Jumat, 05 Maret 2021

BEGITU INDAHNYA STRATEGI BEGAWAN POLITIK SOEHARTO DALAM MENAKLUKAN BANGSANYA!

 Abstrak - Ketika terjadi reformasi, Suharto dengan tenang, aman, nyaman dan tentram tetap bercengkerama di jl. Cendana bersama anak cucunya, ini sungguh luar biasa! Para politisi dan profesor dari Luar Negeri sampai tidak habis herannya, mereka meminta bangsa Indonesia untuk secara cerdas menganalisa hal ini mengingat fakta sejarah didunia mengatakan bahwa jatuhnya rezim diktator atau koruptor selalu dibarengi dengan: a) kaburnya penguasa ke luar negeri atau terbunuh b) partai pendukung utamanya dibubarkan c) militer kembali ke barak d) ada repatriasi/pengembalian harta rampokan presiden, keluarga, dan kroninya kepada negara. e) Namun anehnya, selain keempat hal ini tidak terjadi di Indonesia, yang paling ajaib adalah Soeharto justru diperkenankan menunjuk penggantinya yaitu Habibie (mana ada diktator direformasi dibolehkan menunjuk pengganti?). Penunjukan Habibie merupakan titik balik sejarah dan awal dari segala mala petaka bangsa Indonesia. Kelima point ini terjadi dikarenakan kepiawaian regim Soeharto dalam menyusupi gerakan reformasi, salah satu pimpinan reformasi adalah kader sejati Soeharto yang telah lama dipersiapkan dan sengaja diselundupkan, maka jadilah reformasi palsu seperti kita alami ini.  Ternyata sejarah menandaskan bahwa bangsa Indonesia telah berkali-kali hanya dijadikan sekedar objek penipuan dan pembodohan, dari peristiwa 1965, hilangnya Supersemar, Serangan umum 1 Maret di Yogya, Tragedi Mei 1998, reformasi palsu 1998, dan berbagai kerusuhan yang direkayasa. Mengingat regim Soeharto (para jendral TNI AD saat itu) pada peristiwa 1965 adalah pelaksana lapangan (operator) dari strategi Amerika Serikat untuk penggulingan Bung Karno (lewat CIA), maka USA sampai saat ini memegang kartu As terhadap rahasia busuk sejarah hitam para mantan jendral tsb., dan mengingat politik Indonesia masih dikendalikan oleh para mantan jendral itu dibelakang layar, konsekuensinya adalah USA dapat mendiktekan semua kehendaknya terhadap Indonesia (lihat contoh kecil kasus Free port dan minyak Cepu); para mantan jendral yang saat ini rata2 berusia 65 tahun keatas merasa ketakutan setengah mati atas terbongkarnya rahasia mereka menjadi boneka USA dalam menjajah ekonomi Indonesia – inilah salah satu rahasia terbesar mengapa bangsa Indonesia tidak berkutik terhadap USA dan mengapa pelurusan sejarah Indonesia mengalami kesulitan luar biasa. Hubungan USA-Indonesia bagaikan tuan dengan jongos! Para politisi USA dengan mudah mendikte politisi Indonesia yang masih dikuasai para mantan jendral (ingat hampir semua parpol ada jendralnya) dengan cukup menggertak: ”Laksanakan perintahku, atau pilih rahasia moralmu yang sangat busuk – pengkianatan terhadap negaramu – akan kami bongkar tuntas!” Salah satu strategi yang ampuh bagi regim Soeharto untuk bersembunyi tuk menyelamatkan diri adalah politisasi agama, terutama agama Islam. Selain itu, institusi TNI juga mereka gunakan sebagai perisai berlindung. Selamat membaca, beropini (syukur membuat web blog sendiri), dan mohon artikel ini disebar luaskan.

 

PENGANTAR

 

Keterlibatan AS dalam kupdeta militer yang merangkak di tahun 1965 di Indonesia sudah banyak ditulis. Bung Karno (BK) yang mempunyai visi jauh kedepan sudah menetapkan bahwa Indonesia adalah non blok, mandiri (berdikari), dan tidak mau tergantung pada utang luar negeri (“Go to hell with your aids!”). Sayang sekali, Soeharto dkk. melakukan konspirasi dengan USA (via CIA) menusuk bangsanya sendiri. Negara-negara sahabat Bung Karno, sperti RRC dan India, yang mempunyai prinsip serupa dengan BK dan tidak mempunyai pengkianat negara semacam Soeharto Cs., saat ini menjadi bangsa yang sehat, normal, bahkan adidaya! Mengingat regim Soeharto (para jendral TNI AD saat itu) adalah pelaksana lapangan (operator) dari strategi Amerika Serikat untuk penggulingan Bung Karno (lewat CIA), maka USA sampai saat ini memegang kartu As terhadap rahasia busuk sejarah hitam para mantan jendral tsb., dan mengingat politik Indonesia masih dikendalikan oleh para mantan jendral itu dibelakang layar, konsekuensinya adalah USA dapat mendiktekan semua kehendaknya terhadap Indonesia (lihat contoh kecil kasus Free port dan minyak Cepu); para mantan jendral yang saat ini rata2 berusia 65 tahun keatas merasa ketakutan setengah mati atas terbongkarnya rahasia mereka sekedar menjadi boneka USA dalam menjajah ekonomi Indonesia – inilah rahasia terbesar mengapa bangsa Indonesia tidak berkutik terhadap USA dan mengapa pelurusan sejarah Indonesia mengalami kesulitan luar biasa. Perlu dimengerti sehabis 1965, kekayaan alam Indonesia mulai dari LNG Arun di Aceh sampai dengan emas-timah Free Port di Irian sudah digaruk oleh negara USA dkk. Para politisi USA dengan mudah mendikte politisi Indonesia yang masih dikuasai para mantan jendral (ingat hampir semua parpol ada jendralnya) dengan cukup menggertak: ”Laksanakan perintahku, atau pilih rahasia moralmu yang sangat busuk – pengkianatan terhadap negaramu – akan kami bongkar tuntas!” Hubungan USA-Indonesia bagaikan tuan dengan jongos! Salah satu strategi yang ampuh bagi regim Soeharto untuk menyelamatkan diri adalah politisasi agama, terutama agama Islam. Selain itu, institusi TNI juga mereka gunakan sebagai perisai berlindung. Presiden SBY baru-baru ini terpaksa mengulangi langkah BK lagi dengan mengunjungi RRC. Jadi, ditahun 1965, Indonesia dijadikan lapangan pertempuran ideologi antara USA dkk vs. Rusia dkk., yang menang USA (kapitalis); sebaliknya di Vietnam, yang menang Rusia (komunis).

