Pakar Filsafat, Budaya, Sejarah dan Agama level internasional menandaskan bahwa Al Qouran (AQ) itu amburadul mengingat materi didalamnya yang: tidak teratur dan berurutan, makna antar ayat yang saling bertentangan (inkosistensi), kutipan yang salah dari kitab lain, tidak ada jami danan bagi Muslim untuk hidup kekal di surga dalam AQ, dan karya Tuhan ternyata tidak sempurna karena masih memerlukan penjelasan dari karya manusia (hadis). Dari sisi sejarah, AQ ditulis 200 tahun setelah Muhammad meninggal, jadi itidak ada bukti dan saksi mata untuk kebenaran AQ. Isi AQ bagaikan kutipan dari kutipan: kutipan Si A dari kutipan B, si B dari kutipan C, dst. AQ asli tidak pernah diketemukan dan diseluruh dunia ditemukan banyak versi yang berbeda dari AQ. Dari pengamatan, nampak bahwa umat Islam tidak pernah membawa AQ ketika di Masjid atau ketika menghadiri ceramah, terkesan mereka bagaikan sekedar hanya mendengarkan lawakan, ini sangat beda dengan umat Kristen yang boleh dikata tidak pernah lepas dari buku kitab suci mereka dalam acara keagamaan. Kata pakar agama, penyebab utama adalah minimnya kemampuan berbahasa Arab, mengingat Tuhan Islam yang secara khas berbudaya dan berbahasa Arab. Dari berbagai video debat di Youtube, misalnya Intelligent square debate, Bill Warner, Christian Prince, Paul Zhang, Sang Debater, Para Murtadin dan Mualaf, dst., nampak ada jurus Taqiya (bohong, tidak jujur) dalam debat agama yang dilakukan oleh kelompok Muslim. Berikut ini strategi Muslim dalam berdebat agama dengan memakai jurus bersilat lidah dan taqiya (berbohong) sebagai hasil pengamatan yang lama di Youtube:
-
Filosofi “Buruk Muka Cermin Dibelah”. Materi Islam dalam Al Qouran adalah
bagaikan “garbage in garbage out” (Christian Prince) mengingat banyak ditemukan
salah urut, salah kutip, salah teks, kontradiksi, dan inkonsistensi. Pihak
Muslim sering kehilangan kepercayaan diri bila ditanya, maka jurus kelitnya
pertanyaan balas dijawab pertanyaan: “Menjawab pertanyaan yang sulit dijawab
justru dengan pertanyaan yang tidak ada kaitannya ( Buruk Muka Cermin
Dibelah)”.
-
Interprestasi ayat2 Al Qouran yang bervariasi dan tergantung pada siapa
pembicara dan pembacanya, serta sulit obyektip. Jawaban video antar pakar Islam
dalam debat sering kontradiksi. Mengheranka,nampak bahwa buku Karya Allah (Al
Qouran) berantakan dan membingungkan, maka perlu dinterprestasi oleh buku karya
manusia (Hadits) yang sering berbeda isinya. Dan dalam debat terungkap bahwa Al
Qouran ditulis oleh manusia dalam banyak versi.
-
Strategi berbohong (taqiya) dalam berdebat yang menghasilkan Lingkaran
Kebohongan (taqiya circle) yang pada akhirnya hanya menghasilkan kebohongan
(serupa dengan lingkaran setan atau vicious circle). Berdebat bukan
mengutamakan kebenaran melainkan pembenaran ketidak benaran teks2 dalam Al
Qouran.
-
Topik perdebatan yang loncat sana sini sambil menghindari kesalahan Al Qouran
(taktik Cherry Picking: memilih buah yang baik, menghindari buah yang busuk).
