Abstrak - Ketika terjadi reformasi, Suharto dengan tenang, aman, nyaman dan tentram tetap bercengkerama di jl. Cendana bersama anak cucunya, ini sungguh luar biasa! Para politisi dan profesor dari Luar Negeri sampai tidak habis herannya, mereka meminta bangsa Indonesia untuk secara cerdas menganalisa hal ini mengingat fakta sejarah didunia mengatakan bahwa jatuhnya rezim diktator atau koruptor selalu dibarengi dengan: a) kaburnya penguasa ke luar negeri atau terbunuh b) partai pendukung utamanya dibubarkan c) militer kembali ke barak d) ada repatriasi/pengembalian harta rampokan presiden, keluarga, dan kroninya kepada negara. e) Namun anehnya, selain keempat hal ini tidak terjadi di Indonesia, yang paling ajaib adalah Soeharto justru diperkenankan menunjuk penggantinya yaitu Habibie (mana ada diktator direformasi dibolehkan menunjuk pengganti?). Penunjukan Habibie merupakan titik balik sejarah dan awal dari segala mala petaka bangsa Indonesia. Kelima point ini terjadi dikarenakan kepiawaian regim Soeharto dalam menyusupi gerakan reformasi, salah satu pimpinan reformasi adalah kader sejati Soeharto yang telah lama dipersiapkan dan sengaja diselundupkan, maka jadilah reformasi palsu seperti kita alami ini. Ternyata sejarah menandaskan bahwa bangsa Indonesia telah berkali-kali hanya dijadikan sekedar objek penipuan dan pembodohan, dari peristiwa 1965, hilangnya Supersemar, Serangan umum 1 Maret di Yogya, Tragedi Mei 1998, reformasi palsu 1998, dan berbagai kerusuhan yang direkayasa. Mengingat regim Soeharto (para jendral TNI AD saat itu) pada peristiwa 1965 adalah pelaksana lapangan (operator) dari strategi Amerika Serikat untuk penggulingan Bung Karno (lewat CIA), maka USA sampai saat ini memegang kartu As terhadap rahasia busuk sejarah hitam para mantan jendral tsb., dan mengingat politik Indonesia masih dikendalikan oleh para mantan jendral itu dibelakang layar, konsekuensinya adalah USA dapat mendiktekan semua kehendaknya terhadap Indonesia (lihat contoh kecil kasus Free port dan minyak Cepu); para mantan jendral yang saat ini rata2 berusia 65 tahun keatas merasa ketakutan setengah mati atas terbongkarnya rahasia mereka menjadi boneka USA dalam menjajah ekonomi Indonesia – inilah salah satu rahasia terbesar mengapa bangsa Indonesia tidak berkutik terhadap USA dan mengapa pelurusan sejarah Indonesia mengalami kesulitan luar biasa. Hubungan USA-Indonesia bagaikan tuan dengan jongos! Para politisi USA dengan mudah mendikte politisi Indonesia yang masih dikuasai para mantan jendral (ingat hampir semua parpol ada jendralnya) dengan cukup menggertak: ”Laksanakan perintahku, atau pilih rahasia moralmu yang sangat busuk – pengkianatan terhadap negaramu – akan kami bongkar tuntas!” Salah satu strategi yang ampuh bagi regim Soeharto untuk bersembunyi tuk menyelamatkan diri adalah politisasi agama, terutama agama Islam. Selain itu, institusi TNI juga mereka gunakan sebagai perisai berlindung. Selamat membaca, beropini (syukur membuat web blog sendiri), dan mohon artikel ini disebar luaskan.
PENGANTAR
Keterlibatan
AS dalam kupdeta militer yang merangkak di tahun 1965 di Indonesia sudah banyak
ditulis. Bung Karno (BK) yang mempunyai visi jauh kedepan sudah menetapkan
bahwa Indonesia adalah non blok, mandiri (berdikari), dan tidak mau tergantung
pada utang luar negeri (“Go to hell with your aids!”). Sayang sekali, Soeharto
dkk. melakukan konspirasi dengan USA (via CIA) menusuk bangsanya sendiri.
Negara-negara sahabat Bung Karno, sperti RRC dan India, yang mempunyai prinsip
serupa dengan BK dan tidak mempunyai pengkianat negara semacam Soeharto Cs.,
saat ini menjadi bangsa yang sehat, normal, bahkan adidaya! Mengingat regim
Soeharto (para jendral TNI AD saat itu) adalah pelaksana lapangan (operator)
dari strategi Amerika Serikat untuk penggulingan Bung Karno (lewat CIA), maka
USA sampai saat ini memegang kartu As terhadap rahasia busuk sejarah hitam para
mantan jendral tsb., dan mengingat politik Indonesia masih dikendalikan oleh
para mantan jendral itu dibelakang layar, konsekuensinya adalah USA dapat
mendiktekan semua kehendaknya terhadap Indonesia (lihat contoh kecil kasus Free
port dan minyak Cepu); para mantan jendral yang saat ini rata2 berusia 65 tahun
keatas merasa ketakutan setengah mati atas terbongkarnya rahasia mereka sekedar
menjadi boneka USA dalam menjajah ekonomi Indonesia – inilah rahasia terbesar
mengapa bangsa Indonesia tidak berkutik terhadap USA dan mengapa pelurusan
sejarah Indonesia mengalami kesulitan luar biasa. Perlu dimengerti sehabis
1965, kekayaan alam Indonesia mulai dari LNG Arun di Aceh sampai dengan
emas-timah Free Port di Irian sudah digaruk oleh negara USA dkk. Para politisi
USA dengan mudah mendikte politisi Indonesia yang masih dikuasai para mantan
jendral (ingat hampir semua parpol ada jendralnya) dengan cukup menggertak:
”Laksanakan perintahku, atau pilih rahasia moralmu yang sangat busuk –
pengkianatan terhadap negaramu – akan kami bongkar tuntas!” Hubungan
USA-Indonesia bagaikan tuan dengan jongos! Salah satu strategi yang ampuh bagi
regim Soeharto untuk menyelamatkan diri adalah politisasi agama, terutama agama
Islam. Selain itu, institusi TNI juga mereka gunakan sebagai perisai
berlindung. Presiden SBY baru-baru ini terpaksa mengulangi langkah BK lagi
dengan mengunjungi RRC. Jadi, ditahun 1965, Indonesia dijadikan lapangan
pertempuran ideologi antara USA dkk vs. Rusia dkk., yang menang USA
(kapitalis); sebaliknya di Vietnam, yang menang Rusia (komunis).
Pada sekitar
tahun 1990 an, Soeharto menyadari kesalahannya, disamping sudah terdesak oleh
kaum reformis, ia pun ingin banting stir ingin lepas dari USA (yang dianggap
merampok kekayaan alam Nusantara). Cara teraman adalah menggunakan politisasi
agama. Dibawah ini akan dijelaskan denngan detil bagaimana begawan politik
Soeharto dengan seni yang indah dan tinggi sekali memperdaya bangsanya melalui
politisasi agama Islam. Dengan strategi save exit ini bangsa Indonesia bagaikan
dimasukan kepihak Timur Tengah dalam menghadapi dunia barat! Dengan demikian,
Indonesia seolah-olah ingin dilepaskan dari mulut harimau (USA dkk.), namun hendak
dimasukan ke mulut buaya (Arab/Timur Tengah). Berkat politisasi agama, regim
Soeharto memang selamat-sehat walafiat; namun dengan hasil sampingan: Indonesia
masuk sekaligus dua mulut: harimau dan buaya! Indonesia s/d saat ini (2006)
adalah kembali menjadi ajang pertempuran ideologi antara: Barat lawan Timur
Tengah, antara kaum sekuler dan kaum Islam, antara modernitas dan kekolotan
agama.
