Jumat, 05 Maret 2021

Bangsa Indonesia Sedang Mabuk Agama, Religion Alcoholic vs Work Alcoholic

Agama berbasis kitab suci. Para pakar filsafat mengatakan bahwa Agama adalah man made (buatan manusia), dan agama yang berbasis sebah buku yang disebut Kitab Suci tentu mempunyai keterbatasan dan jauh lebih kecil dan sempit dibanding  Tuhan yang Maha Besar. Hanya Muhammad yang mengatakan Allah menciptakan agama, nabi lain tidak ada! Definisi mabok atau mendem (Jawa) adalah keadaan dimana seseorang mengkonsumsi/memahami tentang sesuatu/paham yang melebihi batas normal/kewajaran; orang yang mendem menjadi seperti: tidak normal tingkah lakunya, tidak wajar cara berpikirnya (bloon, tidak cerdas), dan sulit diajak berdiskusi/berdialog; akal sehat tidak jalan. Contoh mabok adalah mabok minuman keras dan mendem gadung (di Jawa). Analog definisi ini, maka mabok agama dapat didefinsikan sebagai orang (atau kumpulan orang) yang mengkonsumsi/memahami agama secara berlebihan, melupakan keterbatasan agama, melupakan penyalah gunaan agama yang lumrah terjadi (terutama politisasi agama), dan menganggap bahwa semua persoalan dunia dapat diatasi hanya dengan agama saja. Manusia yang mabuk agama  lupa bahwa kakinya masih menginjak bumi, pembicaraan dan pikirannya sudah di awang2, seolah olah sudah hidup di surga atau neraka – bukan dibumi, bicara bagaikan orang “nglindur” (bermimpi sambil berguman). Agama yang terbatas itu dibuat menjadi maha tak terbatas di tangan manusia yang mendem agama, menganggap bahwa semua persoalan dunia dapat diatasi hanya dengan agama saja, sampai-sampai ada Muslim yang bercita-cita melakukan Islamisasi ilmu pengetahuan, luar biasa sintingnya manusia ini! Membuat bulu kuduk ilmuwan sedunia berdiri! Beberapa ilmuwan Islam mencoba mengkelabui umatnya dengan menandaskan bahwa Al Qouran itu serba bisa-serba pintar, misalnya saja kitab suci bisa menjelaskan fisika, biologi, ekonomi, perbintangan, nuklir, komputer, dst. Para ilmuwan busuk ini lalu diminta mengarang dan menerbitkan buku-buku yang isinya sekedar mengada-ada serta mereka-reka saja, honor yang tinggi disediakan oleh lembaga agama tertentu.

Coba anda renungkan secara dalam lalu anda jawab dengan akal sehat dan jujur beberapa pertanyaan mendasar ini: Bagaimana SDM negara2 Islam dapat maju dan modern kalau Allah hanya mampu satu bahasa saja yaitu bahasa Arab (padahal bahasa adalah jendela dunia dan ilmu pengetahuan)? Dan karakter Allah yang otoriter memerintahkan manusia untuk menolak debat (otoriter, teokratis dan tidak demokratis), padahal kemajuan science berbasis critical thinking? Dan Islam bagaikan hanya untuk pria bukan wanita dimana wanita hanya dianggap second class dan sekedar alat produksi Muslim demi jumlah pemeluk Islam yang mayoritas, sampai di surga pun sex hanya untuk lelaki (jaminan 72 bidadari virgin hanya bagi laki2, ini sangat bias gender)! Dan Allah tidak mengijinkan umat non Muslim menjadi orang nomor satu di organisasi yang Islami (non Islam adalah kafir dan second class, ingat kasus Ahok), bahkan mereka layak dibasmi karena dicap sebagai kafir, bukankah Islam bertentangan dengan “golden rule” dunia? Last but not least, bagaimana mungkin Allah yang dituhankan Islam memaksa kaum Muslim sedunia untuk memuliakan, percaya dan meniru karakter seorang yang gila sex (sex maniak), pedopili, pembunuh, pemerkosa, pemimpin perang, pedagang dan pembohong (Muhammad)?