 

Pada sekitar tahun 1990 an, Soeharto menyadari kesalahannya, disamping sudah terdesak oleh kaum reformis, ia pun ingin banting stir ingin lepas dari USA (yang dianggap merampok kekayaan alam Nusantara). Cara teraman adalah menggunakan politisasi agama. Dibawah ini akan dijelaskan denngan detil bagaimana begawan politik Soeharto dengan seni yang indah dan tinggi sekali memperdaya bangsanya melalui politisasi agama Islam. Dengan strategi save exit ini bangsa Indonesia bagaikan dimasukan kepihak Timur Tengah dalam menghadapi dunia barat! Dengan demikian, Indonesia seolah-olah ingin dilepaskan dari mulut harimau (USA dkk.), namun hendak dimasukan ke mulut buaya (Arab/Timur Tengah). Berkat politisasi agama, regim Soeharto memang selamat-sehat walafiat; namun dengan hasil sampingan: Indonesia masuk sekaligus dua mulut: harimau dan buaya! Indonesia s/d saat ini (2006) adalah kembali menjadi ajang pertempuran ideologi antara: Barat lawan Timur Tengah, antara kaum sekuler dan kaum Islam, antara modernitas dan kekolotan agama.

 

***

POLITISASI ISLAM

 

Konsep Islam adalah agama sekaligus politik, maka Islam tidak pernah berhenti melakukan manufer politik atau diperalat untuk kepentingan politik, misalnya:

- Prabu Brawijaya “ditusuk dari belakang” oleh wali songo (MUI abad itu), sehingga kerajaan Hindu Budha yang jaya runtuh berikut budaya dan pustakanya (keindahan candi berikut buku2nya)

- Penumpasan dan pembunuhan ratusan ribu pengikut PKI di tahun 1965 (Islam dilawankan PKI oleh pak Harto)

 

Tiga Era Politisasi Agama Zaman Soeharto

A.    Soeharto di Era bu Tin Soeharto

B.     Era Habibie

C.    Era Reformasi

Disaat berjaya, Suharto sangat menekan Islam karena pengaruh ibu Tien yang berjiwa Kristen (Jendral Beny Murdani dan para Menteri serta think thanknya kebanyakan Kristen), ketika regim Orba nyaris jatuh, maka keluarga Cendana dan petinggi negara yang lain (termasuk Bob Hasan) pada ribut naik haji, kemudian pejabat tinggi

- Islam juga terus dipakai untuk menolak rekonsiliasi untuk memulihkan trauma para korban G30S dengan cara pencabutan TAP MPRS XXV/1966 yang dianggap tidak manusiawi.

- Islam juga terus dipakai untuk menghadang pengungkapan misteri sejarah di seputar 1965 secara gamblang agar tidak menjadi 'kabut misteri sejarah' yang diwariskan pada generasi penerus melalui buku sejarah yang “palsu”. Masyarakat Muslim selalu dibuat takut akan bangkitnya PKI, padahal radikal Islam jauh lebih berbahaya bagi Indonesia dan dunia.

- Regim Orde Baru (Suharto) menggunakan Islam untuk menyelamatkan diri (PDIP dilawankan Islam, sehingga ibu Megawati tidak dapat menjadi presiden, ingat Poros Tengah pimpinan Amin Rais). Disaat berjaya, Suharto sangat menekan Islam karena pengaruh ibu Tien yang berjiwa Kristen (Jendral Beny Murdani dan para Menteri serta think thanknya kebanyakan Kristen), ketika regim Orba nyaris jatuh, maka keluarga Cendana dan petinggi negara yang lain (termasuk Bob Hasan) pada ribut naik haji, kemudian pejabat tinggi pemerintahan diganti dengan wajah2 yang Islami yang Arabik (Fuad Hasan, Fuad Bawazir, etc). Ketika ibu Tien meninggal, maka Ikatan Cendekiawan Muslim (ICMI) didirikan oleh Habibie, Tutut, Letjen Hartono di Universitas Brawijaya Malang; Gus Dur sangat menentang ICMI. Regim Soeharto meniru Iran, beliau sudah muak ditipu Amerika Serikat, maka beliau meniru cara Iran untuk mengusir USA sekaligus menyelamatkan diri dari PDIP dengan menggunakan Islam. Syah Iran berhasil digulingkan Imam Khoemeni melalui revolusi Islam; persahabatan Iran dengan USA dan dunia Barat berubah total menjadi permusuhan, dan Iran berjaya menjadi Republik Islam. Demikian pula regim Soeharto tetap aman tentram dari reformasi berkat manipulasi Islam yang sangat pintar, para pecinta dan begundal Soeharto masih banyak bercokol di ring satu dan dua pemerintahan orde Reformasi.

- Pelecehan kaum Tionghoa 1998, Islam dipakai untuk menindas dan mempermalukan kaum Tionghoa yang tidak bersalah (Islam dilawankan Kaum Tionghoa karena kecemburuan ekonomi)

- Poros tengah Amin Rais menghentikan Megawati menjadi presiden saat reformasi 1998(Islam dipakai untuk menyelamatkan regim Orde Baru; Islam dilawankan PDIP yang Nasionalis)

- Amin Rais menurunkan Gus Dur (GD, Islam garis keras dilawankan Islam moderat). GD dianggaap berbahaya bagi sisa ORBA karena GD ingin mencabut TAP MPRS 1966 (Tentang pelarangan PKI) dan menghapuskan Undang2 Penodaan Agama. Kembali Poros Tengah beraksi dibawah pimpinan Amin Rais (AR) untuk menjatuhkan GD. Melihat peran ganda Amin Rais, pakar politik dari Barat menyatakan bahwa AR memang diselundupkan oleh pak Harto ke Orde Reformasi untuk menyelamatkan Orde Baru.

- Islam untuk menjegal non Muslim Ahok untuk pilihan gubernur DKI; demikian pula penjegalan non Muslim untuk menduduki jabatan tinggi di kantor2 pemerintahan.

- Islam di pakai untuk pilpres agar Bpk Jokowi kalah.

- Islam dipakai untuk mempersulit masuknya aliran kepercayaan asli Indonesia kedalam jajaran yang sepadan dengan agama/kepercayaan lain yang berasal dari Luar Negeri dan yang tertera dalam KTP. Aliran kepercayaan asli Indonesia misalnya Kejawen penuh local wisdom, local content, dan menganggap Tuhan YME beserta alamNya tidak pernah selesai dipelajari; jadi bukan agama yang dicari tapi selalu mencari kebenaran yang tak pernah selesai dimenegerti. Sampai saat ini kepercayaan asli masih dihambat untuk diakui secara resmi dan dapat dicantumkan di KTP dan UU Perkawinan.

- Islam Radikal menggunakan Front Pembela Islam untuk melakukan “manajemen ketakutan berbasis kekerasan”; agama Islam dan Allah dianggap sedemikian rapuh, harus dibela dengan kekerasan. Gedung untuk hiburan, ibadah, pertemuan, dst., yang dianggap tidak Islami, di teror oleh FPI dengan kekerasan dan perusakan, kemudian diusulkan dilarang beroperasi.