***
POLITISASI
ISLAM
Konsep Islam
adalah agama sekaligus politik, maka Islam tidak pernah berhenti melakukan
manufer politik atau diperalat untuk kepentingan politik, misalnya:
- Prabu
Brawijaya “ditusuk dari belakang” oleh wali songo (MUI abad itu), sehingga
kerajaan Hindu Budha yang jaya runtuh berikut budaya dan pustakanya (keindahan
candi berikut buku2nya)
-
Penumpasan dan pembunuhan ratusan ribu pengikut PKI di tahun 1965 (Islam
dilawankan PKI oleh pak Harto)
Tiga
Era Politisasi Agama Zaman Soeharto
A.
Soeharto di Era bu Tin Soeharto
B.
Era Habibie
C.
Era Reformasi
Disaat
berjaya, Suharto sangat menekan Islam karena pengaruh ibu Tien yang berjiwa
Kristen (Jendral Beny Murdani dan para Menteri serta think thanknya kebanyakan
Kristen), ketika regim Orba nyaris jatuh, maka keluarga Cendana dan petinggi
negara yang lain (termasuk Bob Hasan) pada ribut naik haji, kemudian pejabat
tinggi
- Islam
juga terus dipakai untuk menolak rekonsiliasi untuk memulihkan trauma para
korban G30S dengan cara pencabutan TAP MPRS XXV/1966 yang dianggap tidak
manusiawi.
- Islam
juga terus dipakai untuk menghadang pengungkapan misteri sejarah di seputar
1965 secara gamblang agar tidak menjadi 'kabut misteri sejarah' yang diwariskan
pada generasi penerus melalui buku sejarah yang “palsu”. Masyarakat Muslim
selalu dibuat takut akan bangkitnya PKI, padahal radikal Islam jauh lebih
berbahaya bagi Indonesia dan dunia.
- Regim
Orde Baru (Suharto) menggunakan Islam untuk menyelamatkan diri (PDIP dilawankan
Islam, sehingga ibu Megawati tidak dapat menjadi presiden, ingat Poros Tengah
pimpinan Amin Rais). Disaat berjaya, Suharto sangat menekan Islam karena
pengaruh ibu Tien yang berjiwa Kristen (Jendral Beny Murdani dan para Menteri
serta think thanknya kebanyakan Kristen), ketika regim Orba nyaris jatuh, maka
keluarga Cendana dan petinggi negara yang lain (termasuk Bob Hasan) pada ribut
naik haji, kemudian pejabat tinggi pemerintahan diganti dengan wajah2 yang
Islami yang Arabik (Fuad Hasan, Fuad Bawazir, etc). Ketika ibu Tien meninggal,
maka Ikatan Cendekiawan Muslim (ICMI) didirikan oleh Habibie, Tutut, Letjen
Hartono di Universitas Brawijaya Malang; Gus Dur sangat menentang ICMI. Regim
Soeharto meniru Iran, beliau sudah muak ditipu Amerika Serikat, maka beliau
meniru cara Iran untuk mengusir USA sekaligus menyelamatkan diri dari PDIP
dengan menggunakan Islam. Syah Iran berhasil digulingkan Imam Khoemeni melalui
revolusi Islam; persahabatan Iran dengan USA dan dunia Barat berubah total
menjadi permusuhan, dan Iran berjaya menjadi Republik Islam. Demikian pula
regim Soeharto tetap aman tentram dari reformasi berkat manipulasi Islam yang
sangat pintar, para pecinta dan begundal Soeharto masih banyak bercokol di ring
satu dan dua pemerintahan orde Reformasi.
-
Pelecehan kaum Tionghoa 1998, Islam dipakai untuk menindas dan mempermalukan
kaum Tionghoa yang tidak bersalah (Islam dilawankan Kaum Tionghoa karena
kecemburuan ekonomi)
- Poros
tengah Amin Rais menghentikan Megawati menjadi presiden saat reformasi
1998(Islam dipakai untuk menyelamatkan regim Orde Baru; Islam dilawankan PDIP
yang Nasionalis)
- Amin
Rais menurunkan Gus Dur (GD, Islam garis keras dilawankan Islam moderat). GD
dianggaap berbahaya bagi sisa ORBA karena GD ingin mencabut TAP MPRS 1966
(Tentang pelarangan PKI) dan menghapuskan Undang2 Penodaan Agama. Kembali Poros
Tengah beraksi dibawah pimpinan Amin Rais (AR) untuk menjatuhkan GD. Melihat
peran ganda Amin Rais, pakar politik dari Barat menyatakan bahwa AR memang
diselundupkan oleh pak Harto ke Orde Reformasi untuk menyelamatkan Orde Baru.
- Islam
untuk menjegal non Muslim Ahok untuk pilihan gubernur DKI; demikian pula
penjegalan non Muslim untuk menduduki jabatan tinggi di kantor2 pemerintahan.
- Islam di
pakai untuk pilpres agar Bpk Jokowi kalah.
- Islam
dipakai untuk mempersulit masuknya aliran kepercayaan asli Indonesia kedalam
jajaran yang sepadan dengan agama/kepercayaan lain yang berasal dari Luar
Negeri dan yang tertera dalam KTP. Aliran kepercayaan asli Indonesia misalnya
Kejawen penuh local wisdom, local content, dan menganggap Tuhan YME beserta
alamNya tidak pernah selesai dipelajari; jadi bukan agama yang dicari tapi
selalu mencari kebenaran yang tak pernah selesai dimenegerti. Sampai saat ini
kepercayaan asli masih dihambat untuk diakui secara resmi dan dapat dicantumkan
di KTP dan UU Perkawinan.
- Islam
Radikal menggunakan Front Pembela Islam untuk melakukan “manajemen ketakutan
berbasis kekerasan”; agama Islam dan Allah dianggap sedemikian rapuh, harus
dibela dengan kekerasan. Gedung untuk hiburan, ibadah, pertemuan, dst., yang
dianggap tidak Islami, di teror oleh FPI dengan kekerasan dan perusakan,
kemudian diusulkan dilarang beroperasi.
Reformasi
Palsu
Bila anda
seorang intelektual Muslim yang dewasa dan rasional, maka setelah membaca
fakta2 sejarah dibawah ini, lalu merenungkannya secara mendalam, barangkali
anda tidak akan emosi dan marah, bahkan justru akan menitikan air mata
kepedihan dan mengucapkan terima kasih kepada para penulisnya atas fakta,
kritik dan saran yang terkandung didalamnya. Kegeniusan regim Soeharto dalam menaklukan
bangsanya dengan berbagai cara dimana salah satu diantaranya adalah memanipulasi
agama harus dibeberkan dengan jelas-tuntas. Sama sekali tidak ada maksud
negatip dari hati penulis, kecuali keinginan mengungkapkan keprihatinan hati
nurani penulis. Kecintaan penulis dkk. yang tulus dan dalam kepada Tuhan YME
serta negara RI menjadi sumber utama inspirasi untuk menulis artikel ini.
