehat manusia!).
Tidak ada komentar:
Posting Komentar