-
Mengkaitkan ayat2 Al Qouran dengan Science, ini menjadi lucu sekali! Bagaikan
humor ala Arabia. Kalau ada yang bersedia menerbitkan buku dengan judul “Mati
Ketawa ala Arab: Al Qouran mendasari Science ” pasti laku keras, karena lucu
sekali! Upaya Islamisasi ilmu pengetahuan bagaikan menghubungkan sebuah buku
sejarah pahlawan negara dengan teori2 nuklir atau teori2 terjadinya otak
manusia, yang jelas2 tidak ada hubungannya. Banyak berita picisan dan tidak
benar yang sengaja dibuat untuk dakwah di internet dan YouTube, misalnya
Astronout mendengar suara azan di ruang angkasa, kapal nabi Nuh, candi
borobudur di buat nabi Islam, Diponegoro kalifah Islam, dst.
-
Karena Islam sangat khas Arab dan tidak universal dimana Allah, Surga, dunia
dan Kitab Suci berbahasa Arab, maka bila pihak Muslim tersudut, debat sering
dialihkan ke debat pemahaman bahasa Arab agar pihak Kristen terkesan kalah.
Dari deabat, terkesan Islamisasi dan Arabisasi adalah satu paket yang tak
terpisahkan demi kepentingan ekonomi dan dominasi budaya Arab,
-
Bagi umat Islam, ajaran Muhammad harus diterima sepenuhnya dan tidak boleh
diperdebatkan, maka para pendebat dari Muslim bagaikan corong Muhammad, akal
sehat dikesampingkan. Adanya ancaman bagi yang memperdebatkan ayat2 Al Qouran
menjadikan pendebat Muslim berkarakter: “Pokoke pejah gesang nderek Muhammad”.
-
Adanya ancaman hukuman berat bagi pengkritik agama Islam lewat UU Penodaan
Agama (UUPA). Para debaters dari sisi non Islam harus ekstra hati2 supaya tidak
terjerat UUPA saat melakukan debat. Debat Islam vs Kristen lalu bagaikan sabung
ayam dengan ayam yang satu diikat kakinya (Kristen) dan ayam yang lain
dibiarkan bebas bahkan kakinya diberi silet, jadi debat yang sangat berat
sebelah; untunglah ada debat digital di internet yang bebas dari perangkap
ganas terhadap akal sehat yang kritis.
-
Dalam debat, Muslim sering menggunakan strategi “Islam sebagai korban bukan
aktor” untuk menyembunyikan kebenaran sejati; misalnya : a. Peristiwa 911 (Twin
Tower New York), itu akibat Islam diserbu (penyerbuan USA ke Irak), b. Kartun
Muhammad itu karena Islam dihina, c. Gerakan 212 dan KAMI, mereka merasa Islam
di jaili (walaupun di negara Islam terbesar), dst.
- Prinsip Faith is Blind (mirip Love is Blind)
yang ditanamkan sejak kecil melalui Brain Washing Islam di pesantren, madrasah
atau pondok, ditambah aturan maut: tidak boleh mempertanyakan ajaran Muhammad;
bagi yang murtad dikucilkan, atau orang tua/keluarga boleh melakukan honor
killing, atau dihukum mati menjadikan kebekuan berpikir bagi Muslim yang
akhirnya debat hanya sekitar topik itu2 saja yang membosankan dan jawaban bisa
ditebak.
Disamping
strategi debat diatas, mengingat lemahnya AQ, maka Tuhan Islam beserta Kitab
Sucinya perlu dibela dengan strategi:
1. Menuduh
kitab suci agama (Injil) lain palsu tanpa dapat membuktikan dan sekaligus
melarang membaca dan mempelajari Injil agar tidak tahu kebenaran sesungguhnya
yang bisa berakhir jadi murtad.
2. Berupaya
membesar-besarkan Muhammad dan mengecilkan Isa Almasih dengan jurus pelintiran
kata/taqiya tanpa ada perasaan malu. Padahal kedudukan Isa jauh lebih tinggi
dari pada Muhammad di dalam AQ.
3. Menghukum Muslim yang murtad melalui
pengucilan, honor killing dan bahkan hukuman mati.
4. Dinegara asal Islam, kebebasan beragama dilarang,
agama non Islam dilarang tumbuh dan berkembang.