Berikut ini fakta2 sejarah nyata tersebut yang melukiskan BEGITU INDAHNYA
STRATEGI BEGAWAN POLITIK SOEHARTO DALAM MENAKLUKAN BANGSANYA!
- Ditahun
1965, Jendral Soeharto beserta para jendral TNI AD telah
memprovokasi/mendalangi massa NU (umat Islam, terutama di Jatim) untuk
membantai ratusan ribu massa PKI yang tak berdosa dan tidak tahu menahu tentang
politik di desa2, hal ini dilakukan untuk menutupi coup detat angkatan darat
sekaligus untuk mengkambinghitamkan PKI. Strategi politik yang disebut “nabok
nyilih tangan” (menghabisi musuh dengan meminjam tangan manusia lain) sungguh
sangat memprihatinkan, disini agama dipakai untuk memprovokasi masa dan
membantai bangsanya sendiri! Rasa hormat terhadap agama dan Tuhan boleh dikata
tidak ada dalam hati regim Soeharto. Saat ini, baru Gus Dur
saja (saat itu sebagai presiden) yang meminta maaf. Pembunuhan yang lebih kejam
lagi adalah “pembunuhan kemanusiaan” terhadap anak cucu para anggota PKI yang
tidak tahu menahu dan tidak terlibat politik dengan cara merintangi
perkembangan kepribadian, emosi dan bisnis mereka (alat2 pembunuh yang
diciptakan misalnya: litsus dan S.K bebas G30S). Operator pembunuhan nasional
ini adalah pasukan KOPASUS/RPKAD dibawah pimpinan Sarwo Edhi (mertua presiden
SBY). Pembunuhan para jendral
(Ahmad Yani, Suparman, Tendean, dst) adalah dikarenakan mereka menolak melepas
prinsip non blok dan menolak untuk berpihak pada regim Soehato/USA. Selain itu,
mereka harus dihabisi Soeharto dkk. agar tidak menjadi pesaing/duri dalam
daging. Nasution yang dapat menyelamatkan diri, akhirnya terpaksa bergabung
dengan Soeharto; pada akhirnya: Jendral Soeharto menjadi presiden, dan Nasution
menjadi ketua MPRS, mulai saat itu Indonesia dibawah regim militer (eksekutip
dan legislatip dibawah militer) dan menjadi negara boneka USA! Di era itu, USA
telah banyak berhasil membuat negara boneka, terutama di Amerika Latin, Timur
Tengah, dan Asia. Peristiwa G30S 1965 lebih tepat bila didefinisikan sebagai
pengkianatan regim Soeharto terhadap bangsanya sendiri, bukan pengkianatan PKI.
Dengan jurus “maling teriak maling”, Soeharto dkk. mendirikan monumen Lubang
Buaya dan menginstruksikan agar seluruh jalan2 utama di Indonesia diberi nama para
jendral yang tewas tsb., licik namun indah sekali bukan? Yang perlu dicamkan
ialah: kalau menipu jangan tanggung2!
- Dijaman
Soeharto (Orba): agama diperalat untuk menggaet suara pemilih disaat Pemilu,
misalnya saja penyalahgunaan dai Zainudin MZ yang sengaja sering ditampilkan di
TV, kemudian sengaja digelari "Dai Sejuta Umat" agar rakyat mudah
terpikat. Jurus ini disebut
“politik kambing putih”. Setelah populer, dai ini dibawa safari Ramadhan oleh
menteri Harmoko untuk menipu rakyat demi kemenangan GOLKAR. Memenangkan suara
pemilu suatu daerah diuamakan melalui para ulamannya. Semenjak regim ORBA s/d
saat ini para kyai dan ulama terus diperebutkan oleh politikus untuk menjadi
sekedar alat politik. Oleh regim Suharto, para ulama busuk ini dibuatkan wadah
yang dinamai MUI. Oleh orang bijak, kata MUI lebih tepat kalau diterjemahkan
sebagai Majelis Ulama Istana (atau alat penguasa). Saat ini adalah sulit untuk
membedakan antara ceramah agama dan ceramah politik seorang ulama. Baru Gus Dur
saja (saat itu sebagai presiden) yang berani memarahi para ulama di MUI dan
saat itu disiarkan secara langsung di TVRI! Gus Dur menandaskan bahwa para ulama ini adalah para pengejar harta dan
kekuasaan. Sampai dengan saat ini MUI diberikan income yang sangat besar sekali
yaitu melalui labelisasi halal/haram semua makanan (semestinya Badan POM). Sebagai
pembanding, Probo Sutejo, paman Soeharto, berawal dari guru SMA, diberikan
kekuasaan labelisasi cengkeh, maka jadilah ia trilyuner; Probo mampu menyuap
Rp. 16 milyar ke pada hakim agung di MA! Disini agama kembali dipakai untuk
menipu rakyatnya melalui jurus politik kambing putih: menokohkan orang untuk
kemudian memperalatnya. Penokohan dilaksanakan dengan seringnya “kambing putih”
tsb. dimunculkan di media informasi seperti tv, koran, dan radio; disini
prinsip iklan dijalankan, semakin sering dimunculkan di media informasi,
semakin dikenal dan disayang pemirsa, pembaca dan pendengar! Ingat di jaman
regim ORBA dan s/d saat ini, manusia yang cerdas, bijak, bermoral dan baik,
masih sulit untuk menembus mass media yang masih dikuasai oleh regim bablsan
ORBA. Seandainya dapat muncul, maka itu hanyalah sekedar lipstick pemanis saja,
orang baik boleh dikata hanya dapat slot waktu dan ruang yang minim sekali di
mass media. Maka media alternatip seperti internet, misal news group dan we
blog, adalah media terbaik untuk pencerdasan politik. Tidak heran, Gus Dur yang
cerdas segera membubarkan Dept. penerangan begitu ia menjadi presiden!
Departemen penerangan adalah sungguh2 alat pembodoh dan pembuta politik bagi
masyarakat Indonesia. Tidak heran bila orang bijak dan pengamat dari luar
negeri menyimpulkan: “Sungguh sulit menemukan orang baik di Indonesia!”
- Ketika
regim militer sudah terdesak oleh kaum intelektual kampus, maka Habibie bersama
para Jendral (Hartono, Ahmad Tirtosudiro, mbak Tutut, dsb.) mendirikan ICMI di
Universitas Brawijaya Malang guna menarik simpati dan mengelabui kaum
intelektual. ICMI menjadi begitu populer saat itu, lalu dibuat policy bahwa masuk
ICMI adalah kunci jabatan birokrasi yang tinggi. Tak heran, saat itu, banyak
Profesor dan Doktor terpikat masuk ICMI terbius tuk menduduki jabatan
birokratis yang tinggi. Hal ini paling tidak menandakan adanya: kebutaan
politik dan tingginya napsu manusiawi (harta dan kedudukan) para ilmuwan Muslim.