 Berbasis fakta2 ini, maka tidak heran kalau pemenang Nobel dan penemuan baru kelas dunia tidak mungkin berasal dari Arab, dan negara Arab akan jauh tertinggal untuk dapat membuat mobil atau pergi ke bulan! Semua negara rupa-rupanya harus mengalami mabok agama dulu. Negara modern seperti Eropa baru selesai mabok agama sekitar abad 19 (seratus tahun yl.). Ketika agama Kristen masih "tidur lelap", namun mendominasi Eropa, maka Eropa mengalami jaman kegelapan dan kemunduran keilmuan luar biasa, ilmuwan genius seperti Gallileo, Kopernikus dan Darwin dikucilkan gereja, baru setelah terjadi revolusi dalam penalaran (demokrasi dan logika, disebut renaisance), Eropa bagaikan lahir kembali. Sekarang, kaum cerdas-cendekia-ilmuwan Eropa sudah tidak tertarik lagi hanya pada agama saja, namun mereka lebih tertarik untuk mengetahui rahasia Tuhan secara lebih dalam-luas-tuntas melalui science, teknologi dan mempelajari berbagai agama/kepercayaan (jadi tidak terbatas pada satu agama saja). Mereka sudah pada tingkatan menghargai dan menghormati kebesaran Tuhan dengan kesadaran mereka bahwa “Agama adalah penjara bagi Tuhan dan Manusia”. Manusia dianggap sangat bodoh dan berdosa bila membatasi Tuhan yang Maha Besar dan Takterbatas hanya cukup dimuat dalam satu buku tipis, satu nabi, dan satu agama saja; hal ini masih banyak terjadi di negara berkembang. Kesadaran di Eropa ini juga dialami oleh intelektual di negara modern yang lain (Jepang, Korea, Taiwan, Singapore, Australia, Canada, USA, Rusia, dst.). Semua agama yang lahir ribuan tahun yang lalu, yang pernah membuat dunia “gelap gulita”, sudah pernah mengalami reformasi, tinggal agama Islam yang belum direformasi. Para pakar filsafat skeptis apakah Islam dapat direformasi, bila tidak – diramalkan: secara perlahan Islam akan ditinggalkan dan menjadi minoritas. Pakar budaya Barat berpendapat bahwa dalang pembuat mabok agama ini ada pada tingkatan lokal, regional, nasional, bahkan internasional. Mereka ini mempunyai jaringan yang rapi sekali bagaikan jaringan multi-level-marketing (MLM), mereka juga mempunyai dana yang besarnya trilyunan rupiah. Negara asing (Arab) mempunyai kepentingan untuk menjadi penikmat utama kekayaan alam Indonesia serta ingin menjadikan Indonesia sebagai negara boneka (pariwisata haji). Berikut ini analisis cara dan penyebab mabuk agama Islam di Indonesia:

A. Masyarakat Indonesia mudah sekali dipengaruhi lewat televisi-radio-media cetak, misalnya:

i. Dijaman Orde Baru, tiap tahun di brainwash suruh nonton film G30S PKI plus peringtan hari kesaktian Pancasila agar masyarakat Indonesia buta sejarah yang sebenarnya (sampai tahun 2020 ini, banyak sejarah Indonesia yang masih gelap).

ii. Dibombardir informasi tanaman “daun gelombang cinta” atau “batu akik” selama sebulan saja, maka seluruh Indonesia akan terjaring dan mabuk kepayang akan iklan itu.

iii. Sekitar tahun 2009, berbagai media informasi Indonesia sempat berulang kali memberitakan dengan gencar munculnya seorang anak yang bisa menyembuhkan orang sakit. Dia adalah Ponari, bocah yang saat itu berusia 9 tahun dari Jombang. Dengan berbekal batu, tiap harinya Ponari membantu pasien-pasien yang datang ke rumahnya dengan metode yang terbilang sangat sederhana. Ia mencelupkan batu tersebut ke air yang sudah disiapkan masing-masing pasien. Setidaknya kisah fenomenal Ponari ini berhasil menarik atensi masyarakat Indonesia selama beberapa bulan.

iv. Di tahun 2020, media informasi dapat membuat ketakutan dan membuat masyarakat sedunia patuh untuk lockdown dirumah! Betapa powerfull media informasi itu!

B. Lalu bagaimana dengan “iklan agama Islam” yang frekwensi bombardirnya hampir tiap jam - sepanjang hari - sepanjang tahun tiada habisnya dan medianya berbagai cara (TV, Radio, koran, termasuk azan masjid lewat speaker, ceramah ustadz, sekolahan, Ibu2 PKK, kegiatan RT/RW/Kelurahan, dst.), tidak heran masyarakat Indonesia selalu mabok agama tanpa habis2nya (dibanding mabok batu akik dan tanaman yang berlangsung paling satu tahun)! Coba bandingkan “batu hitam Ponari” dengan “batu hitam Kabah di Mekah”, yang satu menghilangkan penyakit, yang satu menghilangkan dosa agar masuk surga, tentu saja iklan masuk surga dengan mudah jauh lebih kuat dibanding mengobati penyakit; apalagi frekwensi bombardir iklan batu Kabah (naik haji) sejuta kali lebih kuat daripada batu hitam Ponari, maka tidak heran puluhan juta Muslim Indonesia saat ini sedang dan selalu mabuk cium batu hitam Kabah alias naik haji, walaupun harus antri dan menunggu giliran sampai puluhan tahun dengan biaya yang mahal untuk ukuran gaji rata2 manusia Indonesia!