5. Dibuatkan benteng kokoh berupa
undang-undang penodaan agama untuk menjerat dan menghukum siapa saja yang
kritis terhadap Islam.
6. Membombardir internet dengan
tulisan-tulisan dan iklan yang sulit dipercaya melalui jurus Islamisasi ilmu pengetahuan, misalnya
Astronout mendengar suara azan di ruang angkasa, kapal nabi Nuh, candi
borobudur di buat nabi Islam, Diponegoro adalah khilafah Turki, dst. Dengan
demikian, seseorang yang search artikel di google akan kesulitan menemukan apa
yang dicari karena tertimbun artikel sampah yang key words nya serupa.
7. Masuk Islam sangat gampang – cukup 1
kalimat syahadat, keluar Islam sangat sulit (lihat rintangan diatas). Pakar
filsafat dan budaya internasional membuat kata mutiara sebagai berikut:”Islam
bagaikan manusia yang punya mulut namun tidak punya dubur: gampang masuk, sulit
sekali keluar!
Sebagai penutup, pepatah bijak mengatakan bahwa: ”Agama adalah
penjara sempit bagi manusia dan Tuhan, Agama adalah buatan manusia, dan Agama
seringkali menjadi sumber pertikaian, perpecahan bahkan pertempuran antar: manusia,
suku bahkan bangsa. Tuhan tidak berkenan terhadap agama. Manusia modern memilih
mencari Tuhan beserta kebenarannya dari pada mencari agama buatan manusia.
Yesus yang dianggap Tuhan pun tidak menciptakan agama, melainkan menetapkan
hukum-hukum utama bagi etika, moral dan kemanusiaan yang mengarahkan jiwa
manusia ke kehidupan kekal. Yesus
menyebutkan dua perintah utama yang menjadi landasan ajaran para nabi, yaitu:
Pertama, ”Engkau harus mengasihi Yehuwa, Allahmu, dengan segenap hatimu dan
dengan segenap jiwamu dan dengan segenap pikiranmu dan dengan segenap
kekuatanmu.” Kedua, Yesus mengatakan, ”Engkau harus mengasihi sesamamu seperti
dirimu sendiri.” Ajaran emas Yesus yang lain
yang sangat unik dan mencerminkan watak ketuhanan dalam diri Yesus adalah:
"Kamu telah mendenqar firman: Kasihilah sesamamu manusia dan bencilah
musuhmu. Tetapi Aku berkata kepadamu: Kasihilah musuhmu dan berdoalah bagi
mereka yang menganiaya kamu." Sebaliknya Muhammad mengatakan Allah
menciptakan Agama terakhir yang paling sempurna yang disebut Islam dengan
filosofi 5 IN 1 (Five in One): Islamisasi Tuhan, Arabisasi Agama, Politisasi
Agama, Bisnisisasi Agama, dan Bodohi dan Jajah Bangsa Terbelakang lewat agama
Islam. Tidak heran, dengan wajah dan karakter seperti diatas, Agama Islam
merupakan beban berat bagi bangsa Indonesia karena banyak menghabiskan
resources negara seperti: waktu, tenaga, biaya, dan pikiran. Patut disayangkan mengapa
para akademisi di kampus top (ITB, UI, UGM, dst.) yang bertitel Professor dan
Doktor acuh tak acuh dengan problema utama bangsa Indonesia diatas. Mohon artikel ini dijadikan bahan renungan dan
diskusi.
Rahayu. Sri Kresna . Penganut Kejawen, aktip dalam berbagai forum diskusi digital dan percaya pada ajaran Yesus yang baik yang menuntun ke kehidupan kekal dan bukan berbentuk agama. Tulisan ini diilhami oleh artikel berjudul “Clash of Civilizations - Mengapa Dunia Barat Melawan Pemikiran Islam”, tulisan berbasis pemikiran para filsuf kelas dunia di Jerman, di web site dengan alamat https://digitalmental.blogspot.com/ .
Tidak ada komentar:
Posting Komentar