Disini agama dipakai untuk menjaring, membius dan mengelabui cendekiawannya
sendiri demi save exit regim ORBA. Jurus ini disebut “menjaring ikan gurami
mabuk cacing”, hebat bukan? Ini juga bukti bahwa agama mempunyai potensi
memabukan manusia sampai rasio manusia mengalami kemunduran luar biasa.
- Seiring
dengan ICMI, Suharto juga mengganti para menterinya yang semula berwajah
Nasionalis menjadi bernuansa Arab-Islami demi mengambil hati umat Islam guna
menyelamatkan regim militer dan ORBA. Para menteri keturunan Arab tsb. adalah:
Marie Muhamad, Ali Alatas, Saleh Affif, Fuad Hasan, Bedu Amang, Fuad Bawazir,
dsb. Kemudian mbak Tutut Suharto yang cantik dan seksi ke Mekah naik haji, dan
sepulangnya dari Arab, beliau memakai jilbab. Bob Hasan pun berganti nama
menjadi Muhamad Hassan. Sebelumnya Suharto telah mengobral uang rakyat sebanyak
700 trilyun rupiah ke etnis Tionghoa yang nakal lewat BLBI (banyak Chinese yang
baik, namun regim Suharto yang jahat lebih suka memilih yang hitam). Dengan
demikian, regim ORBA ingin berganti baju, yang dulu: militeristik, pro
nasionalis (dengan think-thank CSIS), dekat dengan Tionghoa, dekat dengan
USA/IMF, dan terkesan menindas Islam, menjadi pro Islam atau bahkan ingin
mengesankan diri sebagai pembela Islam, menjauhi Tionghoa dan Barat. Regim ORBA
saat itu memang sudah diambang kejatuhan, maka strategi terjitu adalah
politisasi agama. Disini agama dipakai untuk: meninggikan etnik keturunan (Arab),
menipu para cendekiawan Muslim, meremehkan suku dan budaya asli bangsa sendiri (Jawa),
memprovokasi anti Barat, dan menipu rakyatnya sendiri. Jurus ini disebut
“bidadari bersolek diri”! Bagus bukan?
- Seminggu
sebelum tragedi Mei 1998 yaitu pembantaian/perkosaan umat Tionghoa di Jakarta
dan Solo, yang didalangi Wiranto dan Prabowo (masih perlu dikonfirmasi!) dengan
operator RPKAD dan Pemuda Pancasila, para provokator telah diinstruksikan untuk
menulisi rumah2 penduduk dengan kata2 bernuansa SARA yaitu:"Milik Pribumi
Muslim". Dengan demikian, para oknum jendral AD tsb. berusaha mengadu
domba agama Islam dengan etnis Tionghoa. Nampak bahwa regim Suharto/militer
ingin mengalihkan tanggung jawab salah urus negara kepada etnis Tionghoa (direpresentasikan
oleh konglomerat hitam), selain itu juga ingin membuat citra bahwa umat Muslim layak
marah kepada etnik Tionghoa. Padahal hampir semua bisnis militer, politisi dan
pejabat tinggi kebanyakan dijalankan oleh konglomerat hitam Tionghoa (sekali
lagi, di Indonesia tercinta ini jauh lebih banyak Tionghoa yang baik, bijak dan
pandai daripada yang “hitam”, dan jika mereka ini dipakai secara baik dan
benar, maka seperti Hongkong, RRC, Singapore, Malaysia, dan Thailand, Indonesia
akan maju pesat). Manusia Jawa lalu merasa: dianaktirikan (apalagi dibunuhi
dijaman 1965) dan Tionghoa dianak emaskan (diberi BLBI 700 trilyun); sebaliknya manusia Tionghoa merasa:
dianaktirikan (diperkosa dan dilecehkan saat tragedi Mei 98, penindasan budaya,
serta adanya persyaratan SKBRI) dan pribumi dianak emaskan (misalnya: diberi
kesempatan lebih besar menjadi PNS); kemudian menjelang reformasi, keturunan
Arab dianak emaskan. Dimulai semenjak regim Suharto, hubungan pribumi dan
Tionghoa menjadi tidak harmonis bahkan cenderung saling curiga; demikian pula
antara Jawa dan non luar Jawa (adanya sentralisasi mengakibatkan luar Jawa jauh
tertinggal). Disini agama dipakai untuk adu domba, divide et’ impera (pemecah
belah), kerusuhan, perkosaan bahkan pembantaian etnis. Jurus ini disebut
“melempar tanggung jawab, memotong kambing hitam”. Luar biasa bukan?
- Ketika
Akbar Tanjung diadili masalah penyelewengan dana Bulog, ia berdalih bahwa uang
itu telah disalurkan ke yayasan Islam yang disebut Rudhatul Janah guna
mengentaskan kemiskinan; padahal uang itu dipakai untuk mendirikan berbagai
partai politik agar PDIP saat itu tidak menang mutlak. Para politisinya (terutama militer) lalu
disusupkan kesemua parpol, bahkan termasuk PDIP! Bila saat itu tetap hanya ada
tiga partai, PDIP menang mutlak, pastilah regim ORBA sudah musnah! Salah satu
partai politik yang didanai adalah PAN. Jurus penggunaan agama untuk
bersembunyi dan sekaligus untuk ditunggangi disebut “bertengger dan bersenyum
di jendela masjid”, cerdik bukan?
- Ketika
terjadi reformasi, Suharto dengan tenang, aman, nyaman dan tentram tetap
bercengkerama di jl. Cendana bersama anak cucunya, ini sungguh luar biasa! Para
politisi dan profesor dari Luar Negeri sampai tidak habis herannya, mereka
meminta bangsa Indonesia untuk secara cerdas menganalisa hal ini mengingat
fakta sejarah didunia mengatakan bahwa jatuhnya rezim diktator atau koruptor
selalu dibarengi dengan: a) kaburnya penguasa ke luar negeri atau terbunuh, misalnya
Marcos, Shah Iran, Mobutu Seseseko, Jean Betrand Aristi, dst., b) partai
pendukung utamanya dibubarkan, c) militer kembali ke barak, d)
repatriasi/pengembalian harta rampokan presiden, keluarga, dan kroninya kepada
negara. Namun yang terjadi di Indonesia adalah aneh bin ajaib: a) presiden berserta keluarga hidup
aman-tentram-sejahtera di istananya, b) partai pendukung Orde Baru beserta
ormas2nya tetap utuh, c) militer/polri tetap dominan, d) harta rampokan
presiden, keluarga, dan kroninya tetap aman di bank-bank luar negeri (padahal
beban utang negara terus-menerus meningkat, pengangguran makin tinggi, dan
rakyat miskin makin banyak). Satu lagi hal yang paling tidak masuk akal adalah
point e) Soeharto justru diperkenankan menunjuk penggantinya yaitu Habibie
(mana ada diktator direformasi dibolehkan menunjuk pengganti?). Penunjukan
Habibie merupakan titik balik sejarah dan awal dari segala mala petaka bangsa
Indonesia. Memang sayang sekali, bangsa ini baru terlelap tidur sehingga
otaknya tidak mampu menganalisanya. Para kaum supercerdas politik (terutama pengamat
politik luar negeri, akademisi kampus) mengatakan bahwa disamping Suharto
mendapat jaminan keamanan dari kelompoknya (TNI AD lewat Jendral Wiranto dan
Prabowo), Suharto juga mendapat jaminan keamanan dari salah seorang tokoh
reformasi yang berhasil diselundupkannya… hebat bukan? Dalam politik, cara
terbaik melumpuhkan lawan adalah strategi penyusupan (ingat dimasa ORBA: berapa
kali PDI disusupi dan dipecah belah dari dalam). Siapakah diantara ketiga tokoh
reformasi (Mega, Gus Dur, dan Amien Rais) yang merupakan tokoh selundupan itu?