Reformasi Palsu

 

Bila anda seorang intelektual Muslim yang dewasa dan rasional, maka setelah membaca fakta2 sejarah dibawah ini, lalu merenungkannya secara mendalam, barangkali anda tidak akan emosi dan marah, bahkan justru akan menitikan air mata kepedihan dan mengucapkan terima kasih kepada para penulisnya atas fakta, kritik dan saran yang terkandung didalamnya. Kegeniusan regim Soeharto dalam menaklukan bangsanya dengan berbagai cara dimana salah satu diantaranya adalah memanipulasi agama harus dibeberkan dengan jelas-tuntas. Sama sekali tidak ada maksud negatip dari hati penulis, kecuali keinginan mengungkapkan keprihatinan hati nurani penulis. Kecintaan penulis dkk. yang tulus dan dalam kepada Tuhan YME serta negara RI menjadi sumber utama inspirasi untuk menulis artikel ini. Berikut ini fakta2 sejarah nyata tersebut yang melukiskan BEGITU INDAHNYA STRATEGI BEGAWAN POLITIK SOEHARTO DALAM MENAKLUKAN BANGSANYA!

 

- Ditahun 1965, Jendral Soeharto beserta para jendral TNI AD telah memprovokasi/mendalangi massa NU (umat Islam, terutama di Jatim) untuk membantai ratusan ribu massa PKI yang tak berdosa dan tidak tahu menahu tentang politik di desa2, hal ini dilakukan untuk menutupi coup detat angkatan darat sekaligus untuk mengkambinghitamkan PKI. Strategi politik yang disebut “nabok nyilih tangan” (menghabisi musuh dengan meminjam tangan manusia lain) sungguh sangat memprihatinkan, disini agama dipakai untuk memprovokasi masa dan membantai bangsanya sendiri! Rasa hormat terhadap agama dan Tuhan boleh dikata tidak ada dalam hati regim Soeharto. Saat ini, baru Gus Dur saja (saat itu sebagai presiden) yang meminta maaf. Pembunuhan yang lebih kejam lagi adalah “pembunuhan kemanusiaan” terhadap anak cucu para anggota PKI yang tidak tahu menahu dan tidak terlibat politik dengan cara merintangi perkembangan kepribadian, emosi dan bisnis mereka (alat2 pembunuh yang diciptakan misalnya: litsus dan S.K bebas G30S). Operator pembunuhan nasional ini adalah pasukan KOPASUS/RPKAD dibawah pimpinan Sarwo Edhi (mertua presiden SBY). Pembunuhan para jendral (Ahmad Yani, Suparman, Tendean, dst) adalah dikarenakan mereka menolak melepas prinsip non blok dan menolak untuk berpihak pada regim Soehato/USA. Selain itu, mereka harus dihabisi Soeharto dkk. agar tidak menjadi pesaing/duri dalam daging. Nasution yang dapat menyelamatkan diri, akhirnya terpaksa bergabung dengan Soeharto; pada akhirnya: Jendral Soeharto menjadi presiden, dan Nasution menjadi ketua MPRS, mulai saat itu Indonesia dibawah regim militer (eksekutip dan legislatip dibawah militer) dan menjadi negara boneka USA! Di era itu, USA telah banyak berhasil membuat negara boneka, terutama di Amerika Latin, Timur Tengah, dan Asia. Peristiwa G30S 1965 lebih tepat bila didefinisikan sebagai pengkianatan regim Soeharto terhadap bangsanya sendiri, bukan pengkianatan PKI. Dengan jurus “maling teriak maling”, Soeharto dkk. mendirikan monumen Lubang Buaya dan menginstruksikan agar seluruh jalan2 utama di Indonesia diberi nama para jendral yang tewas tsb., licik namun indah sekali bukan? Yang perlu dicamkan ialah: kalau menipu jangan tanggung2!

- Dijaman Soeharto (Orba): agama diperalat untuk menggaet suara pemilih disaat Pemilu, misalnya saja penyalahgunaan dai Zainudin MZ yang sengaja sering ditampilkan di TV, kemudian sengaja digelari "Dai Sejuta Umat" agar rakyat mudah terpikat. Jurus ini disebut “politik kambing putih”. Setelah populer, dai ini dibawa safari Ramadhan oleh menteri Harmoko untuk menipu rakyat demi kemenangan GOLKAR. Memenangkan suara pemilu suatu daerah diuamakan melalui para ulamannya. Semenjak regim ORBA s/d saat ini para kyai dan ulama terus diperebutkan oleh politikus untuk menjadi sekedar alat politik. Oleh regim Suharto, para ulama busuk ini dibuatkan wadah yang dinamai MUI. Oleh orang bijak, kata MUI lebih tepat kalau diterjemahkan sebagai Majelis Ulama Istana (atau alat penguasa). Saat ini adalah sulit untuk membedakan antara ceramah agama dan ceramah politik seorang ulama. Baru Gus Dur saja (saat itu sebagai presiden) yang berani memarahi para ulama di MUI dan saat itu disiarkan secara langsung di TVRI! Gus Dur menandaskan bahwa  para ulama ini adalah para pengejar harta dan kekuasaan. Sampai dengan saat ini MUI diberikan income yang sangat besar sekali yaitu melalui labelisasi halal/haram semua makanan (semestinya Badan POM). Sebagai pembanding, Probo Sutejo, paman Soeharto, berawal dari guru SMA, diberikan kekuasaan labelisasi cengkeh, maka jadilah ia trilyuner; Probo mampu menyuap Rp. 16 milyar ke pada hakim agung di MA! Disini agama kembali dipakai untuk menipu rakyatnya melalui jurus politik kambing putih: menokohkan orang untuk kemudian memperalatnya. Penokohan dilaksanakan dengan seringnya “kambing putih” tsb. dimunculkan di media informasi seperti tv, koran, dan radio; disini prinsip iklan dijalankan, semakin sering dimunculkan di media informasi, semakin dikenal dan disayang pemirsa, pembaca dan pendengar! Ingat di jaman regim ORBA dan s/d saat ini, manusia yang cerdas, bijak, bermoral dan baik, masih sulit untuk menembus mass media yang masih dikuasai oleh regim bablsan ORBA. Seandainya dapat muncul, maka itu hanyalah sekedar lipstick pemanis saja, orang baik boleh dikata hanya dapat slot waktu dan ruang yang minim sekali di mass media. Maka media alternatip seperti internet, misal news group dan we blog, adalah media terbaik untuk pencerdasan politik. Tidak heran, Gus Dur yang cerdas segera membubarkan Dept. penerangan begitu ia menjadi presiden! Departemen penerangan adalah sungguh2 alat pembodoh dan pembuta politik bagi masyarakat Indonesia. Tidak heran bila orang bijak dan pengamat dari luar negeri menyimpulkan: “Sungguh sulit menemukan orang baik di Indonesia!”

- Ketika regim militer sudah terdesak oleh kaum intelektual kampus, maka Habibie bersama para Jendral (Hartono, Ahmad Tirtosudiro, mbak Tutut, dsb.) mendirikan ICMI di Universitas Brawijaya Malang guna menarik simpati dan mengelabui kaum intelektual. ICMI menjadi begitu populer saat itu, lalu dibuat policy bahwa masuk ICMI adalah kunci jabatan birokrasi yang tinggi. Tak heran, saat itu, banyak Profesor dan Doktor terpikat masuk ICMI terbius tuk menduduki jabatan birokratis yang tinggi. Hal ini paling tidak menandakan adanya: kebutaan politik dan tingginya napsu manusiawi (harta dan kedudukan) para ilmuwan Muslim. Disini agama dipakai untuk menjaring, membius dan mengelabui cendekiawannya sendiri demi save exit regim ORBA. Jurus ini disebut “menjaring ikan gurami mabuk cacing”, hebat bukan? Ini juga bukti bahwa agama mempunyai potensi memabukan manusia sampai rasio manusia mengalami kemunduran luar biasa.