C. Work Alcoholic vs Religion Alcoholic.

Coba amati, undangan-undangan kegiatan di rumah, lingkungan RT/RW/Kelurahan dan di kantor yang bersifat keagamaan cukup banyak, misalnya dakwah, tahlilan, pengajian, ceramah, istigozah, dan tabliq aqbar.  Undangan keilmuan kalah jauh dibanding undangan keagamaaan. Demikian pula, mass media seperti televisi, radio, majalah, spanduk, pamlet, selebaran, masjid dengan speakernya yang hingar-bingar, dan koran yang kesemuanya itu dipenuhi oleh berita/renungan keagamaan. Sinetron kita juga banyak yang bernuansa mistik campur agamis. Lagu-lagu di televisi dan radio juga banyak mengandung pesan-pesan agama. Dan yang sangat menyolok mata adalah cara mengkover hari raya Lebaran selama hampir 40 hari, dimulai dari awal puasa, mudik hari H Min, saat Lebaran, mudik hari H plus, dan usai lebaran untuk masuk kerja, sungguh brain washing agama yang tersamar yang luar biasa cerdik. Apakah pemberitaan semacam ini bermanfaat? Kegiatan naik Haji yang juga memakan waktu nyaris 40 hari, dari persiapan, haji, lalu pulang, yang penuh seremonial? Apakah hal ini tidak menghambur-hamburkan waktu, biaya, pikiran dan tenaga? Apakah hal ini tidak membuat akal sehat bangsa menjadi “katak dalam tempurung” alias tiarap? Mendem agama membuat bangsa Indonesia lupa bahwa masih hidup didunia nyata, namun akal sehat dan pikirannya sudah ibarat hidup disurga. Kaki ditanah, pikiran me layang2 di awan! Karl Marx dengan tepat mengistilahkan agama dapat menjadi candu masyarakat. Di negara modern ada falsafah time is money, di kita agak lain: time is religion! Mungkin masih ingat iklan Coca Cola begini: Kapan saja, dimana saja, minumlah Coca Cola; di masyarakat Indonesia seolah-olah juga punya iklan yang mirip, yaitu: Kapan saja, dimana saja, teguklah agama! Masyarakat Jepang, Korea, dan RRC dikenal sebagai kecanduan kerja, tiada hari tanpa kerja, istilah kerennya: work alcoholic; sedangkan bagi masyarakat Indonesia, tiada hari tanpa dibumbui agama, mungkin istilah kerennya: religion alcoholic. Dari pengamatan kegiatan keseharian ini, dapat disimpulkan bahwa bangsa Indonesia sedang mabok/mendem agama! Sebaiknya kita dapat belajar dari sejarah, agar mabok agama tidak berkepanjangan dan tidak mengulangi kesalahan yang telah dibuat oleh negara lain yang pernah mendem agama dan negaranya menjadi jauh tertinggal!

Tulisan ini diinspirasi dari artikel berjudul “Clash of Civilizations - Mengapa Dunia Barat Melawan Pemikiran Islam” (buah karya pakar2 Islam dunia yang tinggal di Jerman), dengan alamat web di https://digitalmental.blogspot.com/ ; sebuah artikel yang sangat kritis, menarik, mencerdaskan dan sangat berguna bagi masa depan Indonesia yang cerah serta demi menyelamatkan kaum Muslim yang kita sayangi dari gendam Muhammad. Rahayu.

(Hasil dari: Forum Diskusi Jumat Legi Penganut Kejawen di Lereng gunung Merbabu, Magelang, yang merasa KEJAWEN dipersulit Islam untuk diakui sejajar dengan agama dan kepercayaan lain yang datang dari Luar Negeri; padahal Kejawen sangat fleksibel, non agamis, local content, tinggalan sesepuh, dan mutiara suku Jawa yang indah dan bijaksana. Harap bedakan Muslim dan Islam, Muslim kita sayangi, Islam kita tolak. Tanamkan pada jiwa dan pikiran anda bahwa agama adalah ciptaan manusia, bukan ciptaan Tuhan, dan agama dapat menjadi penjara bagi Tuhan beserta umatNya yang akhirnya menyebabkan perpecahan manusia. Hanya nabi Muhammad yang menciptakan agama, nabi lain tidak! Dapat disimpulkan dari berbagai fakta bahwa Islam telah banyak menghabiskan waktu, tenaga, biaya, dan pikiran bangsa Indonesia, artinya sangat merugikan. Muslim yang baik adalah manusia yang melakukan norma2 umum kemanusian, bukan melaksanakan ajaran Muhammad yang keras kejam bagi sesamanya. Sebaik-baiknya Muslim di dunia, lebih baik prestasi bangsa Cina di RRC yang belum kenal Tuhan, mereka lebih adil dan lebih jujur; 1,6 Milyar orang dapat bebas korupsi maju modern dan makmur! Mereka bebas virus Mekah yang dapat membunuh akal sehat manusia!).

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar