Siapa tidak risau melihat kenyataan yang terjadi di Indonesia. Ada berbagai agama besar dengan umatnya yang besar (terutama Islam), namun kasih sayang, ketentraman, kesejahteraan, kebenaran dan keadilan malah nyaris tidak ada. Atau justru sebaliknya, kekerasan, kerusuhan, pembunuhan, ketidak adilan, kriminalitas, keterbelakangan, kemiskinan, ketidak jujuran, kemunafikan, korupsi, kolusi, dan berbagai pelanggaran HAM justru marak terjadi di Indonesia; dan barangkali mencapai index prestasi nomor wahid didunia. Demikian pula yang terjadi dengan di negara2 yang kental sekali agamanya, seperti negara2 berbasis Nasrani: Amerika Latin (Colombia, Argentina, Chilie, Bolivia, Brasil), Philipina; dan negara2 berbasis Islam: negara2 di Timur Tengah (Arab Saudi, Mesir, Suriah, Aljasair, Maroko), Sudan, Nigeria, Pakistan, Afganistan, dst. Lalu, apanya yang salah? Berikut ini adalah butir2 analisis yang mendalam tentang Agama, Tuhan, dan Bangsa yang diharapkan dapat menjadi salah satu sumber untuk mengatasi kerisauan diatas. Di era digital, manusia mulai jenuh dengan agama, manusia mulai sadar bahwa Tuhan tidak mungkin menciptakan agama tertentu, beragama tertentu, apalagi berbudaya tertentu, misalnya Arab. Manusia modern yang bijaksana dan cerdas memilih Bertuhan tanpa beragama, dan memilih memisahkan agama dari urusan negara (sekuler).
Dalil 1
Tuhan itu tidak beragama, jadi Ia berlaku adil bagi semua manusia. Agama adalah
sekedar sarana untuk mengenalkan Tuhan, namun Tuhan sendiri tidak beragama. Agama
adalah buatan manusia dalam upaya memahami Tuhan , manusia dan alam semesta.
Agama bukan ciptaan Tuhan, agama mengandung doktrin dan ideologi. Agama sering
ingin menangnya sendiri dan kurang suka perdebatan yang mengarah ke perubahan.
Agama tidak suka berubah, padahal yang abadi justru perubahan !
Dalil 2.
Pencapaian puncak pemahaman agama adalah religiositas. Salah satu definisi umum
tentang religiositas adalah sbb.: sikap hatinurani, batin dan pikiran manusia
yang selalu diarahkan kepada perbuatan baik, kasih sayang, kebenaran dan
keadilan. Religiositas setingkat lebih atas daripada sekedar beragama.
Religiositas dapat diperoleh tanpa melalui agama, ia diperoleh terutama dari
pengalaman hidup. Ibarat kuliah, maka ilmu lebih penting daripada almamaternya.
Kalau baru taraf kuliah, seorang mahasiswa masih suka memamerkan identitas2
universitasnya; ia suka petentang-petenteng menyombongkan jaket almamaternya.
Kalau seorang sarjana yang sudah bekerja masih tersekat oleh kotak2 almaternya,
dan setiap kekantor pakai jaket almamaternya, betapa kantor itu akan menjadi ajang
sikut2an antar universitas, dan betapa menyedihkan jiwa orang itu (yang
terbelenggu oleh almamaternya)! Demikian pula dengan agama, intisari agama
yaitu Tuhan dengan sifat dasar Nya ("Maha Adil, Pengasih dan
Penyayang") menjadi lebih penting daripada agama itu sendiri, atau bahkan
agama menjadi tidak dominan lagi (agama bagaikan tempat pertama kali belajar
mengenal Tuhan menurut versi agama itu, dan kelak agama menjadi seperti almamater
saja). Jadi, kalau sudah mumpuni keagamaan seseorang, bukan agamanya yang
penting, melainkan religiositasnya yang amat sangat penting. Ia tidak lagi
tersekat-sekat oleh kotak sempit yang disebut agama.
Dalil 3.
Keterbatasan kitab suci. Agama berbasis kitab suci. Dengan demikian, agama
mempunyai keterbatasan yang cukup mencolok seperti disebutkan dalam kitab-kitab
suci Al-Quran dan Injil. Misal dalam Al-Quran ditandaskan bahwa apabila semua
ajaran Allah SWT dituliskan, maka tinta sebanyak samudera rayapun tidak akan
mencukupi. Demikian pula dengan Injil yang menandaskan apabila semua ajaran Isa
Almasih dituliskan maka dunia beserta isinya pun tidak akan bisa memuat.
Dikatakan bahwa Allah adalah Maha Besar atau Maha Tak TERBATAS; mana mungkin
sesuatu yang Tak Terbatas (Allah, milyaran tahun) cukup dijelaskan oleh satu orang
saja yang SANGAT TERBATAS (para nabi, yang umurnya mencpai k.l. 80 tahun)! Jika
Allah itu dari minus tak terhingga (alpha, tak tahu kapan awalnya) dan berakhir
di plus tak terhingga (omega, tak tahu kapan berakhirnya), maka seorang manusia
yang hidup di suatu range (daerah) umur yang sangat terbatas (katakan 80 tahun)
adalah tidak mungkin menjelaskan secara tuntas sesuatu yang tak terhingga
(milyaran tahun)! Bumi dan universe sudah milyaran tahun, dan masih milyaran
tahun lagi, maka seribu, sejuta atau bahkan semilyar nabi disertai ilmuwan
tidak akan pernah selesai mempelajari universe dan Tuhan! Jadi, ke
"Mahabesaran Tuhan" tidak mungkin cukup diwadahi dalam buku
setebal/setipis kitab suci. Ke "Mahabesaran Tuhan" juga tercermin
pada luas dan dalamnya ilmu pengetahuan.
Dalil 4.
Pemahaman akan Tuhan belum selesai dan tidak akan pernah selesai.
Banyak orang bijak berkata: “bukan agama yang dicari, melainkan kitab sucinya
sebagai sumber agama yang dicari; dan bukan kitab suci yang sangat terbatas itu
yang dicari melainkan kebenaran atau Tuhan yang selalu dicari”. Kitab suci
(yang tipis sekali) beserta para nabinya adalah sangat terbatas seperti
ditandaskan sendiri dalam ayat2nya seperti telah diuraikan diatas. Disamping
itu, para nabi tsb. hidup dimasa lampau dan singkat (puluhan tahun), sedangkan
Tuhan beserta kebenaranNya adalah tidak terbatas waktu dan tempat serta mengacu
kemasa depan (s/d saat ini saja, bumi diduga sudah milyaran tahun umurnya!).
Sebagai gambaran KEMAHABESARAN TUHAN: Seorang ahli komputer merumuskan suatu
hukum yang disebut hukum Moore; ia menyatakan bahwa setiap delapan belas bulan
akan terjadi lompatan teknologi dibidang teknologi informasi. Ia benar,
ternyata komputer berkembang dari XT, AT, …., Pentium 4; demikian pula software:
dari DOS, Windows 98, …, Windows XP. Manusia pun terus berkembang, dari jaman
batu s/d jaman ini yang ditandai teknologi informasi dan rekayasa genetika.
Ilmu Fisika tidak hanya berhenti pada hukum gravitasi Newton, melainkan terus
berkembang misalnya teori relativitas Einstein, teori big bang, teori fusi,
cloning, nano technology, dst. Buku ensiklopedi yang berjilid-jilid dan tebal
sekali, setiap tahun harus di update mengingat hampir setiap hari ada penemuan
baru di laboratorium riset di seantero dunia. Kalau ilmu pengetahuan, komputer
berikut softwarenya, dan ensiklopedi beserta manusia penciptanya saja
berkembang terus menerus dan secara cepat, apalagi Tuhan YME! Oleh sebab itu,
Tuhan beserta kebenaranNya adalah dinamis, bukan statis, serta lebih banyak bergerak
mengacu ke masa depan, dan tidak terlampau sering menoleh kebelakang; dengan
demikian Tuhan adalah bukan milik atau dominasi sesuatu agama (yang seolah-olah
hanya berbasis sesaat dimasa lampau), melainkan milik ruang dan waktu yang
tidak terbatas dan tidak terhingga! Agama yang baik akan selalu ingin mencari
tahu rahasia Tuhan yang belum terkuak; bukannya terus-menerus membelenggu,
membatasi atau melecehkan Tuhan dengan mengatakan: Untuk mempelajari dan menghapalkan
ke Maha Besaran Tuhan yang Tak Terbataskan, cukup melalui satu buku tipis saja
yang disebut kitab suci; Tuhan itu cukup PC XT titik (statis) bukan Pentium 5
beserta penerusnya (Pentium X, dinamis, tak tahu s/d seri berapa nanti), Tuhan
itu cukup DOS bukan Windows XP, Tuhan itu cukup jaman dulu dan tidak punya masa
depan! Agama yang negatip hanya berkutat pada nabi2nya yang sudah dahulu kala,
dan menganggap pemahaman terhadap Tuhan sudah dianggap selesai, kemudian nabi
utamanya begitu dibesar-besarkan seringkali melebihi Tuhan itu sendiri; sehingga
agama menjadi Maha Tak Terbatas (mengenal Tuhan cukup dengan belajar satu agama
saja), sedangkan Tuhan menjadi Maha Terbatas (cukup dijelaskan oleh satu kitab
suci setebal kurang lebih 1000 halaman); pusat ibadat dan puja-puji lalu
diarahkan kepada nabi2nya. Umat beragama lalu malas membaca hal2 yang baru
terutama science, sehingga menjadi terbelakang dalam berbagai segi kebudayaan.
Agama ditilik dari sisi organisasi dapat berbeda tujuan dengan kitab suci sumber
agama itu sendiri. Kitab suci sudah menandaskan dan menyadari keterbatasan
dirinya (buku setipis itu), dan KETIDAK terbatasan Tuhan; sedangkan agama
dilihat dari sisi organisasi, terus menerus mengatakan “Pelajaran tentang Tuhan
sudah selesai, yaitu Kitab suci KITA, jadi jangan membaca kitab suci yang LAIN,
apalagi pindah agama, tetaplah taat-setia kepada agamamu (=KAMI, para pengurus
organisasi agama)”. Oleh agama yang statis-beku-kaku, kita bagaikan diminta
untuk terus menerus menggunakan komputer XT dengan DOS, dan dilarang
mempelajari atau menggunakan komputer Pentium 5 dengan WINDOWS XP atau LINUX,
kita bagaikan diminta untuk terus menerus mempelajari hukum Newton, dan
dilarang mempelajari fisika modern (temuan2 baru); kita bagaikan terusmenerus disuruh
menoleh kebelakang dan tidak diperkenankan melihat kedepan! Jadi, agama yang
kaku-beku-statis justru membatasi Tuhan dan membatasi sesama manusia
(tersekat-sekat atas nama agama) serta justru dapat menjadi sumber krisis
kebudayaan. Agama yang baik diharapkan menghasilkan manusia yang religius,
sekaligus cerdas dan selalu ingin lebih tahu lebih banyak lagi tentang hal yang
baru (termasuk agama baru). Manusia religius tidak akan terbelenggu oleh agama,
maka ia tidak takut berdoa di rumah ibadah apapun (sesuai caranya sendiri),
entah itu kelenteng, mesjid, gereja, pura, vihara, dst.; sebab ia paham bahwa
Tuhan tidak dapat dibatasi oleh ruang dan waktu dan pemahaman akan Tuhan adalah
proses belajar yang tak akan pernah selesai. Ia juga akan selalu tertarik dan
mengikuti perkembangan agama2 baru serta science yang baru.
Dalil 5.
Tuhan itu demokratis, sedangkan agama seringkali otoriter.
Tuhan tidak melarang manusia untuk tidak beragama, karena Tuhan sendiri pada
dasarnya tidak beragama. Tuhan mengharapkan agar manusia mencapai pemahaman tertinggi
yang disebut religiositas melalui berbagai sarana seperti agama, "agama
lokal" (misal Kejawen), dan ilmu pengetahuan. Keotoriteran agama nampak
pada keinginan mau menangnya sendiri seperti melarang
berbagai hal yang tidak sepaham dan ingin menjadi anak emas dinegara yang
majemuk/pluralis! Dinegara maju, apa saja boleh dan justru dianjurkan untuk
diperdebatkan (termasuk keyakinan), asal debatnya bermutu dimana kaki dan
tangan (kelahi) tidak boleh ikut dipakai dalam adu gagasan! Tuhan itu Maha
Cerdas, Maha Cerdas pasti suka debat, bukan main sweeping, larang-melarang, dan
otoriter. Jadi seseorang yang cerdas pasti suka debat, karena debat
mengakibatkan kemajuan. Memang, ada kemungkinan agama akan ambruk oleh adanya
demokrasi, rasionalisasi, kebebasan berpendapat dan debat, seperti ambruknya
gereja Katholik di Eropa pada sekitar abad 18 an. Monopoli dan otoritarian
ajaran agama oleh pemuka agama menyebabkan posisi mereka tidak tergoyahkan
dinegara berkembang. Tidak mengherankan bila di Timur Tengah yang penuh
dikuasai kyai, ulama dan raja, takut setengah mati dengan demokrasi,
rasionalisasi, dan kebebasan berpendapat. Pemuka agama seringkali memonopoli
kebenaran dan takut berdebat untuk adu gagasan atau bersaing dengan kebenaran
yang lain yang lebih modern; umatnya pun selalu di brain wash dengan mengatakan
bahwa keyakinan tidak boleh diperdebatkan; atau untuk mengunci terjadinya
perdebatan lalu berkilah: keyakinanmu adalah keyakinanmu, keyakinanku adalah
keyakinanku! Bukankah ini semua demi kelanggengan kedudukan para pemuka agama
itu sendiri dan agar umatnya tidak terpikat oleh pengetahuan baru tentang
Tuhan? Bukankah umat yang besar jumlahnya juga identik dengan income
(zakat/persembahan) yang besar pula bagi para pemuka agama? Mengapa Tuhan Yang
Maha Cerdas dianggap bodoh, tak boleh didebat, dan Tuhan diangap takut akan
demokrasi, rasionalisasi, serta kebebasan berpendapat? Pemuka agama takut
debat, lalu mereka mengatas namakan Tuhan bahwa Tuhan tidak suka debat, keyakinan
adalah harga mati - atau sesuatu yang beku, kaku dan statis, buku2 yang sangat
kritis terhadap agama (dan penyalah gunaan agama) dilarang bahkan disweeping,
aliran kepercayaan yang baru dan lebih modern dimatikan; dengan demikian
kelompok ini menganggap Tuhan adalah sangat lemah, sehingga agama dan Tuhan
perlu dibela mati2an
Dalil 6.
Agama adalah sesuatu yang abstrak dan sulit dicerna, oleh sebab itu sebaiknya
tidak diberikan kepada anak-anak yang belum dewasa (disekolah dasar), apalagi
dipaksakan sebagai pendidikan agama. Agama adalah persoalan individu dan
merupakan kebebasan untuk memilih. Agama sebagai pengajaran (knowledge) adalah
penting dan perlu diajarkan (misalnya keanekaragaman agama beserta ciri mereka
masing2). Sebaiknya agama sebagai pendidikan (untuk menarik pengikut baru) diberikan
kepada manusia dewasa, waktu belum dewasa cukup diberikan budi pekerti. Kalau
sejak kecil sudah dicuci otak dengan agama, maka hasilnya mirip Indonesia saat
ini. Bukan kekeluargaan atau kasih sayang melainkan kecurigaan, 'keterkotakan'
(SARA), tidak pandai/biasa berdebat, kalau debat cepat marah, sulit menerima
kekalahan, beku, kaku dan bahkan ini bisa menjadi cikal-bakal kekerasan nanti
disaat dewasa. Dinegara modern seperi USA, Jepang, Korsel, Taiwan, Inggris,
Australia, dst., agama memang tidak boleh diberikan pada anak2 SD/SMP/SMA
(sekolah negeri) sebagai pendidikan (kecuali sekolah yang berafiliasi dengan
agama tertentu), namun sebagai pengajaran (transfer of knowledge) yang
mengajarkan berbagai agama beserta karakteristiknya diperbolehkan, pendidikan
agama adalah merupakan tanggung jawab orang tua. Untuk anak, yang lebih baik
dan lebih penting adalah budi pekerti (hubungan horisontal-antar sesama
manusia, jadih lebih riel; agama: hubungan vertikal dengan Tuhan, lebih
abstrak). Budi pekerti mengajarkan sopan-santun, taat hukum, menghargai alam
dan isinya, keadilan dan hidup bersosial secara baik. Benarkah dan pernahkah
Nabi Muhammad SAW dan Nabi Isa mengarahkan agama kepada anak2? Tidak kan? Oleh
sebab itu, para pemuka agama hendaknya mengasihani para anak2 dengan tidak
membebani otak mereka dengan pengetahuan yang belum saatnya (abstraksi yang
sulit); dan yang lebih penting dan mendasar adalah: agama syarat dengan dogma2
yang beku-kaku, bila diajarkan secara kurang tepat dan bijak justru akan membelenggu
kecerdasan anak2, bahkan justru anak2 akan mulai terkotak-kotak sejak dini, hal
ini akan menimbulkan dan menyuburkan falsafah: right or wrong for my religion,
yang pada akhirnya akan menghasilkan kelompok fundamentalis yang merupakan
salah satu bahan awal dari terorisme! Selain itu, mereka menjadi kurang kritis,
pasif, tidak pandai debat, dan kalau debat mudah marah (apalagi kalau kalah)!
Adalah lebih bijaksana apabila manusia dewasa dibiarkan memilih agamanya
sendiri , tanpa paksaan, setelah dewasa!
Dalil 7.
Agama bukan jaminan moralitas, kesejahteraan, kedamaian dan keadilan; bahkan
kadang2 agama justru dapat melunakan moral, etika dan hukum suatu negara
melalui persepsi yang salah. Lihat saja, ada berbagai agama besar di Indonesia,
namun persaudaraan, perdamaian dan keadilan justru tidak ada; yang marak justru
kekerasan, kerusuhan, KKN dan pelanggaran HAM. Para elit (militer, politik dan
birokrat), yang notabene berpendidikan tinggi justru merupakan sebab utama
kehancuran bangsa Indonesia. Yang diatas rajin korupsi namun bebas dan
terhormat, yang dibawah: begitu menangkap pencuri ayam langsung dibakar begitu
saja! Demikian pula yang terjadi dengan di negara2 yang kental sekali agamanya,
seperti negara2 berbasis Nasrani: Amerika Latin (Colombia, Argentina, Chilie,
Bolivia, Brasil), Philipina; dan negara2 berbasis Islam: negara2 di Timur
Tengah (Arab Saudi, Mesir, Suriah, Aljasair, Maroko), Sudan, Nigeria, Pakistan,
Afganistan, dst. TKW kita di Timur Tengah yang sering mengalami penyiksaan dan
perkosaan juga dapat menjadi salah satu bukti nyata (frekwensi perkosaan
tertinggi). Mengapa hal ini terjadi? Jawabnya, dalam hal ini, agama seolah-olah
menekankan dan mengeksploitasi sifat Tuhan yang hanya sebatas Maha Pengasih,
Penyayang dan Pengampun; sifat Maha AdilNya sengaja dihilangkan/dilupakan.
Misalnya saja keyakinan bahwa apapun atau berapapun berat dosanya jika:
-percaya Yesus dosanya akan diampuni dan masuk surga (agama Nasrani); atau –
jika berpuasa secara benar atau meninggal di Mekah atau malam Laitul Kadar
(malam seribu bulan dimana surga akan terbuka penuh) maka dosa satu tahun akan
diampuni dan masuk surga. Dengan konsep mengobral harga “surga” semurah dan
semudah itu, agama berupaya menarik minat calon pemeluk. Namun akibatnya justru
negatip, tidak heran bila negara2 dengan agama yang kuat (tapi beku pemahaman)
justru menjadi sumber KKN dan pelanggaran HAM! Agama justru dapat menjadi
sumber krisis etika dan moral! Sebagai contoh kongkrit perilaku para agamawan
dibumi nusantara, para koruptor kelas kakap, yang tinggal diperumahan-perumahan
elit/eksklusip, adalah donatur penting bagi kegiatan sosial atau keagamaan;
pemuka agama dan masyarakat disekitarnya tidak pernah mempertanyakan darimana
para pejabat tinggi negara itu mempunyai dana lebih; atau justru sebaliknya,
para koruptor ini dijadikan teladan kedermawanan lalu disanjung-sanjung!
Demikian pula, melalui acara televisi, etika dan moral generasi muda
terus-menerus dirusak setiap harinya: TV kita hanya memperlihatkan dan
mementingkan wajah-wajah yang cantik, bagus, rupawan, seksi dan kayaraya,
darimana asal kekayaan itu diperoleh tidak pernah digubris, tidak pernah
ditayangkan adanya pejabat yang korup, polisi yang busuk, dan jaksa yang
kolusi, melalui film2 di TV: Indonesia bak surga karena negara dipenuhi oleh
manusia2 rupawan yang kayaraya, agamis, jadi negara seolah-olah bersih dari KKN
dan pelanggaran HAM! Seharusnya sifat Maha Adil lebih ditekankan, agar manusia
(pejabat) berpihak ke rakyat jelata yang tertindas, dan menuntut para oknum pelaku
KKN dan pelanggar HAM dimuka hukum. Jadi sebelum hukum horisontal (antar sesama
manusia) terlunaskan/termaafkan, maka oknum tsb. tidak akan mungkin masuk surga
(hukum vertikal). Ulama, pastor, begawan, biksu dan pendeta harus menandaskan
bahwa kejahatan manusia juga harus dipertanggung jawabkan dahulu didepan
manusia (pengadilan), jadi tidak hanya vertikal melainkan horisontalpun penting
(sifat Maha Adil itu lebih mengarah ke horisontal atau sesama manusia dan ini
penting sekali)! Mereka harus rajin ke DPR/DPRD, Kejagung, presiden, dst.,
dalam hal membela kebenaran/moral, tanpa harus berpolitik praktis, mereka harus
merasa malu dengan daya juang para mahasiswa/LSM dalam hal pembelaan moral dan
kebenaran! Mereka, para agamawan, juga harus malu kepada seorang wanita ceking
yang gigih membela manusia melarat dan tertindas, yang bernama Wardah Hafidz
dan Dita Sari, atau pria ceking-kecil bernama Munir, yang tidak takut
mengorbankan keamanan, kenyamanan bahkan hidupnya! Mana ada ulama, pastur,
pendeta atau biksu, yang turun tangan membela tukang becak, penjual asongan,
buruh, tki/tkw, dst., secara nyata? Mana ada dari mereka yang menuntut
tuntasnya kasus BLBI, tragedi Mei 98, Trisakti, Priok, Kudatuli, KKN, uang
hibah haram, pelurusan sejarah 1965, korban cucu-cicit PKI, membela buruh dan
TKI/TKW, dst.? (seandainya ada, jumlahnya hanyalah minim sekali, kurang dari
1%, alias satu orang dari seratus pemuka agama!). Sebaliknya, pandanglah negara
RRC yang komunis, yang justru menampilkan kesejahteraan, kedamaian dan
keadilan; koruptor kelas kakap diburu s/d liang kuburnya dan kalau ketangkap
dengan tegas diadili kemudian ditembak mati. Kesejahteraan yang timbul dalam
agama seringkali hanya terjadi pada para birokrat (pemimpin/pengurus) agama itu
sendiri (karena zakat/derma). Penegakan hukum (legal formal) lebih menjamin
tingginya moralitas dan pertumbuhan ekonomi, yang pada akhirnya akan memberikan
kesejahteraan, kedamaian dan keadilan bagi rakyat, bila dibandingkan dengan buaian
agama yang memabokan.
Dalil 8.
Agama Harus Menghormati dan Mengembangkan Budaya Setempat.
Semua agama besar di Indonesia berasal dari luar negeri, maka bias budaya pasti
ada. Artinya, budaya asing mendompleng agama akan masuk dan mempengaruhi budaya
lokal. Alangkah sedihnya kita, apabila di jalan Malioboro, seorang menyapa
dengan Amitaba ... (Budha, bhs. Cina), lalu dijawab yang lainnya dengan Assalam
..... (Islam, bhs. Arab), kemudian ada lagi yang menyahut Syallom ....
(Kristen, bhs. Yahudi), tak ketinggalan ada yang berkata Hong wilaheng ....
(Hindu, bhs. Hindi); kemudian ada yang menjawab secara rasional, sopan dan
nasionalis: Selamat Siang. Demikian pula dengan budaya berpakaian, alangkah
sedihnya apabila blangkon dan surjan Yogya terdesak oleh pakaian Arab atau sari
India. Memeluk agama asing haruslah tidak boleh mengorbankan budaya setempat.
Yang paling menakutkan adalah penjiplakan cara berpikir dan berperilaku,
misalnya menganggap ilmu pengetahuan dan teknologi itu "setan" yang
harus dijauhi, dan kekerasan demi pembelaan agama, konsep yang salah
"right or wrong for my religion" (sisi "wrong" sangat
berbahaya bagi kesehatan nurani). Agama yang baik semestinya dapat berperan
untuk mempengaruhi kebudayaan suatu suku atau bangsa kearah yang lebih baik.
Alm. Mochtar Lubis dalam bukunya yang best seller di tahun 1977 (judul: Manusia
Indonesia) mengkritisi secara habis-habisan budaya negatip manusia Jawa (sang
mayoritas) yang: munafik, enggan bertanggung jawab, feodal, percaya
takhyul/mistis, berkarakter lemah, suka KKN, pelupa, tidak tahu malu, cuek,
dst. Dalam konteks negara, agama yang baik semestinya bisa menghapus atau
menipiskan kelemahan budaya suatu bangsa. Namun sayang, di Indonesia, peran
agama justru kebalikannya, terbukti bangsa ini tidak bisa melepaskan diri dari
sumber dari segala sumber krisis yaitu krisis moral dan kebudayaan! Bayangkan
bila nalar kita tidak kritis diberbagai bidang, pinjaman uang (utang) luar
negeri yang bersyarat telah membelit kita, kurs nilai mata uang yang jauh dari
keadilan telah menjajah kita, konglomerasi perusahaan multi nasional dan budaya
asing yang lewat agama telah mendominasi budaya kita, lalu kita mau jadi bangsa
apa? Adalah sayang sekali, kebanyakan agama yang ada justru meninabobokan
kemudian secara halus-terselamur menggusur kebudayaan kita! Agama juga punya
kemampuan menyeret suatu negara untuk terlibat secara internasional dalam
perang ideologi dengan dasar filsosfi: Right or wrong for my religion, misal
seorang warga Indonesia berperang untuk Afganistan atau Palestina.
Dalil 9.
Agama mudah diperalat. Oleh para elit politik maupun penipu biasa, agama sering
diperalat. Kedunguan manusia telah mengubah ajaran suci Tuhan melalui para nabi
menjadi belenggu bagi umat beragama. Dan sejarah juga sering menjadi saksi
bagaimana penguasa politik, militer, birokrat, ekonomi maupun agama
bahu-membahu mendungukan manusia agar dapat dikuasai oleh ambisi-ambisi
mereka.Kesetiaan dan ketaatan hampir seratus persen kepada Tuhan melalui agama
disalah gunakan oleh 'manusia cerdas tapi jahat'. Antara Agama dan partai
politik sudah sulit dibedakan. Antara filsafati yang suci bersih dan politik
yang hitam kelam bercampur baur. Umat beragama bingung, apakah ia sedang
mendengarkan sabda Tuhan atau orasi politik yang ulung dari seorang Dai
(misalnya Dai sejuta umat), atau apakah ia sedang ada di mesjid atau sedang ada
di kantor partai politik? Awas, jika para politisi di Jakarta ahli mempolitisir
agama, apalagi para pakar politik Barat yang bagaimanapun kita harus akui
kualitasnya lebih unggul daripada para politisi kita, mereka pasti juga ikut
dan lebih pandai menggunakan jurus politisasi agama; misalnya saja agar
Indonesia terjebak dalam persoalan agama atau agar bangsa Indonesia
mendem/mabok agama (semuanya mau diselesaikan dengan agama!) dengan demikian
laju perkembangan IPTEKnya dapat dihambat. Dengan politisasi agama, kasih
sayang dimanipulasi menjadi kekerasan dan bahkan pembunuhan, misalnya jihad bom
bunuh diri dimana pelakunya dijanjikan pahala yaitu surga. Lihatlah fakta
kekerasan dan pembunuhan di negara2 yang agamis seperti: Colombia, Argentina,
Aljasair, Afganistan, Mesir, Sudan, Pilipina, Indonesia, Bosnia, Yugoslavia,
dst. Lihatlah bagaimana mantan presiden Suharto yang tidak lulus SMA dengan
begitu indahnya mempercundangi para akademisi (mahasiswa dan dosen yang
notabene adalah bergelar profesor/doktor) di UI, ITB, UGM, IPB, dst., dengan berbagai
tipuan seperti sejarah pembantaian 1965, Supersemar, Serangan umum 1 Maret,
serta menaklukan/membelokan reformasi melalui politisasi agama (sebagai salah
satu strategi save exit yang ampuh; tentang hal ini, harap baca artikel yang
lain).
Dalil 10.
Agama dapat menghambat kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi (IPTEK).
Lihatlah sejarah Eropa diabad 17 an. Agama Katholik saat itu sering menghukum
ilmuwan, dengan alasan ilmuwan itu membuat pernyataan yang dianggap
bertentangan dengan isi Injil. Ilmuwan besar yang dikucilkan antara lain adalah
Copernicus, Galileo, Columbus, dan Darwin. Pada abad itu ketika agama Katholik
begitu dominan (namun beku, kaku dan statis), Eropa justru mengalami jaman
kegelapan. Sekarang, lihatlah perbedaan antara negara Amerika Latin (yang
dominan agamanya) dan USA serta Kanada (yang dominan religiositasnya dan
ilmuwannya). Sangat kontras sekali, misalnya saja antara USA dan
Meksiko yang berbatasan. USA
sangat modern, makmur, tentram, sebaliknya Meksiko, padahal mereka sama2
pendatang dari Eropa. Negara-negara Islam juga sama saja, katakan saja Turki,
Bosnia, Albania adalah negara2 Islam paling modern, ternyata masih jauh
tertinggal dibelakang negara2 Eropa dalam IPTEK, demokrasi dan kemakmuran.
Selama pemahaman agama itu masih sempit (fanatisme agama, bukan religiositas),
maka selama itu pula negara akan terjebak dalam hiruk pikuk eforia agama. Kita
juga dibuat tercengang dengan para ilmuwan negara komunis, misal RRC, mereka
maju pesat, misal sudah dapat mengirim astronot ke ruang angkasa, lihat pula
negara kita yang dibanjiri otomotif produk mereka dengan harga yang sangat
murah (sebab di RRC hampir tidak ada KKN). Berapa ribu jam belajar yang sudah
dihabiskan oleh anak-anak SD untuk "menghapal" hal yang belum saatnya
dipelajari (agama beserta bahasa asing dan budayanya)? Bukankah anak2 itu
ibarat di "brain washing" sehingga daya kreativitas dan daya saing
mereka untuk tingkat dunia menjadi rendah sekali. Karena cara mengajarnya yang
kebanyakan doktriner, akibatnya para siswa menjadi kaku, pasip, tidak kreatip,
tidak bisa debat, gampang marah kalau debat, dan tersekat-sekat. Hasilnya apa?
Toh mirip P4, PMP, dst. Selain itu, setamat SD, kita masih harus menghabiskan
sekian ribu jam pelajaran lagi untuk belajar dan mengejar ketertinggalan dalam
bahasa Inggris, lalu kapan SDM kita bisa maju kalau kita tidak effisien dalam
menggunakan waktu dalam pendidikan (porsi agama terlampau banyak)?
Dalil 11.
Semakin rusak moral bangsa itu, agama semakin laku, dan
hingarbingar kemunafikan beragama semakin luar biasa. Kalau kita amati,
seringkali tembok-tembok ditulisi: Ngebut, benjut; Yang Kencing disini hanyalah
anjing; Daerah bebas narkotik; Dilarang buang sampah disini; dst... Dinegara
maju yang masyarakatnya sudah mencapai religiositas, tulisan2 berisi ancaman
dan aturan kasar semacam itu sudah tidak ada lagi, sebab aturan itu sudah
tertulis dihati sanubari mereka semenjak dini/kecil, yaitu melalui pendidikan
budi pekerti. Begitu pula dengan masalah agama, semakin bumi nusantara ini
dipenuhi polusi suara yang keras dan hingar bingar tentang agama (Tabliq Aqbar,
istigotsah, azan masjid, koor gereja, dsb.), kemudian orang2nya semakin gemar
memakai atau memajang aksesori keagamaan (seringkali hanya untuk “sekedar
sembunyi”), semakin menandakan bahwa masyarakatnya masih sekedar pandai berdoa
dan sekedar bosa-basi agama (formalitas), namun tidak pandai melaksanakan ajaran
agama. Siang maling atau korupsi, malam berdoa atau meditasi; para pegawai
negeri yang mengaku abdi negara dan abdi masyarakat justru mempraktekan
filosufi:”Mengapa harus dipermudah, kalau semuanya bisa dipersulit (agar keluar
uangnya)?”. Agama sangat menjejukan dan memberikan rasa tentram dan kedamaian
yang luar biasa terutama kepada para pelaku kelas berat: pelanggar HAM dan
pelaku KKN. Agama memberikan citra bahwa Tuhan itu Maha Pengampun bagi para
pelanggar HAM dan pelaku KKN (Maha Adil sengaja dilupakan!). Tidak heran agama
menjadi tempat persembunyian yang ternikmat dan teraman bagi para pelanggar
aturan ini, tidak heran agama menjadi laku keras sekali dinegara yang amburadul
moralitasnya! Dan sayangnya, keamburadulan negara itu tetap tidak akan tertolong
oleh maraknya agama. Coba amati, ucapan dan tindakan bangsa ini ternyata sangat
kontras bedanya, alias hipokrit/munafik; nampak jelas bahwa semakin udara suatu
bangsa penuh polusi doa puja-puji kepada Tuhan, semakin rusak moral bangsa itu.
Lihatlah kelihaian para politisi tua Orde Baru dalam ber "agama",
kemudian lihatlah "track record" mereka. Alhamdulilah, seratus
delapan puluh derajat bedanya! Dengan demikian, dapat kita katakan, apa yang
terjadi di Indonesia adalah pelecehan agama, bukan penghormatan agama, apalagi
pengamalan agama! Pelecehan agama sama saja dengan pelecehan Tuhan, ini akan
menyebabkan kehancuran moral suatu bangsa dan murka Tuhan!
Dalil 12.
Agama tidak akan berguna apabila rakyatnya lapar, miskin dan bodoh.
Ada pedoman hidup yang klasik dan bagus: “Kenyang dulu baru ber falsafah”.
Sebaik-baiknya ajaran agama, namun apabila perut umatnya kosong, yang terjadi
adalah justru kriminalitas: kerusuhan dan kekerasan. Oleh sebab itu, agama
perlu meniadakan sumber-segala sumber kemiskinan dulu, terutama kemiskinan
struktural yang disengaja dan sengaja dibiarkan terjadi berkelanjutan oleh para
politisi busuk; misalnya: gaji yang tidak layak dan tidak adil. Dirut BUMN
terima 50 juta; sedangkan buruh/pns terendah terima 0,5 juta per bulan; rasio
1:100! Sistim penggajian, fasilitas dan tunjangan yang jauh berbeda antar
departemen dan antar BUMN! Sistem gaji di Indonesia, yang bagaikan hutan
belantara, telah menjadikan gap kekayaan yang luar biasa dan menjadikan sumber
KKN. Kebodohan akan mengakibatkan kesempitan berfikir, kesempitan berfikir
dapat disalah gunakan oleh pemuka agama yang berjiwa preman, hasil utama
didikannya adalah kefanatikan, kefanatikan (mengklaim paling suci dan paling
berhak atas surga!) akan mengakibatkan radikalism agama yang pada akhirnya akan
menghasilkan terorisme! Kemiskinan dan kebodohan menyebabkan mudahnya umat
untuk di cuci otak oleh pemuka agama preman, misalnya untuk melaksanakan: jihad
(di agama Islam dapat berbentuk bom bunuh diri, sekaligus melakukan pembunuhan
masal; sedangkan di agama Nasrani adalah bunuh diri secara masal/ramai2);
semuanya dilakukan demi dalih masuk surga!
Penutup
Kedunguan manusia telah mengubah ajaran suci Tuhan melalui para nabi menjadi
belenggu bagi umat beragama. Dan sejarah juga sering menjadi saksi bagaimana
penguasa politik, militer, birokrat, ekonom maupun pemuka agama bahu-membahu
mendungukan manusia agar dapat dikuasai oleh ambisi-ambisi mereka.
Singkat kata: “kitab suci semua agama sangat terbatas, Tuhan maha tidak
terbatas. Mencintai, menyayangi, dan mengikuti Sang Guru : Krishna, Budha,
Muhammad, Isa, Dalai Lama, Yosef Smith, dsb., jangan sampai menjadikan manusia
justru membatasi, membelenggu dan memenjarakan Tuhan Yang Maha Tak Terbatas
serta membatasi antar sesamanya ! Pemahaman akan Tuhan belum selesai dan tidak
pernah akan selesai. Oleh sebab itu, janganlah kita menghina Tuhan dengan
mereduksi/memperkecil kemahabesaran Nya menjadi hanya satu buku yang sangat
tipis sekali yang disebut kitab suci. Agama masih diperlukan, namun belajar
agama harus sampai mencapai tingkat tertinggi yaitu religiositas! Manusia yang
sudah mencapai derajat religiositas yang tinggi, sudah tidak lagi mementingkan
wadahnya yaitu agama, melainkan lebih mementingkan isi (intisari/makna) suatu
ajaran agama, dan ia tidak pernah berhenti untuk terus mencari Sang Kebenaran!
Dan ia menjadi manusia bebas merdeka yang tidak tersekat-sekat lagi.
Berbahagialah orang yang tidak beragama namun mempunyai religiositas yang
tinggi/dalam, sebab ia akan bebas merdeka dimana saja, kapan saja, dilingkungan
apa saja, sebab Tuhan akan selalu menyertai dia! Manusia religius tidak akan
pernah: membatasi Tuhan sebatas agamanya, membatasi sesamanya atas dasar
agamanya; sebab Tuhan adalah milik semua orang, baik yang beragama maupun yang
tidak beragama - sebagaimana matahari diciptakan untuk semua manusia. Tuhan
juga bukan masa lampau, melainkan lebih mengarah ke masa depan. Bila manusia
memiliki pandangan hidup seperti diatas, niscaya tidak akan ada lagi
radikalisme, intoleransi, fanatisme dan terorisme berbasis agama !
Sayang sekali, fakta sejarah mengisyaratkan bahwa agama
dapat dan sering dimutlakan, dipolitisasi dan diperalat oleh para penguasa,
dengan demikian agama lalu justru menjadi sumber berbagai krisis seperti etika,
moral dan kebudayaan ; bahkan seringkali menjadi sumber ketidak
harmonisan, pertikaian, kerusuhan, pembunuhan, malahan pertempuran antar
manusia!
Ditangan manusia yang berfilosofi ‘KEUANGAN YANG MAHA KUASA’
BUKAN ‘KETUHANAN YANG MAHA KUASA’, maka agama diperalat menjadi alat bisnis dan
kekuasaan yang luar biasa, terutama di negara berkembang dimana masyarakatnya
masih mabok agama.
Disamping itu, sayang seribu kali sayang, kebebasan beragama di Indonesia
termasuk semu, sebab agama2 baru, yang ternyata banyak sekali jumlahnya, dilarang
masuk ke Indonesia (juga kebebasan untuk tidak beragama atau berkepercayaan)!
Mungkin hal ini dikarenakan takut mengganggu kemapanan agama2 yang sudah
dahuluan masuk Indonesia. Silahkan search (cari tahu) agama baru di internet
dengan Google dengan cukup mengetikan: new religion. Selain itu, lihatlah
format KTP kita, KTP hanya memuat agama tertentu; padahal agama terus tumbuh
dan berkembang, dan religiositas adalah pencapaian terbaik untuk umat manusia;
dengan pilihan politis demikian, sudah dapat ditebak bahwa visi kedepan bangsa
ini telah salah secara mendasar! Membatasi pengetahuan akan Tuhan hanya sebatas
kitab suci yang tipis dan lama (maaf, kuno – ditinjau dari sisi usia), dan
membatasi/menghalangi manusia untuk mengetahui rahasia Tuhan lebih lanjut dan
lebih jauh lagi adalah dosa besar yang tidak disadari oleh para pemimpin agama
saat ini yang pemikirannya statis-kaku-beku!!!
Dari pengalaman hidup, pengamatan perilaku, dan diskusi2 di
internet/Youtube, nampak jelas watak agama Islam yang mempunyai karakter
negatip yaitu : Islamisasi Tuhan (Tuhan beragama Islam), Arabisasi Agama
(budaya Arab sangat dominan dalam agama), Politisasi Agama (Kalifah dan
Syariah), Bisnisisasi Agama (Rukun Haji, Zakat Fitrah, dan Perijinan Makanan
Halal Haram), dan Pembodohan serta Penjajahan Budaya (berkedok agama). Sayang
sekali mayoritas Indonesia adalah Muslim, sehingga sulit sekali untuk maju !
Sebagai penutup, kami juga mohon agar artikel2 ini disebar luaskan kepada para:
intelektual, aktivis kampus, pemuka agama, dan cendekiawan keagamaan di segenap
penjuru Nusantara dan ke seantero dunia baik secara: digital
(diforwardkan/disimpan di archive suatu situs internet), suara (dibacakan di
radio) maupun secara kertas (dicetak/dibukukan), dengan harapan untuk menjadi sumber
pembahasan/diskusi yang sehat dan sumber riset mengarah ke doktoral (PhD) demi
memicu pengertian yang lebih mendalam tentang kebudayaan, agama, politik, sex
dan Tuhan. Uluran tangan untuk menterjemahkan artikel ini kedalam bhs. Inggris
yang baik/standar agar dapat di publish secara internasional melalui internet
sangat kami tunggu2. Dengan peningkatan kecerdasan melalui internet, diharapkan
kualitas SDM Indonesia dapat meningkat tajam, sehingga diharapkan negara
Indonesia (dan dunia) menjadi lebih aman, tenteram dan sejahtera. Sekian dan
terima kasih.
Sumbangan Pemikiran LSM Merah Putih, di Kalten, 14 Maret
2012
Tidak ada komentar:
Posting Komentar