- Seiring dengan ICMI, Suharto juga mengganti para menterinya yang semula berwajah Nasionalis menjadi bernuansa Arab-Islami demi mengambil hati umat Islam guna menyelamatkan regim militer dan ORBA. Para menteri keturunan Arab tsb. adalah: Marie Muhamad, Ali Alatas, Saleh Affif, Fuad Hasan, Bedu Amang, Fuad Bawazir, dsb. Kemudian mbak Tutut Suharto yang cantik dan seksi ke Mekah naik haji, dan sepulangnya dari Arab, beliau memakai jilbab. Bob Hasan pun berganti nama menjadi Muhamad Hassan. Sebelumnya Suharto telah mengobral uang rakyat sebanyak 700 trilyun rupiah ke etnis Tionghoa yang nakal lewat BLBI (banyak Chinese yang baik, namun regim Suharto yang jahat lebih suka memilih yang hitam). Dengan demikian, regim ORBA ingin berganti baju, yang dulu: militeristik, pro nasionalis (dengan think-thank CSIS), dekat dengan Tionghoa, dekat dengan USA/IMF, dan terkesan menindas Islam, menjadi pro Islam atau bahkan ingin mengesankan diri sebagai pembela Islam, menjauhi Tionghoa dan Barat. Regim ORBA saat itu memang sudah diambang kejatuhan, maka strategi terjitu adalah politisasi agama. Disini agama dipakai untuk: meninggikan etnik keturunan (Arab), menipu para cendekiawan Muslim, meremehkan suku dan budaya asli bangsa sendiri (Jawa), memprovokasi anti Barat, dan menipu rakyatnya sendiri. Jurus ini disebut “bidadari bersolek diri”!  Bagus bukan?

- Seminggu sebelum tragedi Mei 1998 yaitu pembantaian/perkosaan umat Tionghoa di Jakarta dan Solo, yang didalangi Wiranto dan Prabowo (masih perlu dikonfirmasi!) dengan operator RPKAD dan Pemuda Pancasila, para provokator telah diinstruksikan untuk menulisi rumah2 penduduk dengan kata2 bernuansa SARA yaitu:"Milik Pribumi Muslim". Dengan demikian, para oknum jendral AD tsb. berusaha mengadu domba agama Islam dengan etnis Tionghoa. Nampak bahwa regim Suharto/militer ingin mengalihkan tanggung jawab salah urus negara kepada etnis Tionghoa (direpresentasikan oleh konglomerat hitam), selain itu juga ingin membuat citra bahwa umat Muslim layak marah kepada etnik Tionghoa. Padahal hampir semua bisnis militer, politisi dan pejabat tinggi kebanyakan dijalankan oleh konglomerat hitam Tionghoa (sekali lagi, di Indonesia tercinta ini jauh lebih banyak Tionghoa yang baik, bijak dan pandai daripada yang “hitam”, dan jika mereka ini dipakai secara baik dan benar, maka seperti Hongkong, RRC, Singapore, Malaysia, dan Thailand, Indonesia akan maju pesat). Manusia Jawa lalu merasa: dianaktirikan (apalagi dibunuhi dijaman 1965) dan Tionghoa dianak emaskan (diberi BLBI 700 trilyun);  sebaliknya manusia Tionghoa merasa: dianaktirikan (diperkosa dan dilecehkan saat tragedi Mei 98, penindasan budaya, serta adanya persyaratan SKBRI) dan pribumi dianak emaskan (misalnya: diberi kesempatan lebih besar menjadi PNS); kemudian menjelang reformasi, keturunan Arab dianak emaskan. Dimulai semenjak regim Suharto, hubungan pribumi dan Tionghoa menjadi tidak harmonis bahkan cenderung saling curiga; demikian pula antara Jawa dan non luar Jawa (adanya sentralisasi mengakibatkan luar Jawa jauh tertinggal). Disini agama dipakai untuk adu domba, divide et’ impera (pemecah belah), kerusuhan, perkosaan bahkan pembantaian etnis. Jurus ini disebut “melempar tanggung jawab, memotong kambing hitam”. Luar biasa bukan?

- Ketika Akbar Tanjung diadili masalah penyelewengan dana Bulog, ia berdalih bahwa uang itu telah disalurkan ke yayasan Islam yang disebut Rudhatul Janah guna mengentaskan kemiskinan; padahal uang itu dipakai untuk mendirikan berbagai partai politik agar PDIP saat itu tidak menang mutlak.  Para politisinya (terutama militer) lalu disusupkan kesemua parpol, bahkan termasuk PDIP! Bila saat itu tetap hanya ada tiga partai, PDIP menang mutlak, pastilah regim ORBA sudah musnah! Salah satu partai politik yang didanai adalah PAN. Jurus penggunaan agama untuk bersembunyi dan sekaligus untuk ditunggangi disebut “bertengger dan bersenyum di jendela masjid”, cerdik bukan?

- Ketika terjadi reformasi, Suharto dengan tenang, aman, nyaman dan tentram tetap bercengkerama di jl. Cendana bersama anak cucunya, ini sungguh luar biasa! Para politisi dan profesor dari Luar Negeri sampai tidak habis herannya, mereka meminta bangsa Indonesia untuk secara cerdas menganalisa hal ini mengingat fakta sejarah didunia mengatakan bahwa jatuhnya rezim diktator atau koruptor selalu dibarengi dengan: a) kaburnya penguasa ke luar negeri atau terbunuh, misalnya Marcos, Shah Iran, Mobutu Seseseko, Jean Betrand Aristi, dst., b) partai pendukung utamanya dibubarkan, c) militer kembali ke barak, d) repatriasi/pengembalian harta rampokan presiden, keluarga, dan kroninya kepada negara. Namun yang terjadi di Indonesia adalah aneh bin ajaib:  a) presiden berserta keluarga hidup aman-tentram-sejahtera di istananya, b) partai pendukung Orde Baru beserta ormas2nya tetap utuh, c) militer/polri tetap dominan, d) harta rampokan presiden, keluarga, dan kroninya tetap aman di bank-bank luar negeri (padahal beban utang negara terus-menerus meningkat, pengangguran makin tinggi, dan rakyat miskin makin banyak). Satu lagi hal yang paling tidak masuk akal adalah point e) Soeharto justru diperkenankan menunjuk penggantinya yaitu Habibie (mana ada diktator direformasi dibolehkan menunjuk pengganti?). Penunjukan Habibie merupakan titik balik sejarah dan awal dari segala mala petaka bangsa Indonesia. Memang sayang sekali, bangsa ini baru terlelap tidur sehingga otaknya tidak mampu menganalisanya. Para kaum supercerdas politik (terutama pengamat politik luar negeri, akademisi kampus) mengatakan bahwa disamping Suharto mendapat jaminan keamanan dari kelompoknya (TNI AD lewat Jendral Wiranto dan Prabowo), Suharto juga mendapat jaminan keamanan dari salah seorang tokoh reformasi yang berhasil diselundupkannya… hebat bukan? Dalam politik, cara terbaik melumpuhkan lawan adalah strategi penyusupan (ingat dimasa ORBA: berapa kali PDI disusupi dan dipecah belah dari dalam). Siapakah diantara ketiga tokoh reformasi (Mega, Gus Dur, dan Amien Rais) yang merupakan tokoh selundupan itu? Ia adalah Doktor Amien Rais, warga keturunan Arab asal Solo, sahabat lama Prabowo jauh hari sebelum reformasi (Prabowo = menantu Suharto); jadi regim Suharto sudah lama mempersiapankan strategi penyusupan Reformasi. Amien Rais, kader brilian ICMI, kemudian pura-pura bentrok dengan ICMI, keluar dari ICMI dan menyelundup sebagai tokoh reformasi. Bukti lain bahwa Amien Rais adalah antek Suharto terlihat jelas dari gerak zig-zagnya. Saat itu, media informasi seperti TV, radio, dan koran masih didominasi regim ORBA, namun Amien Rais “dikambing putihkan” dengan cara banyak dimunculkan di media informasi. Jurus ini disebut “menyelundupkan monyet diantara kambing tengik”, cerdik bukan?