Ia adalah Doktor Amien Rais, warga keturunan Arab asal Solo, sahabat lama
Prabowo jauh hari sebelum reformasi (Prabowo = menantu Suharto); jadi regim
Suharto sudah lama mempersiapankan strategi penyusupan Reformasi. Amien Rais,
kader brilian ICMI, kemudian pura-pura bentrok dengan ICMI, keluar dari ICMI
dan menyelundup sebagai tokoh reformasi. Bukti lain bahwa Amien Rais adalah
antek Suharto terlihat jelas dari gerak zig-zagnya. Saat itu, media informasi
seperti TV, radio, dan koran masih didominasi regim ORBA, namun Amien Rais
“dikambing putihkan” dengan cara banyak dimunculkan di media informasi. Jurus
ini disebut “menyelundupkan monyet diantara kambing tengik”, cerdik bukan?
- Begawan
Soeharto juga banyak menggunakan politisasi kebudayaan, misalnya politisasi
bahasa: korupsi = salah prosedur, penculikan = diamankan, pelanggaran HAM =
pembelaan negara, tidak bertindak = takut melanggar HAM, dst.; politisasi adat
istiadat: mikul duwur mendem jero, diartikan hanya sekedar melupakan dan
memaafkan pelanggaran HAM berat dan maha korupsi tanpa memandang keadilan dari
sisi korban; politisasi kesehatan: sehat walafiat bilang sakit, sehingga bila
kaum cerdik pandai terutama para mahasiswa berdemo, lalu dituduh sebagai tak
tahu adat, tak beragama, dan tidak beraklak, sebab manusia tua renta yang sakit
parah kok malah didemo! Padahal di Cendana, begawan Soeharto bersenda gurau
dengan cucu-cucunya dan para kroninya! Kaum cerdik pandai sudah kalah angka
dulu dalam hal politisasi kesehatan ini. Strategi politik sakit saat ini ditiru
oleh para kroni Soeharto dan mewabah secara nasional.
- Dengan cerdik
dan licik, Golkar mengetahui bahwa tidak akan bisa memenangkan pemilu, maka
dengan strategi pelipat gandaan jumlah parpol dan penyusupan di setiap parpol
(terutama para jendralnya), walau kalah dalam Pemilu sehingga tidak dapat
menguasai eksekutip, namun Golkar tetap dapat menguasai legislatip (koalisi antar
penyelundup diberbagai Parpol). Dengan demikian kekuasaan dan semangat Orde
Baru telah dipindahkan dari istana presiden ke gedung parlemen di Senayan (dimana
politikus ORBA telah diselundupan di partai reformis dan di banyak partai baru yang
telah didanai dan dipersiapkan untuk mendominasi DPR/MPR). Dengan dominasi ini,
tidak heran bila Amien Rais (ketua PAN) sebagai reforman selundupan berhasil
dipilih dan didudukan sebagai ketua MPR, sungguh luar biasa taktik regim
Soeharto! Kemudian, dengan kelicikan lagi, dilakukan amandemen UUD 1945 tahun
1999 yang dibikin(-bikin), maka kekuasaan pembuatan undang-undang menjadi
dipindahkan dari istana negara ke gedung parlemen di Senayan. Saat itu (jaman
Gus Dur dan Mega), presiden boleh dikata hanya menjadi bulan2an DPR. Pada saat
pemilu selanjutnya, agar SBY menang, maka KPU telah disusupi oleh ”pakar2
bayaran” (rata2 akademikus dari UI) untuk
melakukan berbagai kelicikan. Kelicikan ini membuahkan kemenangan SBY atas
Megawati. Pentolan2 KPU banyak yang mendapat kursi empuk, a.l. Hamid Awaludin
dan Arnas Urbaningrum. Kelicikan atau kecurangan para pakar ini hingga sekarang
masih alot untuk disidangkan di pengadilan! Semestinya partai besar seperti
PDIP berani menyatakan bahwa Pemilu y.l. tidak bersih! Kemudian, taktik koalisi
antar penyelundup di Senayan dilakukan lagi. Jauh hari telah disiapkan dan
didanai partai baru yaitu PKS (dari mana dana partai gurem ini? Ini mirip
dengan kasus pendirian PAN). Saat kampanye, partai reformis selain PKS, hampir
tidak pernah di cover di televisi, sebaliknya PKS terus-terusan dimunculkan.
(Ingat, Soeharto Cs. menggunakan Amien Rais, PAN, ICMI, HMI, KAHMI dan MUI
untuk menyelamatkan diri; regim bablasan Orba menokohkan Nur Mahmudi dan
membantu membentuk PKS demi memenangkan Pemilu). Pemilu waktu itu didominasi
oleh: rebutan para kyai (bukan para intelektual), rebutan sultan
(Yogya/Solo/Cirebon), ziarah ke makam2 dan berdangdutan; nuansa ”kecerdasan
bangsa” tidak ada sama sekali! Memang benar, reformasi tidak akan terjadi bila
media informasi dikuasai regim ORBA. Peristiwa ”Amien Rais” berulang lagi, kali
ini ketua PKS (Hidayat N. M.) berhasil dijadikan ketua MPR! Karena regim Orba
beserta bablasannya sudah merasa menang angin baik di eksekutip dan legislatip,
maka bandul kekuasaan dikembalikan lagi ke eksekutip! Simaklah, karena Presiden
dan Wapres dipilih langsung, maka kedudukan eksekutip bagaikan tak tergoyahkan!
Presidennya dari militer (dari partai kecil, ini tak masuk akal-merusak sistem
ketatanegaraan), wapresnya dari GOLKAR, lalu apa sih bedanya dengan regim ORBA?
Gerilya untuk mengkramatkan kembali UUD’ 45 dan Pancasila kembali ditingkatkan.
Stasiun televisi, RRI, dan mass media mulai mereka kuasai lagi. Mengingat
komposisi anggota DPR/MPR seperti ini, tidak heran bila DPR s/d saat ini (2006)
mayoritasnya (masih) dipenuhi oleh mentalitas dan kendali kekuasaan semangat
Orde Baru. Jurus yang busuk bukan? Jurus ini disebut “menggendam dan menilep
manusia yang sedang mabuk kepayang”, luar biasa cerdas bukan?
Tugas
Khusus Amien Rais dkk.
Sebagai
reforman selundupan dan bayaran dengan tujuan justru untuk menyelamatkan regim
Orba, maka Amien Rais dkk. secara cerdik membelokan arah reformasi dengan cara:
a) Ketika
Suharto dengan seenaknya/inkonstitusional ("Kebijakan”) menunjuk Habibie
sebagai penggantinya, maka kaum
intelektual kampus dan para mahasiswa menolak Habibie (Hbb) dan ingin
menurunkannya, Amin justru melindungi Hbb dengan himbauannya agar Hbb diberi
kesempatan tuk memimpin reformasi dan Amin sanggup menjadi sparing partnernya
apabila Hbb menyeleweng. "Kebijakan semu” ini hingga hari ini menyisakan
multiplikasi persoalan berlarut-larut yang semu dan tak berujung pangkal karena
semua keadaan tiba-tiba berada dalam gerakan darurat yang tumpang tindih,
simpang siur, tanpa pernah diusut benang merah sebab-musabab persoalannya.
b) Ketika akhirnya
PDIP menang pemilu (namun tidak bisa menang mutlak, karena partai peserta
Pemilu disengaja banyak sekali dan terjadi penyusupan), mengingat regim ORBA
masih merasa ragu & takut sekali apabila Megawati menjadi presiden (siapa
tahu Mgw, anak Sukarno, akan balas dendam thd regim Suharto) maka perlu
kelicikan untuk menjegal Mega, Amien pun menjadi dalangnya dengan membentuk
poros tengah yang bernuansa Islami dan dengan jargon "Wanita belum bisa
diterima oleh ulama Islam sebagai presiden”. Gus Dur yang dianggap kurang
berbahaya terhadap regim ORBA dinaikan menjadi presiden (walau dari persyaratan
kesehatan jasmani jelas2 tidak mungkin ia menjadi presiden sebab buta; namun
saat itu hanya Gus Dur yang dapat menandingi kepopuleran Megawati).
d) Ketika
dalam perjalanannya sebagai presiden, Gus Dur ternyata dianggap membahayakan
regim Orba, maka Amin Rais kembali beraksi lagi melalui MPR/DPR dan berhasil
menjatuhkan Gus Dur. Gebrakan gus Dur yang membahayakan regim Orba misalnya
adalah: membubarkan Deppen dan menetralkan LKBN serta TVRI (senjata informasi
paling canggih regim Orba, pembius dan pembodoh rakyat), pemulihan hak
kebudayaan etnis Tionghoa, serta diangkatnya Baharudin Lopa menjadi Jaksa
Agung, yang kemudian ditengah masa jabatannya, ia dihabisi oleh Regim ORBA.
Regim Orba memang pakar dalam culik-menculik, menghilangkan orang, dan
bunuh-membunuh serta adu domba sesama anak bangsa. Pengakuan/pertobatan ki
Gendeng Pamungkas, si pembunuh bayaran yang sering disewa keluarga Cendana dan
para jendral untuk mengeliminasi musuh politik,
dalam suatu vcd yang mudah didapat dipasaran adalah salah satu bukti
nyata. Termasuk yang dieliminir oleh regim Soeharto adalah: Soekarno, para
mahasiswa idealis, Munir, serta jendral bersih dan cerdas Agus Wirahadikusumah,
Baharudin Lopa, dan pengamat intelijen/militer sdr. Juanda yang juga diperkirakan
dihabisin di Paris (2006). Sedangkan pembunuhan biadab dan membabi buta oleh
regim militer ini adalah pada pembantaian PKI 1965 dan pembantaian/pelecehan
etnik Tionghoa 1998.
e) Ditahun
2004, Gus Dur ngotot ingin jadi calon presiden lagi; namun karena tidak
dibutuhkan lagi oleh regim ORBA, maka cacat matanya dipermasalahkan, kali ini
tidak ada lagi yang membelanya! Megawati yang sudah bisa dijinakan dan mulai
dekat dengan militer akhirnya direstui tuk jadi presiden.
g) Kemudian,
dalam salah satu pidatonya, Amin Rais menandaskan untuk tidak mengungkit-ungkit
lagi Soeharto dengan alasan usia dan sakit; padahal Soeharto dkk. itu kunci
keadilan, kunci KKN, kunci masalah dan pelurusan sejarah, kunci uang rampokan yang
ada di bank2 L.N; Soeharto adalah sumber dari segala sumber malapetaka
Indonesia (bagaikan Hitler bagi Jerman); jadi sebaiknya Soeharto diadili dulu,
mengakui bersalah, barulah diampuni. Kasus terakhir, bulan Maret 2006, AM Fatwa
dari PAN menjenguk Tommy Suharto dengan alasan kemanusiaan, diperkirakan ini adalah
bagaikan balas jasa PAN atas pendanaan awal partai PAN oleh regim Soeharto,
serta mengingat menguatnya kembali regim militer (kembali USA ingin dibelakang
militer lagi). Dalam gerakan zig-zag si reforman palsu ini (Amin Rais), ia
banyak mendapat dukungan resmi dan restu dari oraganisasi masa dan politik
berbasis Muhammadiah seperti ICMI, HMI, KAHMI, dan MUI. Sampai dengan saat ini
Amien Rais beserta petinggi ICMI, HMI, KAHMI, dan MUI sudah tidak pernah lagi
mengusik Suharto beserta kroninya, karena sudah kenyang akan keduniawian:
kekuasaan dan materi/uang. Akhirnya Suharto dan regimnya ternyata selamat,
aman, tentram, dan sejahtera sampai sat ini.
Reformasi
Palsu
Saat ini,
masyarakat luas yang
kebanyakan buta politik telah menerima bahwa telah terjadi reformasi, padahal
belum! Regim ORBA adalah ibarat rangkaian seratus gerbong kereta api Argo
Bromo, kemudian melalui reformasi semu, yang turun baru satu masinis saja,
yaitu Soeharto, sedangkan lainnya masih mendominasi tatanan bisnis, birokrasi
dan perpolitikan di Indonesia (terutama oknum petinggi militer/polri dan Golkar).
Persamaan mathematik reformasi di Indonesia sungguh kayal dan irasional,
persamaan itu adalah: Orde Reformasi = Orde Baru cukup dikurangi satu Soeharto
saja!!! Selain itu, reformasi palsu ini didiktekan oleh para politisi
penyelundup seperti dijelaskan diatas. Setelah rakyat yang buta politik tertipu
dan percaya bahwa telah terjadi reformasi sungguhan, maka kaum bablasan ORBA
ini lalu justru “mengobok-obok sampai mabok reformasi palsu” ini, setelah
rakyatnya benar2 mabok, kemudian regim bablasan Orba menimpakan/mengalihkan
semua krisis bangsa akibat kesalahan regim Suharto ke generasi reformasi palsu
ini (jurus lempar tanggung jawab), dengan demikian generasi tua ini telah
berhasil membalik situasi: rakyat yang bodoh politik menjadi rindu kembali akan
regim Soeharto/militer dan mulai membenci reformasi (yang sebenarnya palsu
ini). Semestinya kepalsuan reformasi ini diungkapkan oleh para jurnalis dan
intelektual kampus, namun sayang sekali, kecerdasan mereka/kita tidak sampai!
Jurus
Obok2 Bangsa Sampai Mabok
Beberapa
jurus obok2 regim bablasan ORBA agar masyarakat kembali rindu generasi regim
Soeharto adalah sbb.:
- Regim
Orba dan regim militer (para oknum Jendral TNI AD, khususnya KOPASUS) menyadari
bahwa rasa damai dan aman adalah kebutuhan mendasar manusia. Maka mereka
mendanai, mengorganisasikan, dan menggerakan berbagai kerusuhan di bumi
Nusantara, terutama menggunakan atribut Islam, misal Front Pembela Islam.
Kerusuhan di Ambon, Pontianak, Poso, dst. adalah ulah mereka. Sebenarnya untuk
menangkap otaknya/pendananya, cukup mudah sekali, cukup melacak aliran dana di
Bank dan menyadap via telepon serta internet; namun Badan Intelijen (BIN) tidak
melakukannya, mengingat BIN selama ini justru menjadi alat militer tuk
berkuasa; musuh BIN yang terutama adalah justru manusia Indonesia yang baik dan
idealis (bukan musuh dari luar). Pensiunan BrigJen Sumarsono, waktu itu Sekjen
PBSI, ditangkap dengan milyaran rupiah uang palsu. Para pengamat politik
supercerdas langsung tahu bahwa uang palsu itu untuk membayari para preman
perusuh; jadi ada maksud untuk sekaligus mengacau keamanan (kerusuhan) dan
mengacau ekonomi (uang palsu), luar biasa liciknya para oknum jendral AD itu.
Dengan diciptakannya berbagai kerusuhan, patahlah kepercayaan rakyat pada
Reformasi, dan rakyat rindu pada regim militer lagi. Rakyat juga dibodohi bahwa
telah terjadi reformasi, padahal sama sekali belum terjadi mengingat yang baru
turun dari singgasana hanyalah Suharto, sedangkan semua posisi penting dalam
birokrasi dan militer (terutama TNI AD) masih dikuasai regim Suharto. Para oknum
jendral AD di Mabes Cilangkap memang pintar, mereka selalu berada diantara
bandul jam “radikal dan nasionalis”. Ketika mereka terdesak oleh kaum
Nasionalis, maka kaum radikal sengaja dibesarkan/dihidupkan, dengan demikian
kaum Nasionalis jadi keder nyalinya; sebaliknya bila regim Militer terdesak
kaum radikal Islam, maka regim militer akan berbalik ke kaum Nasionalis untuk
bersama-sama menghabisi kaum radikal. Dengan strategi ini, para oknum pejabat
militer akan selalu mendapatkan dana pengamanan yang luar biasa (baik dari
negara maupun dari kaum minoritas yang kaya raya), bisnis keamanan sungguh luar
biasa besarnya. Kembali politik kambing putih dilakukan. Pemilu terakhir yang
dimenangkan SBY, regim militer mensponsori dan menggunakan PKS (dari mana dana
partai gurem ini? Ini mirip dengan kasus pendirian PAN). Partai reformis selain
PKS, hampir tidak pernah di cover di televisi, sebaliknya PKS terus-terusan dimunculkan
di mass media. (Ingat, Soeharto Cs. menggunakan Amien Rais, PAN, ICMI, HMI,
KAHMI dan MUI untuk menyelamatkan diri; Sby cs. menokohkan Hidayat Nur Mahmudi
dan membantu membentuk PKS demi memenangkan Pemilu). Pemilu waktu itu
didominasi oleh: rebutan para kyai (bukan para professor), rebutan sultan
(Yogya/Solo/Cirebon), ziarah ke makam2 dan berdangdutan; nuansa keilmuan,
kampus, science tidak ada sama sekali! Memang benar, reformasi tidak akan
terjadi bila media informasi dikuasai regim ORBA.
- Beberapa
hari sebelum pemungutan suara pada pemilu presiden 2004, bom sengaja diledakan
di depan Kedubes Australia. Saat pemungutan suara, TV BBC Inggris mewancarai
seorang pencoblos, pencoblos itu mengatakan tidak mau memilih Megawati lagi
dengan alasan banyaknya bom yang meledak, terutama yang barusan meledak di
kedubes itu. Itu adalah salah satu faktor penentu kemenangan militer kembali.
Sungguh jitu strategi para oknum Jendral AD ini! Kemudian, pengebomnya berhasil
dibekuk, padahal strategi ini buatan mereka sendiri (memakai radikal Islam)!
Jadi sekali tepuk mereka dapat tiga point: membisniskan keamanan, menang pemilu
& rakyat tambah percaya pada militer (bisa membekuk pelakunya).
- Berbagai
kerusuhan dan adu domba di Nusantara di outsourcingkan (disubkontrakan) kepada
pihak ketiga (misalnya Pemuda Pancasila, Laskar Jihad, FPI, dst) melalui
makelar, kemudian makelarnya dibinasakan. Sebagai contoh, kasus dukun santet di
Banyuwangi; otaknya di Jkt (pada umumnya petinggi RPKAD), pelaksananya preman2
luar Jkt dan luar Bwi; setelah sukses, makelarnya dihabisin, sehingga benang
merah koneksi antara otak di Jkt dan pelaksana di BWI terputus; jadilah kasus
itu sekedar kasus lokal, pejabat busuk di Jkt seolah-olah tidak terlibat.
Kembali agama hanya jadi sekedar bulan2an para oknum pembesar AD/POLRI di
Cilangkap dan di BIN. Bunuhmembunuh bangsa sendiri adalah kebiasaan regim
Soeharto bersama para oknum jendral TNI AD/POLRI, ingat saja kasus pembunuhan
massa PKI yang mencapai lebih dari 500 ribu jiwa.
- dst.
Kemunduran Indonesia
Dari
berbagai referensi digital yang dengan mudah dikumpulkan lewat internet, maka
dapat ditarik kesimpulan Penyebab Utama
Bangsa Indonesia Sulit Maju:
- Pakar budaya dunia menandaskan bahwa
Indonesia sedang (2020) mengalami Penjajahan Budaya oleh Arab Saudi. Islam yang
dikenalkan oleh Muhammad sangat khas/unik Arab dan tidak universal. Islam
bertujuan mengatur segala aspek kehidupan dan bernegara, berbahasa, berpakaian,
makanan halal haram, berjanggut, nikah dan cerai, berhubungan sex, per bank an,
dst. Bahkan Allah (Tuhan khas Arab) pun dipaksa hanya boleh berbahasa Arab.
Jadi, Islam sungguh sangat kental dan khas dengan budaya Arab. Tidak ada Tuhan
dan Nabi yang menciptakan agama (penjaran bagi Tuhan dan manusia) di dunia ini;
hanya Tuhan dan nabi bangsa Arab yang berani “menciptakan nabi dan agama
terakhir” (yang sangat tidak logis). Pakar agama modern klas dunia sulit
menerima bahwa Islam adalah agama, lebih cocok disebut Cult bangsa Arab.
Islamisasi dan Arabisasi adalah satu paket tak terpisahkan. Islamisasi dan
Arabisasi menyebabkan bangsa Indonesia menjadi mabuk/mendem agama atau religion
alcoholic (lawannya work alcoholic), akibatnya bangsa Indonesia dapat
kehilangan akal sehat lalu menjadi emosional, ingin menang sendiri (yang lain
dikafirkan), suka ritual agama ga suka kerja, suka kekerasan, kerusuhan dan
suka menindas kearifan lokal (lokal konten), sebagai contoh aliran kepercayaan
asli Indonesia tidak diakui dan tidak dicantumkan dalam KTP. Penjajahan dalam
bidang budaya jauh lebih berbahaya dibanding penjajahan lainnya (ekonomi,
teknologi, dst), karena yang terkena langsung adalah akal sehat atau otak atau
pikiran bangsa. Sebagai negara dengan mayoritas Islam terbesar didunia, maka
seperti lazimnya negara2 dibawah konferensi Islam (OKI) pada umumnya mundur dan
amburadul dibanding negara non Islam.
- Sistem ketata negaraan Indonesia
menjadi sangat sulit lepas dari Islamisasi dan Arabisasi, sehingga sulit
dibebaskan dari carut marut sistim perpolitikan mengingat Islam itu ideologi
politik yang berbaju agama. Dunia maju dan modern sudah sekuler (memisahkan
negara dan agama), dan menganggap agama bukan karya Tuhan melainkan karya
manusia demi hegemoni kekuasaan dan uang. Agama sudah dianggap penjara sempit
bagi Tuhan dan bagi manusia dan sering menjadi sumber keributan, pertikaian,
permusuhan, pemberontakan bahkan pertempuran untuk pemisahan negara (misal
India-Pakistan-Bangladesh). Di negara maju dan modern, Agama sudah tidak boleh
diajarkan sebagai mata pelajaran pendidikan di sekolah negeri, sebab dianggap
terlalu abstrak (surga neraka malaikat setan) dan bersifat hubungan privat
vertikal (individu dan Tuhannya di surga), jadi pendidikan agama diserahkan ke
keluarga. Yang wajib diajarkan di sekolah negeri dan swasta adalah budi pekerti
karena sifatnya yang hubungan horisontal (individu dengan sesama individu,
dengan alam, dengan hewan, dengan lingkungannya). Para cerdik pandai di negara
maju banyak memakai konsep “Bertuhan tanpa beragama”, jiwa Kristiani sudah
tertanam dalam di hati mereka melalui kitab suci dan keluarga dan gereja.
Karena agama dianggap beban dan suka menangnya sendiri, serta adanya kebebasan
penuh untuk manusia memilih filosofi hidup, maka agama menjadi kurang laku,
gereja menjadi sepi dan bangkrut, namun ajaran Kristen tetap mendasari sebagian
besar bangsa modern itu. Sebaliknya di negara Islam, selain Islam tidak boleh
tumbuh dan berkembang, kebebasan individu tidak ada, pilihan hidup sebagai
atheis, tidak beragama atau agnostik tidak diperkenankan. Bagaimana dengan
Indonesia? Silahkan merasakan sendiri dan menjustifikasi.
- Organisasi pemerintah yang paling
rapi,besar, berdisiplin dan bersenjata yaitu TNI AD dan Kepolisian masih belum
professional, masih ada yang hobi berimprovisasi dan berambisi pada politik dan
bisnis, sehingga sulit diharapkan untuk menjadi benteng keamanan dan menjadi
lawan utama dunia hitam dalam membela bangsa Indonesia. Nampaknya Esprit de
Corps (setia kawan, almamaterisme AKABRI) diantara para Jenderal masih begitu
tinggi, kadang2 terasa kepentingan bangsa lebih di nomor duakan. Tentara dan
Polisi dapat ditunggangi dan menjadi senjata ampuh oleh kepentingan negara maju
dan pintar seperti Amerika Serikat (misal lewat CIA dan organisasi per bank an)
untuk menjajah negara berkembang. Fakta2 tentang pengaruh USA lewat Tentara,
Polisi dan jasa keuangan di negara Amerika Latin, Afrika dan Asia dapat dibaca
di banyak artikel berbobot di internet.
- Budaya Jawa yang bersifat abu2 –
kurang tegas terhadap hitam putih (“ngono yo ngono ning ojo ngono”, atau banyak
bosa basi, atau kurang serius) ikut menghambat tegaknya keadilan, kejujuran dan
kebenaran di Indonesia. Budaya Jawa bagus sekali untuk perekat bangsa, namun
perlu direformasi untuk good governance. Sifat negatip suka mempersulit orang
lain (“Kalau bisa dipersulit kenapa harus dipermudah”), dan sifat iri, srei,
dan dengki yang masih tebal ikut menghambat kemajuan Indonesia.
Demikian
sedikit ulasan tentang faktor2 utama carut marut bangsa Indonesia yang sangat
berpengaruh pada kemajuan dan kemakmuran bangsa, silahkan dikritisi.
Penutup
Senjata utama regim Soeharto (ORBA plus penerusnya) adalah: politisasi
agama, money politics (terutama untuk membeli: ulama, ilmuwan kampus, dan
anggota Parpol lain), penyusupan ke partai2 lain, pembentukan jaring mafia yang
bagai multi level marketing (MLM) - dari Jakarta s/d pelosok desa, dan
mendominasi mass media terutama televisi! Selain itu, mereka membutuhkan
dukungan dari kelompok Militer dan POLRI dan negara adidaya; hal ini menjadikan
betapa sulitnya mereformasi ABRI dan POLRI (karena politik identik dengan
kekuasaan dan harta yang berlimpah)! Semua senjata ORBA ini bersifat merusak
kehidupan berbangsa dan bernegara, serta daya rusaknya maha hebat (melebihi
jaman penjajahan Belanda) dan berjangka panjang (antar generasi)! Regim
Soeharto adalah sumber dari segala sumber malapetaka Indonesia (bagaikan Hitler
bagi Jerman), dengan strategi yang amat indah namun licik, beliau dan kroninya
dapat membelokan/menipu reformasi, dan kini beliau dengan kroni-kroninya
menikmati hidup dengan aman, tentram dan sejahtera ditengah bangsanya yang
miskin dan banyak menganggur! Sepandai-pandainya begawan politik Soeharto
beserta regimnya (para mantan jendral TNI AD), namun politisi USA jauh lebih
piawai dari mereka, terbukti hubungan USA-Indonesia mulai 1965 s/d sekarang
adalah bagaikan tuan dan jongosnya, USA memegang kartu truf/as atas kehormatan
palsu para mantan jendral TNI AD itu, sebab negara Indonesia telah mereka
(Soeharto dkk.) gadaikan kepada negara adidaya, kemudian mereka dengan tega
menipu para pelajar dengan sejarah palsu demi menyembunyikan kejahatan terbesar
mereka – yang menyebabkan Indonesia mengalami berbagai krisis hingga sekarang. Ternyata
Indonesia hanya dijadikan sekedar tumbal cacat hati nurani para jendral TNI AD
– jongos politikus USA! Dan para mantan jendral itu sekarang menyusup di
jantung hati setiap parpol, menguasai politik bangsa, tidak mengherankan
Indonesia bagaikan mengidap tumor besar atau bahkan penyakit kangker.
Ajaran yang dapat dipetik dari Begawan Politik Soeharto adalah: pertama
susupi dan tunggangi, kedua kalau menipu jangan tanggung-tanggung: tipulah
bangsamu – bahkan kalau bisa, tipulah Tuhanmu melalui politisasi agama. Semoga
ajaran beliau ini cepat berlalu seiring dengan akan cepat berlalunya dia. Hai anak
muda Indonesia, bangkit dan luruskanlah arah sejarah dan perjuangan bangsamu!
Rahayu. Ki Megatruh, Pernah ditapolkan di Nusakambangan oleh Soeharto
Tidak ada komentar:
Posting Komentar