- Begawan Soeharto juga banyak menggunakan politisasi kebudayaan, misalnya politisasi bahasa: korupsi = salah prosedur, penculikan = diamankan, pelanggaran HAM = pembelaan negara, tidak bertindak = takut melanggar HAM, dst.; politisasi adat istiadat: mikul duwur mendem jero, diartikan hanya sekedar melupakan dan memaafkan pelanggaran HAM berat dan maha korupsi tanpa memandang keadilan dari sisi korban; politisasi kesehatan: sehat walafiat bilang sakit, sehingga bila kaum cerdik pandai terutama para mahasiswa berdemo, lalu dituduh sebagai tak tahu adat, tak beragama, dan tidak beraklak, sebab manusia tua renta yang sakit parah kok malah didemo! Padahal di Cendana, begawan Soeharto bersenda gurau dengan cucu-cucunya dan para kroninya! Kaum cerdik pandai sudah kalah angka dulu dalam hal politisasi kesehatan ini. Strategi politik sakit saat ini ditiru oleh para kroni Soeharto dan mewabah secara nasional.

- Dengan cerdik dan licik, Golkar mengetahui bahwa tidak akan bisa memenangkan pemilu, maka dengan strategi pelipat gandaan jumlah parpol dan penyusupan di setiap parpol (terutama para jendralnya), walau kalah dalam Pemilu sehingga tidak dapat menguasai eksekutip, namun Golkar tetap dapat menguasai legislatip (koalisi antar penyelundup diberbagai Parpol). Dengan demikian kekuasaan dan semangat Orde Baru telah dipindahkan dari istana presiden ke gedung parlemen di Senayan (dimana politikus ORBA telah diselundupan di partai reformis dan di banyak partai baru yang telah didanai dan dipersiapkan untuk mendominasi DPR/MPR). Dengan dominasi ini, tidak heran bila Amien Rais (ketua PAN) sebagai reforman selundupan berhasil dipilih dan didudukan sebagai ketua MPR, sungguh luar biasa taktik regim Soeharto! Kemudian, dengan kelicikan lagi, dilakukan amandemen UUD 1945 tahun 1999 yang dibikin(-bikin), maka kekuasaan pembuatan undang-undang menjadi dipindahkan dari istana negara ke gedung parlemen di Senayan. Saat itu (jaman Gus Dur dan Mega), presiden boleh dikata hanya menjadi bulan2an DPR. Pada saat pemilu selanjutnya, agar SBY menang, maka KPU telah disusupi oleh ”pakar2 bayaran”  (rata2 akademikus dari UI) untuk melakukan berbagai kelicikan. Kelicikan ini membuahkan kemenangan SBY atas Megawati. Pentolan2 KPU banyak yang mendapat kursi empuk, a.l. Hamid Awaludin dan Arnas Urbaningrum. Kelicikan atau kecurangan para pakar ini hingga sekarang masih alot untuk disidangkan di pengadilan! Semestinya partai besar seperti PDIP berani menyatakan bahwa Pemilu y.l. tidak bersih! Kemudian, taktik koalisi antar penyelundup di Senayan dilakukan lagi. Jauh hari telah disiapkan dan didanai partai baru yaitu PKS (dari mana dana partai gurem ini? Ini mirip dengan kasus pendirian PAN). Saat kampanye, partai reformis selain PKS, hampir tidak pernah di cover di televisi, sebaliknya PKS terus-terusan dimunculkan. (Ingat, Soeharto Cs. menggunakan Amien Rais, PAN, ICMI, HMI, KAHMI dan MUI untuk menyelamatkan diri; regim bablasan Orba menokohkan Nur Mahmudi dan membantu membentuk PKS demi memenangkan Pemilu). Pemilu waktu itu didominasi oleh: rebutan para kyai (bukan para intelektual), rebutan sultan (Yogya/Solo/Cirebon), ziarah ke makam2 dan berdangdutan; nuansa ”kecerdasan bangsa” tidak ada sama sekali! Memang benar, reformasi tidak akan terjadi bila media informasi dikuasai regim ORBA. Peristiwa ”Amien Rais” berulang lagi, kali ini ketua PKS (Hidayat N. M.) berhasil dijadikan ketua MPR! Karena regim Orba beserta bablasannya sudah merasa menang angin baik di eksekutip dan legislatip, maka bandul kekuasaan dikembalikan lagi ke eksekutip! Simaklah, karena Presiden dan Wapres dipilih langsung, maka kedudukan eksekutip bagaikan tak tergoyahkan! Presidennya dari militer (dari partai kecil, ini tak masuk akal-merusak sistem ketatanegaraan), wapresnya dari GOLKAR, lalu apa sih bedanya dengan regim ORBA? Gerilya untuk mengkramatkan kembali UUD’ 45 dan Pancasila kembali ditingkatkan. Stasiun televisi, RRI, dan mass media mulai mereka kuasai lagi. Mengingat komposisi anggota DPR/MPR seperti ini, tidak heran bila DPR s/d saat ini (2006) mayoritasnya (masih) dipenuhi oleh mentalitas dan kendali kekuasaan semangat Orde Baru. Jurus yang busuk bukan? Jurus ini disebut “menggendam dan menilep manusia yang sedang mabuk kepayang”, luar biasa cerdas bukan?

 

Tugas Khusus Amien Rais dkk.

 

Sebagai reforman selundupan dan bayaran dengan tujuan justru untuk menyelamatkan regim Orba, maka Amien Rais dkk. secara cerdik membelokan arah reformasi dengan cara:

a) Ketika Suharto dengan seenaknya/inkonstitusional ("Kebijakan”) menunjuk Habibie sebagai penggantinya, maka  kaum intelektual kampus dan para mahasiswa menolak Habibie (Hbb) dan ingin menurunkannya, Amin justru melindungi Hbb dengan himbauannya agar Hbb diberi kesempatan tuk memimpin reformasi dan Amin sanggup menjadi sparing partnernya apabila Hbb menyeleweng. "Kebijakan semu” ini hingga hari ini menyisakan multiplikasi persoalan berlarut-larut yang semu dan tak berujung pangkal karena semua keadaan tiba-tiba berada dalam gerakan darurat yang tumpang tindih, simpang siur, tanpa pernah diusut benang merah sebab-musabab persoalannya.

b) Ketika akhirnya PDIP menang pemilu (namun tidak bisa menang mutlak, karena partai peserta Pemilu disengaja banyak sekali dan terjadi penyusupan), mengingat regim ORBA masih merasa ragu & takut sekali apabila Megawati menjadi presiden (siapa tahu Mgw, anak Sukarno, akan balas dendam thd regim Suharto) maka perlu kelicikan untuk menjegal Mega, Amien pun menjadi dalangnya dengan membentuk poros tengah yang bernuansa Islami dan dengan jargon "Wanita belum bisa diterima oleh ulama Islam sebagai presiden”. Gus Dur yang dianggap kurang berbahaya terhadap regim ORBA dinaikan menjadi presiden (walau dari persyaratan kesehatan jasmani jelas2 tidak mungkin ia menjadi presiden sebab buta; namun saat itu hanya Gus Dur yang dapat menandingi kepopuleran Megawati).

d) Ketika dalam perjalanannya sebagai presiden, Gus Dur ternyata dianggap membahayakan regim Orba, maka Amin Rais kembali beraksi lagi melalui MPR/DPR dan berhasil menjatuhkan Gus Dur. Gebrakan gus Dur yang membahayakan regim Orba misalnya adalah: membubarkan Deppen dan menetralkan LKBN serta TVRI (senjata informasi paling canggih regim Orba, pembius dan pembodoh rakyat), pemulihan hak kebudayaan etnis Tionghoa, serta diangkatnya Baharudin Lopa menjadi Jaksa Agung, yang kemudian ditengah masa jabatannya, ia dihabisi oleh Regim ORBA. Regim Orba memang pakar dalam culik-menculik, menghilangkan orang, dan bunuh-membunuh serta adu domba sesama anak bangsa. Pengakuan/pertobatan ki Gendeng Pamungkas, si pembunuh bayaran yang sering disewa keluarga Cendana dan para jendral untuk mengeliminasi musuh politik,  dalam suatu vcd yang mudah didapat dipasaran adalah salah satu bukti nyata. Termasuk yang dieliminir oleh regim Soeharto adalah: Soekarno, para mahasiswa idealis, Munir, serta jendral bersih dan cerdas Agus Wirahadikusumah, Baharudin Lopa, dan pengamat intelijen/militer sdr. Juanda yang juga diperkirakan dihabisin di Paris (2006). Sedangkan pembunuhan biadab dan membabi buta oleh regim militer ini adalah pada pembantaian PKI 1965 dan pembantaian/pelecehan etnik Tionghoa 1998.

e) Ditahun 2004, Gus Dur ngotot ingin jadi calon presiden lagi; namun karena tidak dibutuhkan lagi oleh regim ORBA, maka cacat matanya dipermasalahkan, kali ini tidak ada lagi yang membelanya! Megawati yang sudah bisa dijinakan dan mulai dekat dengan militer akhirnya direstui tuk jadi presiden.

g) Kemudian, dalam salah satu pidatonya, Amin Rais menandaskan untuk tidak mengungkit-ungkit lagi Soeharto dengan alasan usia dan sakit; padahal Soeharto dkk. itu kunci keadilan, kunci KKN, kunci masalah dan pelurusan sejarah, kunci uang rampokan yang ada di bank2 L.N; Soeharto adalah sumber dari segala sumber malapetaka Indonesia (bagaikan Hitler bagi Jerman); jadi sebaiknya Soeharto diadili dulu, mengakui bersalah, barulah diampuni. Kasus terakhir, bulan Maret 2006, AM Fatwa dari PAN menjenguk Tommy Suharto dengan alasan kemanusiaan, diperkirakan ini adalah bagaikan balas jasa PAN atas pendanaan awal partai PAN oleh regim Soeharto, serta mengingat menguatnya kembali regim militer (kembali USA ingin dibelakang militer lagi). Dalam gerakan zig-zag si reforman palsu ini (Amin Rais), ia banyak mendapat dukungan resmi dan restu dari oraganisasi masa dan politik berbasis Muhammadiah seperti ICMI, HMI, KAHMI, dan MUI. Sampai dengan saat ini Amien Rais beserta petinggi ICMI, HMI, KAHMI, dan MUI sudah tidak pernah lagi mengusik Suharto beserta kroninya, karena sudah kenyang akan keduniawian: kekuasaan dan materi/uang. Akhirnya Suharto dan regimnya ternyata selamat, aman, tentram, dan sejahtera sampai sat ini.

 

Reformasi Palsu

 

Saat ini, masyarakat luas yang kebanyakan buta politik telah menerima bahwa telah terjadi reformasi, padahal belum! Regim ORBA adalah ibarat rangkaian seratus gerbong kereta api Argo Bromo, kemudian melalui reformasi semu, yang turun baru satu masinis saja, yaitu Soeharto, sedangkan lainnya masih mendominasi tatanan bisnis, birokrasi dan perpolitikan di Indonesia (terutama oknum petinggi militer/polri dan Golkar). Persamaan mathematik reformasi di Indonesia sungguh kayal dan irasional, persamaan itu adalah: Orde Reformasi = Orde Baru cukup dikurangi satu Soeharto saja!!! Selain itu, reformasi palsu ini didiktekan oleh para politisi penyelundup seperti dijelaskan diatas. Setelah rakyat yang buta politik tertipu dan percaya bahwa telah terjadi reformasi sungguhan, maka kaum bablasan ORBA ini lalu justru “mengobok-obok sampai mabok reformasi palsu” ini, setelah rakyatnya benar2 mabok, kemudian regim bablasan Orba menimpakan/mengalihkan semua krisis bangsa akibat kesalahan regim Suharto ke generasi reformasi palsu ini (jurus lempar tanggung jawab), dengan demikian generasi tua ini telah berhasil membalik situasi: rakyat yang bodoh politik menjadi rindu kembali akan regim Soeharto/militer dan mulai membenci reformasi (yang sebenarnya palsu ini). Semestinya kepalsuan reformasi ini diungkapkan oleh para jurnalis dan intelektual kampus, namun sayang sekali, kecerdasan mereka/kita tidak sampai!

 

Jurus Obok2 Bangsa Sampai Mabok

 

Beberapa jurus obok2 regim bablasan ORBA agar masyarakat kembali rindu generasi regim Soeharto adalah sbb.:

- Regim Orba dan regim militer (para oknum Jendral TNI AD, khususnya KOPASUS) menyadari bahwa rasa damai dan aman adalah kebutuhan mendasar manusia. Maka mereka mendanai, mengorganisasikan, dan menggerakan berbagai kerusuhan di bumi Nusantara, terutama menggunakan atribut Islam, misal Front Pembela Islam. Kerusuhan di Ambon, Pontianak, Poso, dst. adalah ulah mereka. Sebenarnya untuk menangkap otaknya/pendananya, cukup mudah sekali, cukup melacak aliran dana di Bank dan menyadap via telepon serta internet; namun Badan Intelijen (BIN) tidak melakukannya, mengingat BIN selama ini justru menjadi alat militer tuk berkuasa; musuh BIN yang terutama adalah justru manusia Indonesia yang baik dan idealis (bukan musuh dari luar). Pensiunan BrigJen Sumarsono, waktu itu Sekjen PBSI, ditangkap dengan milyaran rupiah uang palsu. Para pengamat politik supercerdas langsung tahu bahwa uang palsu itu untuk membayari para preman perusuh; jadi ada maksud untuk sekaligus mengacau keamanan (kerusuhan) dan mengacau ekonomi (uang palsu), luar biasa liciknya para oknum jendral AD itu. Dengan diciptakannya berbagai kerusuhan, patahlah kepercayaan rakyat pada Reformasi, dan rakyat rindu pada regim militer lagi. Rakyat juga dibodohi bahwa telah terjadi reformasi, padahal sama sekali belum terjadi mengingat yang baru turun dari singgasana hanyalah Suharto, sedangkan semua posisi penting dalam birokrasi dan militer (terutama TNI AD) masih dikuasai regim Suharto. Para oknum jendral AD di Mabes Cilangkap memang pintar, mereka selalu berada diantara bandul jam “radikal dan nasionalis”. Ketika mereka terdesak oleh kaum Nasionalis, maka kaum radikal sengaja dibesarkan/dihidupkan, dengan demikian kaum Nasionalis jadi keder nyalinya; sebaliknya bila regim Militer terdesak kaum radikal Islam, maka regim militer akan berbalik ke kaum Nasionalis untuk bersama-sama menghabisi kaum radikal. Dengan strategi ini, para oknum pejabat militer akan selalu mendapatkan dana pengamanan yang luar biasa (baik dari negara maupun dari kaum minoritas yang kaya raya), bisnis keamanan sungguh luar biasa besarnya. Kembali politik kambing putih dilakukan. Pemilu terakhir yang dimenangkan SBY, regim militer mensponsori dan menggunakan PKS (dari mana dana partai gurem ini? Ini mirip dengan kasus pendirian PAN). Partai reformis selain PKS, hampir tidak pernah di cover di televisi, sebaliknya PKS terus-terusan dimunculkan di mass media. (Ingat, Soeharto Cs. menggunakan Amien Rais, PAN, ICMI, HMI, KAHMI dan MUI untuk menyelamatkan diri; Sby cs. menokohkan Hidayat Nur Mahmudi dan membantu membentuk PKS demi memenangkan Pemilu). Pemilu waktu itu didominasi oleh: rebutan para kyai (bukan para professor), rebutan sultan (Yogya/Solo/Cirebon), ziarah ke makam2 dan berdangdutan; nuansa keilmuan, kampus, science tidak ada sama sekali! Memang benar, reformasi tidak akan terjadi bila media informasi dikuasai regim ORBA.

- Beberapa hari sebelum pemungutan suara pada pemilu presiden 2004, bom sengaja diledakan di depan Kedubes Australia. Saat pemungutan suara, TV BBC Inggris mewancarai seorang pencoblos, pencoblos itu mengatakan tidak mau memilih Megawati lagi dengan alasan banyaknya bom yang meledak, terutama yang barusan meledak di kedubes itu. Itu adalah salah satu faktor penentu kemenangan militer kembali. Sungguh jitu strategi para oknum Jendral AD ini! Kemudian, pengebomnya berhasil dibekuk, padahal strategi ini buatan mereka sendiri (memakai radikal Islam)! Jadi sekali tepuk mereka dapat tiga point: membisniskan keamanan, menang pemilu & rakyat tambah percaya pada militer (bisa membekuk pelakunya).

- Berbagai kerusuhan dan adu domba di Nusantara di outsourcingkan (disubkontrakan) kepada pihak ketiga (misalnya Pemuda Pancasila, Laskar Jihad, FPI, dst) melalui makelar, kemudian makelarnya dibinasakan. Sebagai contoh, kasus dukun santet di Banyuwangi; otaknya di Jkt (pada umumnya petinggi RPKAD), pelaksananya preman2 luar Jkt dan luar Bwi; setelah sukses, makelarnya dihabisin, sehingga benang merah koneksi antara otak di Jkt dan pelaksana di BWI terputus; jadilah kasus itu sekedar kasus lokal, pejabat busuk di Jkt seolah-olah tidak terlibat. Kembali agama hanya jadi sekedar bulan2an para oknum pembesar AD/POLRI di Cilangkap dan di BIN. Bunuhmembunuh bangsa sendiri adalah kebiasaan regim Soeharto bersama para oknum jendral TNI AD/POLRI, ingat saja kasus pembunuhan massa PKI yang mencapai lebih dari 500 ribu jiwa.

- dst.

Kemunduran Indonesia

Dari berbagai referensi digital yang dengan mudah dikumpulkan lewat internet, maka dapat ditarik kesimpulan  Penyebab Utama Bangsa Indonesia Sulit Maju:

-           Pakar budaya dunia menandaskan bahwa Indonesia sedang (2020) mengalami Penjajahan Budaya oleh Arab Saudi. Islam yang dikenalkan oleh Muhammad sangat khas/unik Arab dan tidak universal. Islam bertujuan mengatur segala aspek kehidupan dan bernegara, berbahasa, berpakaian, makanan halal haram, berjanggut, nikah dan cerai, berhubungan sex, per bank an, dst. Bahkan Allah (Tuhan khas Arab) pun dipaksa hanya boleh berbahasa Arab. Jadi, Islam sungguh sangat kental dan khas dengan budaya Arab. Tidak ada Tuhan dan Nabi yang menciptakan agama (penjaran bagi Tuhan dan manusia) di dunia ini; hanya Tuhan dan nabi bangsa Arab yang berani “menciptakan nabi dan agama terakhir” (yang sangat tidak logis). Pakar agama modern klas dunia sulit menerima bahwa Islam adalah agama, lebih cocok disebut Cult bangsa Arab. Islamisasi dan Arabisasi adalah satu paket tak terpisahkan. Islamisasi dan Arabisasi menyebabkan bangsa Indonesia menjadi mabuk/mendem agama atau religion alcoholic (lawannya work alcoholic), akibatnya bangsa Indonesia dapat kehilangan akal sehat lalu menjadi emosional, ingin menang sendiri (yang lain dikafirkan), suka ritual agama ga suka kerja, suka kekerasan, kerusuhan dan suka menindas kearifan lokal (lokal konten), sebagai contoh aliran kepercayaan asli Indonesia tidak diakui dan tidak dicantumkan dalam KTP. Penjajahan dalam bidang budaya jauh lebih berbahaya dibanding penjajahan lainnya (ekonomi, teknologi, dst), karena yang terkena langsung adalah akal sehat atau otak atau pikiran bangsa. Sebagai negara dengan mayoritas Islam terbesar didunia, maka seperti lazimnya negara2 dibawah konferensi Islam (OKI) pada umumnya mundur dan amburadul dibanding negara non Islam.

-           Sistem ketata negaraan Indonesia menjadi sangat sulit lepas dari Islamisasi dan Arabisasi, sehingga sulit dibebaskan dari carut marut sistim perpolitikan mengingat Islam itu ideologi politik yang berbaju agama. Dunia maju dan modern sudah sekuler (memisahkan negara dan agama), dan menganggap agama bukan karya Tuhan melainkan karya manusia demi hegemoni kekuasaan dan uang. Agama sudah dianggap penjara sempit bagi Tuhan dan bagi manusia dan sering menjadi sumber keributan, pertikaian, permusuhan, pemberontakan bahkan pertempuran untuk pemisahan negara (misal India-Pakistan-Bangladesh). Di negara maju dan modern, Agama sudah tidak boleh diajarkan sebagai mata pelajaran pendidikan di sekolah negeri, sebab dianggap terlalu abstrak (surga neraka malaikat setan) dan bersifat hubungan privat vertikal (individu dan Tuhannya di surga), jadi pendidikan agama diserahkan ke keluarga. Yang wajib diajarkan di sekolah negeri dan swasta adalah budi pekerti karena sifatnya yang hubungan horisontal (individu dengan sesama individu, dengan alam, dengan hewan, dengan lingkungannya). Para cerdik pandai di negara maju banyak memakai konsep “Bertuhan tanpa beragama”, jiwa Kristiani sudah tertanam dalam di hati mereka melalui kitab suci dan keluarga dan gereja. Karena agama dianggap beban dan suka menangnya sendiri, serta adanya kebebasan penuh untuk manusia memilih filosofi hidup, maka agama menjadi kurang laku, gereja menjadi sepi dan bangkrut, namun ajaran Kristen tetap mendasari sebagian besar bangsa modern itu. Sebaliknya di negara Islam, selain Islam tidak boleh tumbuh dan berkembang, kebebasan individu tidak ada, pilihan hidup sebagai atheis, tidak beragama atau agnostik tidak diperkenankan. Bagaimana dengan Indonesia? Silahkan merasakan sendiri dan menjustifikasi.

-           Organisasi pemerintah yang paling rapi,besar, berdisiplin dan bersenjata yaitu TNI AD dan Kepolisian masih belum professional, masih ada yang hobi berimprovisasi dan berambisi pada politik dan bisnis, sehingga sulit diharapkan untuk menjadi benteng keamanan dan menjadi lawan utama dunia hitam dalam membela bangsa Indonesia. Nampaknya Esprit de Corps (setia kawan, almamaterisme AKABRI) diantara para Jenderal masih begitu tinggi, kadang2 terasa kepentingan bangsa lebih di nomor duakan. Tentara dan Polisi dapat ditunggangi dan menjadi senjata ampuh oleh kepentingan negara maju dan pintar seperti Amerika Serikat (misal lewat CIA dan organisasi per bank an) untuk menjajah negara berkembang. Fakta2 tentang pengaruh USA lewat Tentara, Polisi dan jasa keuangan di negara Amerika Latin, Afrika dan Asia dapat dibaca di banyak artikel berbobot di internet.

-           Budaya Jawa yang bersifat abu2 – kurang tegas terhadap hitam putih (“ngono yo ngono ning ojo ngono”, atau banyak bosa basi, atau kurang serius) ikut menghambat tegaknya keadilan, kejujuran dan kebenaran di Indonesia. Budaya Jawa bagus sekali untuk perekat bangsa, namun perlu direformasi untuk good governance. Sifat negatip suka mempersulit orang lain (“Kalau bisa dipersulit kenapa harus dipermudah”), dan sifat iri, srei, dan dengki yang masih tebal ikut menghambat kemajuan Indonesia.

Demikian sedikit ulasan tentang faktor2 utama carut marut bangsa Indonesia yang sangat berpengaruh pada kemajuan dan kemakmuran bangsa, silahkan dikritisi.

 

Penutup

 

Senjata utama regim Soeharto (ORBA plus penerusnya) adalah: politisasi agama, money politics (terutama untuk membeli: ulama, ilmuwan kampus, dan anggota Parpol lain), penyusupan ke partai2 lain, pembentukan jaring mafia yang bagai multi level marketing (MLM) - dari Jakarta s/d pelosok desa, dan mendominasi mass media terutama televisi! Selain itu, mereka membutuhkan dukungan dari kelompok Militer dan POLRI dan negara adidaya; hal ini menjadikan betapa sulitnya mereformasi ABRI dan POLRI (karena politik identik dengan kekuasaan dan harta yang berlimpah)! Semua senjata ORBA ini bersifat merusak kehidupan berbangsa dan bernegara, serta daya rusaknya maha hebat (melebihi jaman penjajahan Belanda) dan berjangka panjang (antar generasi)! Regim Soeharto adalah sumber dari segala sumber malapetaka Indonesia (bagaikan Hitler bagi Jerman), dengan strategi yang amat indah namun licik, beliau dan kroninya dapat membelokan/menipu reformasi, dan kini beliau dengan kroni-kroninya menikmati hidup dengan aman, tentram dan sejahtera ditengah bangsanya yang miskin dan banyak menganggur! Sepandai-pandainya begawan politik Soeharto beserta regimnya (para mantan jendral TNI AD), namun politisi USA jauh lebih piawai dari mereka, terbukti hubungan USA-Indonesia mulai 1965 s/d sekarang adalah bagaikan tuan dan jongosnya, USA memegang kartu truf/as atas kehormatan palsu para mantan jendral TNI AD itu, sebab negara Indonesia telah mereka (Soeharto dkk.) gadaikan kepada negara adidaya, kemudian mereka dengan tega menipu para pelajar dengan sejarah palsu demi menyembunyikan kejahatan terbesar mereka – yang menyebabkan Indonesia mengalami berbagai krisis hingga sekarang. Ternyata Indonesia hanya dijadikan sekedar tumbal cacat hati nurani para jendral TNI AD – jongos politikus USA! Dan para mantan jendral itu sekarang menyusup di jantung hati setiap parpol, menguasai politik bangsa, tidak mengherankan Indonesia bagaikan mengidap tumor besar atau bahkan penyakit kangker.

 

Ajaran yang dapat dipetik dari Begawan Politik Soeharto adalah: pertama susupi dan tunggangi, kedua kalau menipu jangan tanggung-tanggung: tipulah bangsamu – bahkan kalau bisa, tipulah Tuhanmu melalui politisasi agama. Semoga ajaran beliau ini cepat berlalu seiring dengan akan cepat berlalunya dia. Hai anak muda Indonesia, bangkit dan luruskanlah arah sejarah dan perjuangan bangsamu!

 

Rahayu. Ki Megatruh, Pernah ditapolkan di Nusakambangan oleh Soeharto

Tidak ada komentar:

Posting Komentar